Nestapa Industri Mobil China 2025: Produksi Tembus 31 Juta Unit, tapi Cuan Cuma Receh 4,4 Persen Per Mobil
Rabu, 31 Desember 2025 - 08:37 WIB
Secara total, pendapatan industri memang menembus angka psikologis 10 triliun Yuan (Rp22.720 triliun), naik 8,1 persen secara tahunan (year-on-year).
Namun, biaya produksi berlari lebih kencang, melonjak 9 persen menjadi 8,84 triliun Yuan (Rp20.160 triliun).
Alhasil, total laba industri hanya tumbuh moderat 7,5 persen menjadi 440,3 miliar Yuan (Rp1.001 triliun).
Tekanan ganda menjadi biang keladinya. Di satu sisi, fluktuasi harga bahan baku baterai dan kenaikan upah buruh terus menekan biaya produksi.
Di sisi lain, terjadi kanibalisme pasar yang ganas. Perang harga tidak lagi menjadi monopoli segmen mobil listrik (New Energy Vehicles/NEV), tetapi telah merambat ke pasar mobil bensin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE).
Demi mempertahankan pangsa pasar, pabrikan rela memangkas harga jual hingga berdarah-darah, menggerus margin keuntungan demi kelangsungan hidup.
Laporan keuangan Great Wall Motor (GWM) menjadi cermin nyata situasi ini. Dalam tiga kuartal pertama 2025, meski pendapatan mereka naik hampir 8 persen, laba bersih justru anjlok hampir 17 persen.
Investasi besar-besaran di saluran distribusi dan diskon agresif menjadi beban berat yang harus dipikul.
Media lokal Autohome bahkan melaporkan statistik yang lebih mengkhawatirkan: lebih dari separuh dealer mobil di China kini merugi, dan lebih dari 70 persen model mobil dijual dengan harga di bawah biaya produksi (at a loss).
Namun, biaya produksi berlari lebih kencang, melonjak 9 persen menjadi 8,84 triliun Yuan (Rp20.160 triliun).
Alhasil, total laba industri hanya tumbuh moderat 7,5 persen menjadi 440,3 miliar Yuan (Rp1.001 triliun).
Tekanan ganda menjadi biang keladinya. Di satu sisi, fluktuasi harga bahan baku baterai dan kenaikan upah buruh terus menekan biaya produksi.
Di sisi lain, terjadi kanibalisme pasar yang ganas. Perang harga tidak lagi menjadi monopoli segmen mobil listrik (New Energy Vehicles/NEV), tetapi telah merambat ke pasar mobil bensin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE).
Demi mempertahankan pangsa pasar, pabrikan rela memangkas harga jual hingga berdarah-darah, menggerus margin keuntungan demi kelangsungan hidup.
Laporan keuangan Great Wall Motor (GWM) menjadi cermin nyata situasi ini. Dalam tiga kuartal pertama 2025, meski pendapatan mereka naik hampir 8 persen, laba bersih justru anjlok hampir 17 persen.
Investasi besar-besaran di saluran distribusi dan diskon agresif menjadi beban berat yang harus dipikul.
Media lokal Autohome bahkan melaporkan statistik yang lebih mengkhawatirkan: lebih dari separuh dealer mobil di China kini merugi, dan lebih dari 70 persen model mobil dijual dengan harga di bawah biaya produksi (at a loss).
Penjualan Melambat, Sinyal Bahaya Akhir Tahun
Tak hanya masalah margin, volume penjualan pun mulai batuk-batuk. Data November 2025 menunjukkan penjualan mobil di China turun 8,5 persen secara tahunan menjadi 2,24 juta unit.Lihat Juga :