GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh
Selasa, 09 Juni 2026 - 22:46 WIB
Ini percobaan ketiga Woodman bikin startup. Dua sebelumnya gagal. Termasuk usaha gim bernama Funbug, yang ambruk pada 2001 dan menelan uang investor USD3,9 juta (Rp70,2 miliar). Ketakutan gagal lagi itulah, kata Woodman, yang membuatnya ngotot.
GoPro melantai di bursa pada 26 Juni 2014. Harga perdananya USD24 (Rp432.000) per lembar. Investor suka konsepnya: perusahaan hardware yang sekaligus merek media. Videonya ditonton miliaran kali di YouTube.
Hari pertama saja sudah meroket. Ditutup di USD31,34 (Rp564.120). Nilai perusahaan hampir USD4 miliar — sekitar Rp72 triliun.
Puncaknya 7 Oktober 2014. Saham tembus rekor USD93,85 (Rp1.689.300). Nilai pasar GoPro lewat USD11 miliar. Setara Rp198 triliun.
Woodman sempat jadi CEO bergaji tertinggi di Amerika. Paket saham terbatasnya, di akhir 2014, ditaksir USD284,5 juta — sekitar Rp5,12 triliun. Nomor satu di Bloomberg Pay Index.
Lalu mulai merosot.
Penyebabnya klasik. Kamera ponsel makin bagus. Orang biasa tak lagi butuh kamera terpisah. Pesaing murah menggerogoti dari bawah.
Taruhan besar GoPro untuk melebar gagal total: drone Karma. November 2016 ditarik dari pasaran. Sekitar 2.500 unit. Sebabnya: kehilangan daya saat terbang — sebagian jatuh dari langit. Lini drone itu dihentikan pada 2018.
Saat itu, gaji tunai Woodman dipangkas jadi USD1 saja — Rp18.000. Lebih dari 20 persen karyawan dirumahkan.
Kini tekanan datang lagi. GoPro sudah memangkas 23 persen karyawannya. Juga sedang menimbang tawaran untuk menjual perusahaan.
Tapi belum tentu kiamat.
Dokumen seperti ini tidak otomatis berarti bangkrut. GoPro sendiri menegaskan: belum ada rencana spesifik mengajukan kebangkrutan. Tanpa pendanaan baru atau transaksi strategis, kemampuan bertahannya memang terancam — tapi pintu belum tertutup.
GoPro melantai di bursa pada 26 Juni 2014. Harga perdananya USD24 (Rp432.000) per lembar. Investor suka konsepnya: perusahaan hardware yang sekaligus merek media. Videonya ditonton miliaran kali di YouTube.
Hari pertama saja sudah meroket. Ditutup di USD31,34 (Rp564.120). Nilai perusahaan hampir USD4 miliar — sekitar Rp72 triliun.
Puncaknya 7 Oktober 2014. Saham tembus rekor USD93,85 (Rp1.689.300). Nilai pasar GoPro lewat USD11 miliar. Setara Rp198 triliun.
Woodman sempat jadi CEO bergaji tertinggi di Amerika. Paket saham terbatasnya, di akhir 2014, ditaksir USD284,5 juta — sekitar Rp5,12 triliun. Nomor satu di Bloomberg Pay Index.
Lalu mulai merosot.
Penyebabnya klasik. Kamera ponsel makin bagus. Orang biasa tak lagi butuh kamera terpisah. Pesaing murah menggerogoti dari bawah.
Taruhan besar GoPro untuk melebar gagal total: drone Karma. November 2016 ditarik dari pasaran. Sekitar 2.500 unit. Sebabnya: kehilangan daya saat terbang — sebagian jatuh dari langit. Lini drone itu dihentikan pada 2018.
Saat itu, gaji tunai Woodman dipangkas jadi USD1 saja — Rp18.000. Lebih dari 20 persen karyawan dirumahkan.
Kini tekanan datang lagi. GoPro sudah memangkas 23 persen karyawannya. Juga sedang menimbang tawaran untuk menjual perusahaan.
Tapi belum tentu kiamat.
Dokumen seperti ini tidak otomatis berarti bangkrut. GoPro sendiri menegaskan: belum ada rencana spesifik mengajukan kebangkrutan. Tanpa pendanaan baru atau transaksi strategis, kemampuan bertahannya memang terancam — tapi pintu belum tertutup.
Lihat Juga :