China Ngebut, Jepang Bertahan, Eropa Ragu: Nasib Mobil Hidrogen Terpecah
Selasa, 14 April 2026 - 18:43 WIB
loading...
Mobil hidrogen menghadapi penurunan penjualan global, tetapi tetap bertahan sebagai solusi untuk transportasi berat dan industri. Foto: Hyundai Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Di tengah euforia kendaraan listrik baterai, mobil hidrogen justru menunjukkan tren sebaliknya—penjualannya menurun di berbagai pasar utama dunia sepanjang 2025.
Data global mencatat penjualan kendaraan hidrogen berbasis fuel cell (FCEV) turun 27,2 persen pada paruh pertama 2025, dengan total hanya 4.102 unit.
Angka ini memperlihatkan bahwa teknologi yang pernah digadang sebagai solusi masa depan masih belum menemukan momentum pasar.
Penurunan ini terjadi di hampir semua wilayah utama, termasuk Eropa, Jepang, hingga Amerika Serikat. Bahkan di Jerman, salah satu negara industri otomotif terbesar, hanya 49 mobil hidrogen yang terdaftar sepanjang 2025—turun 69 persen dibanding tahun sebelumnya, jauh tertinggal dari sekitar 545.000 mobil listrik berbasis baterai.
Masalah utama bukan pada teknologinya, tetapi pada ekosistem.
Infrastruktur pengisian hidrogen masih sangat terbatas. Di banyak negara, stasiun pengisian hanya tersedia di lokasi tertentu, seperti California di Amerika Serikat.
Bahkan di Jerman, jumlah stasiun hidrogen turun dari sekitar 80 menjadi sedikit di atas 50, dan banyak di antaranya tidak menguntungkan secara bisnis.
Selain itu, efisiensi energi juga menjadi sorotan. Hidrogen harus diproduksi dari listrik—kemudian dikompresi, disimpan, dan dikonversi kembali menjadi energi di kendaraan. Proses berlapis ini membuat efisiensinya lebih rendah dibanding kendaraan listrik baterai.
Namun, tidak semua negara mengambil pendekatan yang sama.
China justru mempercepat pengembangan hidrogen sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang. Pemerintah menargetkan 100.000 kendaraan hidrogen beroperasi pada 2030, naik dari sekitar 40.000 unit pada akhir 2025.
Infrastruktur juga diperkuat dengan 574 stasiun pengisian dan kapasitas harian lebih dari 360 ton.
Untuk mendorong ekosistem, pemerintah menyiapkan insentif hingga 1,6 miliar yuan atau sekitar Rp27,2 triliun per klaster kota dalam empat tahun.
Target lain adalah menekan harga hidrogen hingga di bawah 25 yuan per kilogram atau sekitar Rp425.000 per kg, bahkan 15 yuan atau sekitar Rp255.000 di wilayah tertentu.
Menurut Lin Boqiang, hidrogen adalah teknologi yang “tidak bisa diabaikan” dalam transisi energi, terutama untuk menjaga ketahanan energi jangka panjang.
Sementara itu, Jepang tetap konsisten, meski dalam skala terbatas. Penjualan mobil hidrogen memang kecil—dari 202 unit pada 2023 menjadi 440 unit pada 2024—tetapi dukungan pemerintah tetap kuat. Jepang bahkan mengalokasikan 46 miliar yen untuk subsidi truk dan bus hidrogen, serta menargetkan 1.000 stasiun pengisian pada 2030.
Di Korea Selatan, pertumbuhan lebih banyak ditopang model seperti Hyundai Nexo yang menjadi tulang punggung pasar domestik.
Berbeda dengan Asia, Eropa mulai mengoreksi arah. Produsen seperti Mercedes-Benz meminta Uni Eropa tidak hanya fokus pada mobil listrik baterai,
tetapi juga membuka ruang untuk hidrogen, hybrid, dan bahan bakar sintetis.
Di Amerika Serikat, strategi lebih pragmatis. Pemerintah tidak memprioritaskan mobil hidrogen untuk konsumen, tetapi fokus pada sektor berat seperti truk jarak jauh, bus, dan industri.
Targetnya jelas: menekan biaya hidrogen hingga mendekati USD1 per kg atau sekitar Rp17.000 dalam satu dekade.
Dari semua pendekatan tersebut, terlihat satu pola yang konsisten: hidrogen lebih relevan untuk kendaraan niaga.
Truk, bus, dan kendaraan logistik memiliki kebutuhan berbeda dengan mobil pribadi. Mereka membutuhkan jarak tempuh panjang, waktu pengisian cepat, dan operasional terus-menerus—hal yang sulit dipenuhi baterai tanpa kompromi berat dan waktu charging.
Selain itu, armada komersial biasanya beroperasi di rute tetap, sehingga pembangunan infrastruktur hidrogen bisa lebih terpusat dan efisien.
Sebaliknya, untuk mobil penumpang, tantangannya lebih kompleks. Konsumen membutuhkan jaringan luas, harga terjangkau, dan kemudahan penggunaan—sesuatu yang saat ini lebih mudah dipenuhi oleh mobil listrik baterai.
Dengan kondisi ini, masa depan kendaraan hidrogen tidak sepenuhnya suram, tetapi juga tidak secepat yang pernah diprediksi.
Hidrogen kemungkinan besar tidak akan menjadi solusi utama untuk mobil pribadi dalam waktu dekat. Namun, ia tetap memiliki peran penting di sektor transportasi berat dan industri.
