30 Tahun Honda CR-V: Tembus 15 Juta Unit, Kini Fokus di Teknologi Fuel Cell Hibrida
Rabu, 05 November 2025 - 22:04 WIB
"Honda memiliki pengalaman sekitar 40 tahun dalam teknologi fuel cell. Kami memahami bahwa infrastruktur dan biaya hidrogen masih menjadi kendala utama saat ini," ujar Toshihiro Mibe kepada media di Indonesia di Jepang, belum lama ini.
Menanggapi persaingan ketat, Mibe menguraikan strategi ganda Honda.
"Kami akan terus melanjutkan pengembangan fuel cell dan EV, dengan tujuan mencapai kesetaraan — bahkan keunggulan — terhadap kompetitor di masa depan. Honda terus mengembangkan teknologi baterai dan kendaraan listrik untuk menutup kesenjangan dengan produsen asal China."
Integrasi baterai plug-in 17,7 kWh dengan jangkauan 29 mil pada CR-V e:FCEV adalah langkah pragmatis.
Honda mengakui bahwa infrastruktur hidrogen (yang pengisiannya hanya 3-5 menit) belum matang.
Baterai ini memungkinkan penggunaan harian tanpa hidrogen, mengatasi "range anxiety" dan "infrastructure anxiety" secara bersamaan.
Tenaga 174 hp tergolong moderat untuk SUV modern, menunjukkan fokus Honda pada efisiensi dan jangkauan (total 434 km + 29 mil) daripada performa mentah. Ini adalah upaya menyeimbangkan biaya produksi modul fuel cell (yang masih mahal) dengan daya tarik pasar.
Pernyataan Mibe tentang "pengalaman 40 tahun" menegaskan bahwa fuel cell bukanlah proyek baru, melainkan R&D jangka panjang yang kini siap dikomersialkan.
Mereka bertaruh bahwa hidrogen akan menjadi pelengkap EV baterai, bukan pesaing langsung.
Alih-alih membuat model FCEV baru yang terpisah (seperti Clarity sebelumnya), Honda mengintegrasikan teknologi ini ke CR-V—model terlarisnya. Ini adalah strategi untuk menjaga relevansi brand CR-V di era dekarbonisasi.
Sementara e:FCEV menjadi sorotan teknologi, Honda juga akan segera meluncurkan CR-V e:HEV (varian hibrida konvensional) di Jepang, yang prototipenya akan dipamerkan di Japan MobilityShow2025.
Menanggapi persaingan ketat, Mibe menguraikan strategi ganda Honda.
"Kami akan terus melanjutkan pengembangan fuel cell dan EV, dengan tujuan mencapai kesetaraan — bahkan keunggulan — terhadap kompetitor di masa depan. Honda terus mengembangkan teknologi baterai dan kendaraan listrik untuk menutup kesenjangan dengan produsen asal China."
Integrasi baterai plug-in 17,7 kWh dengan jangkauan 29 mil pada CR-V e:FCEV adalah langkah pragmatis.
Honda mengakui bahwa infrastruktur hidrogen (yang pengisiannya hanya 3-5 menit) belum matang.
Baterai ini memungkinkan penggunaan harian tanpa hidrogen, mengatasi "range anxiety" dan "infrastructure anxiety" secara bersamaan.
Tenaga 174 hp tergolong moderat untuk SUV modern, menunjukkan fokus Honda pada efisiensi dan jangkauan (total 434 km + 29 mil) daripada performa mentah. Ini adalah upaya menyeimbangkan biaya produksi modul fuel cell (yang masih mahal) dengan daya tarik pasar.
Pernyataan Mibe tentang "pengalaman 40 tahun" menegaskan bahwa fuel cell bukanlah proyek baru, melainkan R&D jangka panjang yang kini siap dikomersialkan.
Mereka bertaruh bahwa hidrogen akan menjadi pelengkap EV baterai, bukan pesaing langsung.
Alih-alih membuat model FCEV baru yang terpisah (seperti Clarity sebelumnya), Honda mengintegrasikan teknologi ini ke CR-V—model terlarisnya. Ini adalah strategi untuk menjaga relevansi brand CR-V di era dekarbonisasi.
Sementara e:FCEV menjadi sorotan teknologi, Honda juga akan segera meluncurkan CR-V e:HEV (varian hibrida konvensional) di Jepang, yang prototipenya akan dipamerkan di Japan MobilityShow2025.
(dan)
Lihat Juga :