Menang Spesifikasi di Atas Kertas, Rapuh di Layanan Purna Jual: Bedah Rekam Jejak Pikap Impor India Agrinas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:42 WIB
Rekam jejak historis merek India di Indonesia seringkali terganjal oleh ekosistem purna jual ini. Membawa masuk 105.000 unit kendaraan dari luar negeri secara mendadak akan menciptakan bom waktu logistik.

Sebagai perbandingan, Mahindra hanya memiliki 2 dealer 3S (Service, Sales, Sparepart) dan 3 dealer 2S di Indonesia. Bayangkan apa yang terjadi ketika 35.000 unit pikap Mahindra Scorpio membutuhkan servis secara serempak?

Ketika puluhan ribu unit tersebut mulai memasuki usia perawatan rutin pada tahun kedua atau ketiga, pasokan suku cadang impor harus siap sedia di seluruh penjuru desa.

Jika rantai pasok suku cadang dari pabrik Nashik di India terhambat, kendaraan operasional Kopdes tersebut terancam mangkrak dan menjadi besi tua.

Terakhir, pasar kendaraan komersial sangat memperhitungkan Total Cost of Ownership (TCO) dan nilai sisa (resale value).

Depresiasi harga pikap rakitan lokal sangat stabil karena tingginya permintaan pasar mobil bekas.

Sementara itu, kendaraan komersial non-Jepang secara historis mengalami penurunan harga jual kembali yang sangat tajam di Indonesia akibat kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan suku cadang jangka panjang.

Pada akhirnya, keandalan kendaraan komersial di Indonesia tidak hanya diukur dari kemampuannya menerjang lumpur pada hari pertama dibeli.

Ketangguhan sejati diuji dari seberapa cepat, seberapa murah, dan seberapa mudah kendaraan tersebut bisa kembali beroperasi mencari uang ketika ia rusak di tengah antah berantah.

Dan dalam metrik "ketangguhan ekosistem" ini, industri otomotif lokal masih memegang kendali penuh yang rasional.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!