Kenapa BAIC Taruh Setengah Nasib 2026 di Tangan T1?
Kamis, 09 Juli 2026 - 19:21 WIB
loading...
BAIC T1 diproyeksikan menopang 50 persen penjualan BAIC Indonesia di 2026. Foto: BAIC Indonesia
A
A
A
ALAM SUTERA - BAIC baru dua tahun jualan di Indonesia, tapi data penjualannya menarik dijadikan bahan cerita.
BAIC soft launch Mei 2024 dengan hanya dua senjata: BJ40 Plus dan X55 II. Tahun pertama itu, penjualan ritel cuma 198 unit — wajar untuk pemain yang baru masuk delapan bulan terakhir tahun berjalan.
Angka wholesales Gaikindo untuk 2024 malah lebih kecil lagi, 296 unit sepanjang tahun, dengan komposisi sekitar 240-an unit BJ40 Plus dan 50 unit X55 II.
Masuk 2025, BAIC mulai jalan tapi tersendat. Kuartal pertama cuma 130 unit wholesales, dan sampai Januari-Februari cuma 72 unit wholesales, membuat BAIC nangkring di peringkat ke-32 merek terlaris versi Gaikindo.
COO BAIC Indonesia Dhani Yahya sendiri mengakui 2025 membawa tantangan karena perlambatan ekonomi dan banyak hari libur di awal tahun.
X55 II jadi beban — penjualannya cuma 70 unit sepanjang 2024, dan Dhani menyebut bahwa BAIC cuma punya "dua peluru" untuk bertarung, kalah jauh dari BYD yang sudah distribusi 5.718 unit, Wuling 4.795 unit, dan Chery 4.399 unit hanya dalam satu kuartal.
Titik bailik ada di semester dua. GIIAS 2025 jadi panggung BJ30 Hybrid, model yang akhirnya menyumbang 136 unit dari total 278 unit penjualan BAIC selama pameran, hampir separuh dari keseluruhan.
Sampai Oktober 2025, akumulasi wholesales tercatat 533 unit dan retail 514 unit. Tutup tahun, BAIC mendarat di angka retail 677 unit — naik dari 198 unit tahun sebelumnya.
Semester pertama menunjukkan mesin ini mulai jalan — wholesales H1 2026 mencapai 382 unit, naik 91 persen dibanding periode sama tahun lalu, dengan BJ30 menyumbang 56 persen dan BJ40 Plus 32 persen dari total.
Di sinilah T1 masuk — bukan sebagai pelengkap, tapi taruhan strategis
BAIC T1 diluncurkan 9 Juli 2026 sebagai BEV murni pertama merek ini di Indonesia, dengan target 1.000 unit sampai akhir 2026 dan pangsa 16 persen di segmen Premium Hatchback Crossover EV.
Kalau target ini tercapai, artinya T1 sendiri menyumbang sekitar separuh dari total target 2.018 unit BAIC tahun ini — bobot yang jauh lebih besar dari sekadar "penambah varian."
Logikanya sejalan dengan tren makro yang dipakai manajemen sebagai pembenaran: BEV tumbuh 78 persen, HEV 59 persen, dan PHEV 342 persen sepanjang 2021-2025. Tapi yang lebih penting untuk BAIC secara internal adalah pola strukturalnya — merek ini baru benar-benar naik kelas begitu BJ30 Hybrid masuk portofolio di paruh kedua 2025.
T1 dirancang mengulang pola yang sama: satu produk yang bisa menggeser kontribusi penjualan secara signifikan dalam waktu singkat, alih-alih mengandalkan pertumbuhan organik dari BJ40 Plus yang porsinya cenderung stagnan di kisaran 30 persenan.
Skema masuknya pun pragmatis — CBU dulu dengan harga setara CKD untuk kejar kecepatan, baru menyusul lokalisasi 60 persen di 2027.
Ini strategi "menang cepat, lokalisasi belakangan," pola yang lazim dipakai merek China lain saat menembus pasar EV Indonesia yang masih didominasi insentif dan sensitivitas harga.
BAIC soft launch Mei 2024 dengan hanya dua senjata: BJ40 Plus dan X55 II. Tahun pertama itu, penjualan ritel cuma 198 unit — wajar untuk pemain yang baru masuk delapan bulan terakhir tahun berjalan.
