BYD Kuasai 52 Persen Pasar EV, Pamer Teknologi e3 dan e4 yang Bisa Ubah Peta Industri
Rabu, 11 Februari 2026 - 18:35 WIB
loading...
A
A
A
Top speed yang dicapai bahkan menyentuh 496,2 km/jam—angka yang menempatkan U9 di kelas hypercar paling ekstrem di dunia. “Bahkan lebih cepat dibandingkan Kereta Cepat Whoosh,” beber Bobby.
Untuk menopang performa tersebut, e4 menggunakan struktur carbon fiber yang terintegrasi dengan carbon steel dan aluminium, kombinasi material ringan dan sangat kuat yang lazim digunakan di dunia balap profesional.
Cell-to-Body: Fondasi Keamanan dan Stabilitas
Baik e3 maupun e4 bertumpu pada teknologi Cell-to-Body (CTB). Berbeda dari EV konvensional, di mana baterai hanya ditempatkan di atas rangka, CTB menjadikan sel baterai sebagai bagian struktural dari bodi.
“Dengan CTB, baterai ikut memperkuat struktur platform,” kata Bobby.
Hasilnya, kekakuan torsional meningkat 32 persen. Dampak tabrakan frontal berkurang 15 persen, sementara tabrakan samping berkurang hingga 35 persen. Selain itu, CTB menurunkan center of gravity, meningkatkan stabilitas saat menikung dan melaju kencang.
Dengan menguasai 52 persen pasar EV nasional, BYD sebenarnya sudah berada di posisi aman. Namun keputusan untuk terus memperbarui teknologi—bahkan hingga level hypercar—menunjukkan strategi yang lebih agresif: membangun citra sebagai pemimpin teknologi, bukan sekadar juara penjualan.
Langkah ini penting di pasar seperti Indonesia, di mana persepsi kualitas dan teknologi masih menjadi faktor penentu adopsi EV. Dengan e-Platform 3.0, e3, dan e4, BYD menyusun spektrum teknologi lengkap—dari mobil harian hingga kendaraan performa ekstrem.
“Era baru ke depan adalah era teknologi elektrifikasi,” kata Luther Panjaitan. “Dan kami ingin informasi yang sampai ke konsumen itu clear dan komprehensif.”
Jika strategi ini konsisten, BYD tidak hanya akan mempertahankan dominasinya di pasar, tetapi juga mengubah persepsi tentang kendaraan listrik: bukan sekadar alat transportasi efisien, melainkan mesin berteknologi tinggi.
Untuk menopang performa tersebut, e4 menggunakan struktur carbon fiber yang terintegrasi dengan carbon steel dan aluminium, kombinasi material ringan dan sangat kuat yang lazim digunakan di dunia balap profesional.
Cell-to-Body: Fondasi Keamanan dan Stabilitas
![BYD Kuasai 52 Persen Pasar EV, Pamer Teknologi e3 dan e4 yang Bisa Ubah Peta Industri]()
Baik e3 maupun e4 bertumpu pada teknologi Cell-to-Body (CTB). Berbeda dari EV konvensional, di mana baterai hanya ditempatkan di atas rangka, CTB menjadikan sel baterai sebagai bagian struktural dari bodi.
“Dengan CTB, baterai ikut memperkuat struktur platform,” kata Bobby.
Hasilnya, kekakuan torsional meningkat 32 persen. Dampak tabrakan frontal berkurang 15 persen, sementara tabrakan samping berkurang hingga 35 persen. Selain itu, CTB menurunkan center of gravity, meningkatkan stabilitas saat menikung dan melaju kencang.
Dengan menguasai 52 persen pasar EV nasional, BYD sebenarnya sudah berada di posisi aman. Namun keputusan untuk terus memperbarui teknologi—bahkan hingga level hypercar—menunjukkan strategi yang lebih agresif: membangun citra sebagai pemimpin teknologi, bukan sekadar juara penjualan.
Langkah ini penting di pasar seperti Indonesia, di mana persepsi kualitas dan teknologi masih menjadi faktor penentu adopsi EV. Dengan e-Platform 3.0, e3, dan e4, BYD menyusun spektrum teknologi lengkap—dari mobil harian hingga kendaraan performa ekstrem.
“Era baru ke depan adalah era teknologi elektrifikasi,” kata Luther Panjaitan. “Dan kami ingin informasi yang sampai ke konsumen itu clear dan komprehensif.”
Jika strategi ini konsisten, BYD tidak hanya akan mempertahankan dominasinya di pasar, tetapi juga mengubah persepsi tentang kendaraan listrik: bukan sekadar alat transportasi efisien, melainkan mesin berteknologi tinggi.
(dan)
Lihat Juga :