Terdampak Pandemi Corona, Masih Ada Harapan buat Automotif
Kamis, 16 April 2020 - 13:00 WIB
loading...
A
A
A
“Selama masa ini, hanya lini produksi yang berhenti beroperasi, sementara operasional lain di pabrik dan head office masih tetap berjalan sesuai aturan pemerintah. Kami juga terus memonitor permintaan di pasar untuk mempersiapkan strategi yang tepat dalam menjalankan aktivitas produksi pada bulan-bulan mendatang,” ujar Yusak.
Direktur Eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Tauhid Ahmad mengatakan, saat ini penghentian aktivitas produksi memang bukan hal yang mengejutkan lagi. Pasalnya, tingkat konsumsi masyarakat memang terus menurun.
Saat ini masyarakat lebih memilih mengonsumsi makanan ketimbang nonmakanan. Jadi, sama sekali tidak ada pikiran menggunakan uang yang ada untuk konsumsi nonmakanan seperti membeli mobil baru.
Berkaca pada pengalaman sebelumnya, industri automotif memang sangat rentan pada pengaruh dari luar. Dia mencontohkan krisis finansial yang terjadi pada 2008. Krisis yang terjadi pada November 2008 itu membuat produksi industri automotif menurun drastis.
“Bulan November produksi 57.000 unit dan sampai tiga bulan menjadi 32.200 unit. Turunnya sangat besar, padahal itu hanya krisis keuangan. Ini lebih dari krisis keuangan, wajar jika penurunan (target) lebih dari separuh, karena penurunan di seluruh sektor juga akan lebih dari separuh,” ujarnya.
Hanya, dia mengatakan bahwa industri automotif masih punya harapan. Pasalnya, dari pengalaman krisis sebelumnya, industri automotif masih bisa terus berjalan. Hal ini terjadi karena industri automotif Indonesia banyak ditopang penanaman modal asing (PMA).
Direktur Eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Tauhid Ahmad mengatakan, saat ini penghentian aktivitas produksi memang bukan hal yang mengejutkan lagi. Pasalnya, tingkat konsumsi masyarakat memang terus menurun.
Saat ini masyarakat lebih memilih mengonsumsi makanan ketimbang nonmakanan. Jadi, sama sekali tidak ada pikiran menggunakan uang yang ada untuk konsumsi nonmakanan seperti membeli mobil baru.
Berkaca pada pengalaman sebelumnya, industri automotif memang sangat rentan pada pengaruh dari luar. Dia mencontohkan krisis finansial yang terjadi pada 2008. Krisis yang terjadi pada November 2008 itu membuat produksi industri automotif menurun drastis.
“Bulan November produksi 57.000 unit dan sampai tiga bulan menjadi 32.200 unit. Turunnya sangat besar, padahal itu hanya krisis keuangan. Ini lebih dari krisis keuangan, wajar jika penurunan (target) lebih dari separuh, karena penurunan di seluruh sektor juga akan lebih dari separuh,” ujarnya.
Hanya, dia mengatakan bahwa industri automotif masih punya harapan. Pasalnya, dari pengalaman krisis sebelumnya, industri automotif masih bisa terus berjalan. Hal ini terjadi karena industri automotif Indonesia banyak ditopang penanaman modal asing (PMA).
Lihat Juga :