88 Persen Konsumen Pro-EV, tapi Satu Colokan SPKLU Harus Diperebutkan 34 Mobil Listrik
Kamis, 26 Februari 2026 - 05:08 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan data proyeksi pertumbuhan pasar, populasi mobil listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia yang menyentuh angka hampir 100.000 unit pada akhir 2025, diperkirakan akan meledak secara eksponensial menjadi 163.764 unit pada tahun 2026.
Mari kita hitung rasio kesiapannya secara logis. Per awal Februari 2026, total Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh Indonesia baru mencapai angka 4.778 unit.
Jika kita membagi proyeksi 163.764 unit BEV saja dengan 4.778 unit SPKLU, kita akan mendapati rasio yang sangat mengkhawatirkan: 1 berbanding 34.
Artinya, satu unit colokan SPKLU di Indonesia harus menanggung beban antrean dari 34 unit mobil listrik.
Angka ini sangat jauh dari rasio ideal global yang menyarankan angka 1:10 demi kenyamanan mobilitas harian.
Memperburuk keadaan, sebaran 4.778 unit SPKLU tersebut tidak merata, melainkan terpusat secara absolut di Pulau Jawa, disusul oleh Sumatera dan Bali. Bagi konsumen di luar ketiga pulau tersebut, memiliki BEV murni masih menjadi pertaruhan mobilitas yang berisiko tinggi.
Interim Managing Director Inchcape Indonesia, Bagus Susanto, membaca kegelisahan pasar ini dengan jernih. “Tingkat sentimen positif sebesar 88 persen mencerminkan kepercayaan publik terhadap arah elektrifikasi,” papar Bagus.
Pernyataan tersebut divalidasi oleh temuan survei Inchcape: 68 persen konsumen masih tertahan oleh faktor harga, 40 persen mengkhawatirkan daya tahan baterai, dan 34 persen menjadikan keterbatasan infrastruktur pengisian daya sebagai rintangan utama.
Mari kita hitung rasio kesiapannya secara logis. Per awal Februari 2026, total Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh Indonesia baru mencapai angka 4.778 unit.
Jika kita membagi proyeksi 163.764 unit BEV saja dengan 4.778 unit SPKLU, kita akan mendapati rasio yang sangat mengkhawatirkan: 1 berbanding 34.
Artinya, satu unit colokan SPKLU di Indonesia harus menanggung beban antrean dari 34 unit mobil listrik.
Angka ini sangat jauh dari rasio ideal global yang menyarankan angka 1:10 demi kenyamanan mobilitas harian.
Memperburuk keadaan, sebaran 4.778 unit SPKLU tersebut tidak merata, melainkan terpusat secara absolut di Pulau Jawa, disusul oleh Sumatera dan Bali. Bagi konsumen di luar ketiga pulau tersebut, memiliki BEV murni masih menjadi pertaruhan mobilitas yang berisiko tinggi.
Interim Managing Director Inchcape Indonesia, Bagus Susanto, membaca kegelisahan pasar ini dengan jernih. “Tingkat sentimen positif sebesar 88 persen mencerminkan kepercayaan publik terhadap arah elektrifikasi,” papar Bagus.
Pernyataan tersebut divalidasi oleh temuan survei Inchcape: 68 persen konsumen masih tertahan oleh faktor harga, 40 persen mengkhawatirkan daya tahan baterai, dan 34 persen menjadikan keterbatasan infrastruktur pengisian daya sebagai rintangan utama.
Lihat Juga :