Masalahnya, tanpa terobosan besar dalam biaya dan infrastruktur, teknologi ini akan tetap berada di pinggiran pasar otomotif global.
Data global mencatat penjualan kendaraan hidrogen berbasis fuel cell (FCEV) turun 27,2 persen pada paruh pertama 2025, dengan total hanya 4.102 unit.
Angka ini memperlihatkan bahwa teknologi yang pernah digadang sebagai solusi masa depan masih belum menemukan momentum pasar.
Penurunan ini terjadi di hampir semua wilayah utama, termasuk Eropa, Jepang, hingga Amerika Serikat. Bahkan di Jerman, salah satu negara industri otomotif terbesar, hanya 49 mobil hidrogen yang terdaftar sepanjang 2025—turun 69 persen dibanding tahun sebelumnya, jauh tertinggal dari sekitar 545.000 mobil listrik berbasis baterai.
Masalah utama bukan pada teknologinya, tetapi pada ekosistem.
Infrastruktur pengisian hidrogen masih sangat terbatas. Di banyak negara, stasiun pengisian hanya tersedia di lokasi tertentu, seperti California di Amerika Serikat.
Bahkan di Jerman, jumlah stasiun hidrogen turun dari sekitar 80 menjadi sedikit di atas 50, dan banyak di antaranya tidak menguntungkan secara bisnis.
Selain itu, efisiensi energi juga menjadi sorotan. Hidrogen harus diproduksi dari listrik—kemudian dikompresi, disimpan, dan dikonversi kembali menjadi energi di kendaraan. Proses berlapis ini membuat efisiensinya lebih rendah dibanding kendaraan listrik baterai.
Namun, tidak semua negara mengambil pendekatan yang sama.
China justru mempercepat pengembangan hidrogen sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang. Pemerintah menargetkan 100.000 kendaraan hidrogen beroperasi pada 2030, naik dari sekitar 40.000 unit pada akhir 2025.
Infrastruktur juga diperkuat dengan 574 stasiun pengisian dan kapasitas harian lebih dari 360 ton.
Untuk mendorong ekosistem, pemerintah menyiapkan insentif hingga 1,6 miliar yuan atau sekitar Rp27,2 triliun per klaster kota dalam empat tahun.
Target lain adalah menekan harga hidrogen hingga di bawah 25 yuan per kilogram atau sekitar Rp425.000 per kg, bahkan 15 yuan atau sekitar Rp255.000 di wilayah tertentu.
Menurut Lin Boqiang, hidrogen adalah teknologi yang “tidak bisa diabaikan” dalam transisi energi, terutama untuk menjaga ketahanan energi jangka panjang.
Sementara itu, Jepang tetap konsisten, meski dalam skala terbatas. Penjualan mobil hidrogen memang kecil—dari 202 unit pada 2023 menjadi 440 unit pada 2024—tetapi dukungan pemerintah tetap kuat. Jepang bahkan mengalokasikan 46 miliar yen untuk subsidi truk dan bus hidrogen, serta menargetkan 1.000 stasiun pengisian pada 2030.
Di Korea Selatan, pertumbuhan lebih banyak ditopang model seperti Hyundai Nexo yang menjadi tulang punggung pasar domestik.
Berbeda dengan Asia, Eropa mulai mengoreksi arah. Produsen seperti Mercedes-Benz meminta Uni Eropa tidak hanya fokus pada mobil listrik baterai,
tetapi juga membuka ruang untuk hidrogen, hybrid, dan bahan bakar sintetis.
Di Amerika Serikat, strategi lebih pragmatis. Pemerintah tidak memprioritaskan mobil hidrogen untuk konsumen, tetapi fokus pada sektor berat seperti truk jarak jauh, bus, dan industri.
Targetnya jelas: menekan biaya hidrogen hingga mendekati USD1 per kg atau sekitar Rp17.000 dalam satu dekade.
Dari semua pendekatan tersebut, terlihat satu pola yang konsisten: hidrogen lebih relevan untuk kendaraan niaga.
Truk, bus, dan kendaraan logistik memiliki kebutuhan berbeda dengan mobil pribadi. Mereka membutuhkan jarak tempuh panjang, waktu pengisian cepat, dan operasional terus-menerus—hal yang sulit dipenuhi baterai tanpa kompromi berat dan waktu charging.
Selain itu, armada komersial biasanya beroperasi di rute tetap, sehingga pembangunan infrastruktur hidrogen bisa lebih terpusat dan efisien.
Sebaliknya, untuk mobil penumpang, tantangannya lebih kompleks. Konsumen membutuhkan jaringan luas, harga terjangkau, dan kemudahan penggunaan—sesuatu yang saat ini lebih mudah dipenuhi oleh mobil listrik baterai.
Dengan kondisi ini, masa depan kendaraan hidrogen tidak sepenuhnya suram, tetapi juga tidak secepat yang pernah diprediksi.
Hidrogen kemungkinan besar tidak akan menjadi solusi utama untuk mobil pribadi dalam waktu dekat. Namun, ia tetap memiliki peran penting di sektor transportasi berat dan industri.
Masalahnya, tanpa terobosan besar dalam biaya dan infrastruktur, teknologi ini akan tetap berada di pinggiran pasar otomotif global.
(dan)
Lihat Juga :