Putusan Hakim Buruk Bagi Qualcomm, Tapi Bikin Happy Pabrikan Ponsel

Kamis, 04 Juli 2019 - 23:00 WIB
Putusan Hakim Buruk...
Putusan Hakim Buruk Bagi Qualcomm, Tapi Bikin Happy Pabrikan Ponsel
A A A
MOUNTAIN VIEW - Pada bulan Mei lalu, Hakim Lucy Koh memutuskan praktik bisnis Qualcomm merupakan bisnis anti-kompetisi. Hakim ini sudah sangat dikenal karena memimpin persidangan paten Apple vs Samsung.

Hakim Koh menemukan bahwa praktik bisnis perusahaan pembuat chip itu melanggar Undang-Undang Anti-Monopoli. Termasuk di antaranya, kebijakan "tanpa lisensi, tanpa chip" dari Qualcomm dan kegagalannya untuk melisensikan paten esensial-standar kepada pesaing dengan cara yang adil, masuk akal, dan tidak diskriminatif (FRAND).

Ini adalah paten yang harus dilisensikan oleh perusahaan agar produk mereka dapat memenuhi standar teknis. Qualcomm juga dipanggil oleh Hakim Koh karena menagih royalti berdasarkan harga eceran sebuah smartphone, bukan hanya biaya chip-nya.

Tentu saja, Qualcomm mengatakan akan mengajukan banding atas keputusan tersebut karena mengharuskan perusahaan untuk menegosiasikan ulang kontraknya dan perjanjian lisensi dengan produsen. Qualcomm juga mengeluh semua negosiasi ini dapat membuatnya sulit untuk menyelesaikan pembicaraan dengan produsen telepon yang ingin membeli chip modem 5G Qualcomm. Dan keputusan itu akan memaksa perusahaan untuk melakukan kesepakatan dengan para pesaingnya mengenai perizinan paten standar-esensial.

Laman Phone Arena menyebutkan, Qualcomm juga mencari penundaan keputusan sampai proses banding tuntas. Dengan cara ini, mereka tidak harus melalui seluruh proses negosiasi ulang dan kemudian membalikkan kesepakatan baru jika menang di banding. Meskipun itu mungkin masuk akal bagi beberapa orang, Reuters juga melaporkan Hakim Koh telah menolak permintaan Qualcomm.

Pra-peradilan Federal Trade Commission (FTC) vs Qualcomm yang diadakan pada bulan Januari lalu menampilkan kesaksian dari karyawan beberapa produsen ponsel. Banyak yang bersaksi tentang persyaratan berat Qualcomm untuk melisensikan IP-nya dan bagaimana mereka merujuk royalti yang dibebankan kepada produsen pada seluruh label harga eceran ponsel.

Jadi alih-alih membayar persentase bagian USD20-40 untuk setiap unit yang terjual, produsen handphone dibebankan persentase harga eceran sebesar USD400 dan naik untuk setiap telepon yang dijalankan Qualcomm.
(mim)
Berita Terkait
Kenapa Tak Ada Perusahaan...
Kenapa Tak Ada Perusahaan seperti Huawei di AS? Ini Penjelasan Bos Qualcomm
Qualcomm Umumkan Chipset...
Qualcomm Umumkan Chipset Snapdragon 690, Yuk Intip Kemampuannya
Huawei, Samsung, dan...
Huawei, Samsung, dan Qualcomm Punya Chipset Jagoan Baru, Bagaimana MediaTek?
Google Bangun Chipset...
Google Bangun Chipset Sendiri untuk Saingi Qualcomm
Lucuti Kemampuan SD865,...
Lucuti Kemampuan SD865, Qualcomm Bangun Chipset Snapdragon 860
Ini Beda Qualcomm Snapdragon...
Ini Beda Qualcomm Snapdragon 800, 700, 600, 400, dan 200
Berita Terkini
China Pastikan Kendaraan...
China Pastikan Kendaraan Listrik Berukuran Besar Merusak Jalan
Honda CB400SF E-Clutch...
Honda CB400SF E-Clutch dan CBR400R Four Siap Diluncurkan Bulan Depan!
Bentley Gunakan Suara...
Bentley Gunakan Suara Drum untuk Gantikan Suara V8 di EV Pertamanya
Geely Pamer Performa...
Geely Pamer Performa dan Inovasi di Sirkuit Mandalika, Begini Sensasinya
Pre-Book Coolray, SUV...
Pre-Book Coolray, SUV ICE Geely Pertama di Indonesia Resmi Dibuka
Komunitas BAIC ORV Chapter...
Komunitas BAIC ORV Chapter JHL Auto Sukses Gelar Gathering Perdana
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved