Polytron Paparkan Alasan Sewa Baterai Justru Bikin Dompet Lebih Tebal Ketimbang Beli Putus
Sabtu, 13 Desember 2025 - 14:02 WIB
Bunga inilah yang menjadi kunci efisiensi. Dengan biaya sewa baterai Polytron yang dipatok Rp200.000 per bulan, konsumen sejatinya dapat menggunakan bunga investasi tadi untuk mensubsidi biaya sewa.
Alhasil, biaya riil yang keluar dari kantong konsumen untuk energi hanyalah Rp130.000 per bulan—hasil dari pengurangan biaya sewa Rp200.000 dikurangi keuntungan bunga Rp70.000.
Yang lebih mencengangkan, setelah satu dekade berlalu, uang pokok Rp13,15 juta yang disimpan dalam obligasi tersebut tetap utuh, tidak tergerus sepeser pun.
Membongkar "Biaya Siluman" Kompetitor
Sebaliknya, nasib berbeda dialami pemilik motor listrik dengan sistem baterai tanam. Mereka sering kali terjebak dalam ilusi bahwa setelah pembelian awal, tidak ada biaya lagi.
“Padahal, baterai memiliki usia pakai (lifecycle) yang terbatas,” beber Hariono. Harga baterai pengganti di pasaran saat ini menyentuh angka fantastis, yakni Rp20.000.000 untuk satu set.
Polytron membedah risiko depresiasi ini dengan tajam. Jika baterai kompetitor diasumsikan memiliki umur pakai 5 tahun, maka konsumen sebenarnya menanggung beban penyusutan setara Rp333.000 per bulan (Rp20 juta dibagi 60 bulan).
Bahkan dalam skenario paling optimistis di mana baterai bertahan hingga 8 tahun, beban biaya ekuivalennya masih berada di angka Rp208.000 per bulan.
Kesimpulannya: biaya "cicilan depresiasi" baterai milik sendiri (Rp208.000/bulan) ternyata masih jauh lebih mahal dibandingkan biaya sewa efektif Polytron (Rp130.000/bulan).
Belum lagi ancaman nyata bahwa setelah tahun ke-8, pemilik motor kompetitor harus merogoh kocek Rp20 juta tunai untuk membeli baterai baru agar motornya tidak menjadi besi tua.
Alhasil, biaya riil yang keluar dari kantong konsumen untuk energi hanyalah Rp130.000 per bulan—hasil dari pengurangan biaya sewa Rp200.000 dikurangi keuntungan bunga Rp70.000.
Yang lebih mencengangkan, setelah satu dekade berlalu, uang pokok Rp13,15 juta yang disimpan dalam obligasi tersebut tetap utuh, tidak tergerus sepeser pun.
Membongkar "Biaya Siluman" Kompetitor
Sebaliknya, nasib berbeda dialami pemilik motor listrik dengan sistem baterai tanam. Mereka sering kali terjebak dalam ilusi bahwa setelah pembelian awal, tidak ada biaya lagi.“Padahal, baterai memiliki usia pakai (lifecycle) yang terbatas,” beber Hariono. Harga baterai pengganti di pasaran saat ini menyentuh angka fantastis, yakni Rp20.000.000 untuk satu set.
Polytron membedah risiko depresiasi ini dengan tajam. Jika baterai kompetitor diasumsikan memiliki umur pakai 5 tahun, maka konsumen sebenarnya menanggung beban penyusutan setara Rp333.000 per bulan (Rp20 juta dibagi 60 bulan).
Bahkan dalam skenario paling optimistis di mana baterai bertahan hingga 8 tahun, beban biaya ekuivalennya masih berada di angka Rp208.000 per bulan.
Kesimpulannya: biaya "cicilan depresiasi" baterai milik sendiri (Rp208.000/bulan) ternyata masih jauh lebih mahal dibandingkan biaya sewa efektif Polytron (Rp130.000/bulan).
Belum lagi ancaman nyata bahwa setelah tahun ke-8, pemilik motor kompetitor harus merogoh kocek Rp20 juta tunai untuk membeli baterai baru agar motornya tidak menjadi besi tua.
Lihat Juga :