Ditolak AS dan Eropa, Mobil Listrik China Berharap Banyak dengan Asia Tenggara

Minggu, 30 Juni 2024 - 21:11 WIB
Uni Eropa mengikutinya dengan mengenakan tarif hingga 38 persen mulai tanggal 4 Juli pada tiga produsen kendaraan listrik Tiongkok: SAIC, Geely, dan BYD.

Keputusan tersebut diambil setelah penyelidikan anti-persaingan menemukan bahwa produsen mobil tersebut mendapat keuntungan dari "subsidi yang tidak adil" dari Beijing.

Hal ini mengancam akan melemahkan sektor manufaktur kendaraan listrik di Eropa, di mana harga kendaraan termurah buatan lokal bisa tiga kali lipat harga model China.

Menghadapi semakin sempitnya peluang di pasar Barat, para produsen mobil China mengincar prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan di Asia Tenggara.

Di Asia Tenggara, terdapat peningkatan jumlah kelas menengah yang mulai beralih ke kendaraan listrik.

“Sikap geopolitik Asia Tenggara yang relatif netral memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan asal Tiongkok untuk tumbuh,” Gary Ng, ekonom senior di Natixis Corporate and Investment Bank di Hong Kong, mengatakan kepada This Week in Asia.

“Tiongkok akan meningkatkan kehadiran kendaraan listriknya dari sudut pandang permintaan dan pasokan, yang berarti lebih banyak penjualan mobil dan produksi lokal,” kata Ng, seraya menambahkan bahwa Indonesia dan Thailand, dua negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, akan menjadi target pertama bagi merek-merek China.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!