Angka wholesales Gaikindo untuk 2024 malah lebih kecil lagi, 296 unit sepanjang tahun, dengan komposisi sekitar 240-an unit BJ40 Plus dan 50 unit X55 II.
Masuk 2025, BAIC mulai jalan tapi tersendat. Kuartal pertama cuma 130 unit wholesales, dan sampai Januari-Februari cuma 72 unit wholesales, membuat BAIC nangkring di peringkat ke-32 merek terlaris versi Gaikindo.
COO BAIC Indonesia Dhani Yahya sendiri mengakui 2025 membawa tantangan karena perlambatan ekonomi dan banyak hari libur di awal tahun.
X55 II jadi beban — penjualannya cuma 70 unit sepanjang 2024, dan Dhani menyebut bahwa BAIC cuma punya "dua peluru" untuk bertarung, kalah jauh dari BYD yang sudah distribusi 5.718 unit, Wuling 4.795 unit, dan Chery 4.399 unit hanya dalam satu kuartal.
Titik bailik ada di semester dua. GIIAS 2025 jadi panggung BJ30 Hybrid, model yang akhirnya menyumbang 136 unit dari total 278 unit penjualan BAIC selama pameran, hampir separuh dari keseluruhan.
Sampai Oktober 2025, akumulasi wholesales tercatat 533 unit dan retail 514 unit. Tutup tahun, BAIC mendarat di angka retail 677 unit — naik dari 198 unit tahun sebelumnya.
2026: Akselerasi lewat T1
BAIC Indonesia tidak main-main dengan target tahun ini. Dhani memasang target 2.018 unit, lonjakan sekitar 200 persen dari 677 unit di 2025, ditopang tiga pilar: tambahan 10 dealer baru, dan produk baru dari Arcfox T1 serta BAIC X1 sebagai lini mobil listrik.Semester pertama menunjukkan mesin ini mulai jalan — wholesales H1 2026 mencapai 382 unit, naik 91 persen dibanding periode sama tahun lalu, dengan BJ30 menyumbang 56 persen dan BJ40 Plus 32 persen dari total.
Di sinilah T1 masuk — bukan sebagai pelengkap, tapi taruhan strategis
BAIC T1 diluncurkan 9 Juli 2026 sebagai BEV murni pertama merek ini di Indonesia, dengan target 1.000 unit sampai akhir 2026 dan pangsa 16 persen di segmen Premium Hatchback Crossover EV.
Kalau target ini tercapai, artinya T1 sendiri menyumbang sekitar separuh dari total target 2.018 unit BAIC tahun ini — bobot yang jauh lebih besar dari sekadar "penambah varian."
Logikanya sejalan dengan tren makro yang dipakai manajemen sebagai pembenaran: BEV tumbuh 78 persen, HEV 59 persen, dan PHEV 342 persen sepanjang 2021-2025. Tapi yang lebih penting untuk BAIC secara internal adalah pola strukturalnya — merek ini baru benar-benar naik kelas begitu BJ30 Hybrid masuk portofolio di paruh kedua 2025.
T1 dirancang mengulang pola yang sama: satu produk yang bisa menggeser kontribusi penjualan secara signifikan dalam waktu singkat, alih-alih mengandalkan pertumbuhan organik dari BJ40 Plus yang porsinya cenderung stagnan di kisaran 30 persenan.
Skema masuknya pun pragmatis — CBU dulu dengan harga setara CKD untuk kejar kecepatan, baru menyusul lokalisasi 60 persen di 2027.
Ini strategi "menang cepat, lokalisasi belakangan," pola yang lazim dipakai merek China lain saat menembus pasar EV Indonesia yang masih didominasi insentif dan sensitivitas harga.
FAQ
Berapa penjualan BAIC di Indonesia sejak masuk pasar?
2024: 198 unit retail (296 unit wholesales Gaikindo). 2025: 677 unit retail. H1 2026: 382 unit wholesales.Kenapa T1 dianggap penting bagi BAIC?
Karena target 1.000 unit T1 setara hampir separuh dari total target penjualan BAIC 2026 sebesar 2.018 unit — pola serupa BJ30 Hybrid yang menyelamatkan performa 2025.Apa tantangan terbesar BAIC sebelum T1?
Ketergantungan pada dua model (BJ40 Plus, X55 II) dan skala yang jauh di bawah kompetitor sesama merek China seperti BYD dan Wuling.(dan)
Lihat Juga :