Kucurkan Rp 1,3 Triliun, Toyota Gandeng Raja Baterai Dunia CATL di Karawang
Selasa, 21 April 2026 - 11:51 WIB
loading...
Toyota Indonesia memperkuat posisinya dalam rantai pasok global dengan investasi Rp1,3 triliun untuk melokalisasi produksi sel baterai kendaraan hibrida. Foto: TMMIN
A
A
A
JAKARTA - Toyota genap berusia 55 tahun di Indonesia. Mereka tidak merayakannya dengan seremoni biasa. Mereka memilih menanamkan modal baru: Rp 1,3 triliun.
Uang sebesar itu bukan untuk membangun diler baru. Tujuannya lebih dalam: memproduksi sel baterai di Karawang.
Toyota menggandeng pemain nomor satu dunia, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL). Fokusnya adalah melokalisasi produksi baterai untuk kendaraan hibrida (Hybrid Electric Vehicle/HEV).
Selama ini, komponen sel dan modul baterai masih banyak didatangkan dari luar negeri. Nanti tidak lagi. SDM Indonesia yang akan merakitnya langsung di pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Karawang.
"Kerja sama ini memperdalam lokalisasi baterai sel dan modul. Kita ingin mengurangi ketergantungan impor," kata Nandi Julyanto, Presiden Direktur TMMIN.
![Kucurkan Rp 1,3 Triliun, Toyota Gandeng Raja Baterai Dunia CATL di Karawang]()
Baterai-baterai ini akan ditanam ke "tulang punggung" Toyota saat ini: Kijang Innova Zenix HEV, Veloz HEV, dan Yaris Cross HEV.
Data Gaikindo sepanjang tahun 2025 bicara jujur. Pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia meledak 71 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Totalnya mencapai 177.367 unit.
Dari jumlah tersebut, mobil hibrida (HEV) adalah penguasa mutlak. Sekitar 76,5 persen atau 97.462 unit kendaraan elektrifikasi yang diproduksi di tanah air adalah jenis hibrida. Artinya, konsumen Indonesia masih lebih percaya pada kombinasi mesin bensin dan motor listrik.
Toyota sadar betul akan hal itu. Strategi mereka harus multipathway. Tidak bisa cuma satu jenis. Mereka menyediakan hibrida (HEV), hibrida colok (PHEV), listrik murni (BEV), hidrogen (FCEV), sampai kendaraan peminum bioetanol (FFV).
Targetnya besar: Net Zero Emission 2060.
Bob Azam, Wakil Presiden Direktur TMMIN, menyebut ini sebagai transformasi bertahap. Pemasok lokal yang dulu cuma bikin radiator atau knalpot, kini diajak ikut memproduksi komponen kendaraan listrik.
Saat ini ada 240 pemasok lapis pertama (tier 1) dan 520 pemasok lapis dua serta tiga yang terlibat. Ekosistem ini menghidupi 360.000 tenaga kerja. Ini industri padat karya yang sangat besar.
Investasi Rp1,3 triliun untuk baterai ini adalah bagian dari total Rp100 triliun yang sudah dikucurkan Toyota selama 55 tahun di Indonesia. Hasilnya nyata: produksi kumulatif 10 juta unit kendaraan Toyota dan 14 juta unit untuk Toyota Group.
Langkah paling berani akan terjadi pada paruh kedua 2026. TMMIN berencana mulai mengekspor baterai ke pasar global. Indonesia tidak lagi sekadar pasar, tapi jadi basis produksi dan ekspor baterai pertama Toyota di Asia Tenggara.
Secara industri, ini adalah langkah besar. Di tengah persaingan teknologi yang ketat, melokalisasi komponen paling mahal—yakni baterai—adalah satu-satunya cara untuk tetap kompetitif. Pilihan yang masuk akal demi menjaga dominasi di pasar domestik sekaligus menembus pasar dunia.
Uang sebesar itu bukan untuk membangun diler baru. Tujuannya lebih dalam: memproduksi sel baterai di Karawang.
Toyota menggandeng pemain nomor satu dunia, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL). Fokusnya adalah melokalisasi produksi baterai untuk kendaraan hibrida (Hybrid Electric Vehicle/HEV).
Selama ini, komponen sel dan modul baterai masih banyak didatangkan dari luar negeri. Nanti tidak lagi. SDM Indonesia yang akan merakitnya langsung di pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Karawang.
"Kerja sama ini memperdalam lokalisasi baterai sel dan modul. Kita ingin mengurangi ketergantungan impor," kata Nandi Julyanto, Presiden Direktur TMMIN.

Baterai-baterai ini akan ditanam ke "tulang punggung" Toyota saat ini: Kijang Innova Zenix HEV, Veloz HEV, dan Yaris Cross HEV.
Data Gaikindo sepanjang tahun 2025 bicara jujur. Pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia meledak 71 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Totalnya mencapai 177.367 unit.
Dari jumlah tersebut, mobil hibrida (HEV) adalah penguasa mutlak. Sekitar 76,5 persen atau 97.462 unit kendaraan elektrifikasi yang diproduksi di tanah air adalah jenis hibrida. Artinya, konsumen Indonesia masih lebih percaya pada kombinasi mesin bensin dan motor listrik.
Toyota sadar betul akan hal itu. Strategi mereka harus multipathway. Tidak bisa cuma satu jenis. Mereka menyediakan hibrida (HEV), hibrida colok (PHEV), listrik murni (BEV), hidrogen (FCEV), sampai kendaraan peminum bioetanol (FFV).
Targetnya besar: Net Zero Emission 2060.
Bob Azam, Wakil Presiden Direktur TMMIN, menyebut ini sebagai transformasi bertahap. Pemasok lokal yang dulu cuma bikin radiator atau knalpot, kini diajak ikut memproduksi komponen kendaraan listrik.
Saat ini ada 240 pemasok lapis pertama (tier 1) dan 520 pemasok lapis dua serta tiga yang terlibat. Ekosistem ini menghidupi 360.000 tenaga kerja. Ini industri padat karya yang sangat besar.
Investasi Rp1,3 triliun untuk baterai ini adalah bagian dari total Rp100 triliun yang sudah dikucurkan Toyota selama 55 tahun di Indonesia. Hasilnya nyata: produksi kumulatif 10 juta unit kendaraan Toyota dan 14 juta unit untuk Toyota Group.
Langkah paling berani akan terjadi pada paruh kedua 2026. TMMIN berencana mulai mengekspor baterai ke pasar global. Indonesia tidak lagi sekadar pasar, tapi jadi basis produksi dan ekspor baterai pertama Toyota di Asia Tenggara.
Secara industri, ini adalah langkah besar. Di tengah persaingan teknologi yang ketat, melokalisasi komponen paling mahal—yakni baterai—adalah satu-satunya cara untuk tetap kompetitif. Pilihan yang masuk akal demi menjaga dominasi di pasar domestik sekaligus menembus pasar dunia.
(dan)
Lihat Juga :