Dari Tol ke Tanjakan Merbabu Lebih dari 92 Km/Liter: Bukti Teknologi DM Tak Cuma Andal di Jalan Datar

Selasa, 28 Juli 2026 - 16:13 WIB
Rata-rata dari seluruh 11 unit menunjukkan penggunaan baterai di kisaran 13,7-14,5 kWh dengan rata-rata 14,1 kWh. Ini angka tertinggi di antara tiga kota yang sudah diuji.

Sementara rata-rata bahan bakar yang terpakai mencapai 0,72 liter, dengan rentang 0,12-1,59 liter.

Jakarta vs Medan vs Semarang: Bagaimana Kontur Mempengaruhi Hasil

Menyusun ketiga hasil uji secara berdampingan, terlihat pola yang mencerminkan karakter jalan masing-masing kota:

Konsumsi BBM (km/liter): Jakarta lebih dari 104 km/liter, Semarang lebih dari 92 km/liter, Medan lebih dari 79 km/liter.

Jakarta yang didominasi tol dan jalan kota relatif datar mencatat hasil paling irit, sementara Medan dengan tanjakan pegunungan berkelanjutan mencatat hasil paling rendah.

Rata-rata bahan bakar terpakai (11 unit): Jakarta 0,42 liter, Semarang 0,72 liter, Medan 1,23 liter.

Urutan ini konsisten dengan tingkat elevasi masing-masing rute — semakin banyak tanjakan berkelanjutan, semakin sering mesin bensin bekerja sebagai generator pengisi baterai.

Rata-rata penggunaan baterai (11 unit): Semarang 14,1 kWh, Jakarta 13,8 kWh, Medan 13,3 kWh.

Menariknya, meski rute Medan paling menanjak, rata-rata pemakaian baterainya justru sedikit lebih rendah dibanding dua kota lain — indikasi bahwa pada tanjakan panjang dan berkelanjutan, mesin bensin mengambil porsi kerja lebih besar dibanding hanya mengandalkan baterai.

Pola tiga kota ini memperkuat gambaran bahwa sistem DM 5.0 tetap mengutamakan motor listrik sebagai penggerak utama di segala kondisi, namun mesin bensin secara otomatis mengambil porsi kerja lebih besar ketika elevasi jalan meningkat — baik itu tanjakan berkelanjutan di Medan maupun tanjakan sedang yang diselingi tol di Semarang.

Filosofi Electric-First di Balik Konsistensi Hasil
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!