Dari Perkotaan ke Tretes-Prigen: BYD M6 DM Cetak Efisiensi 82 km/liter
Selasa, 28 Juli 2026 - 16:34 WIB
Sementara rata-rata bahan bakar terpakai mencapai 1,20 liter, dengan rentang 0,18-2,54 liter.
Selain pengujian resmi tersebut, BYD juga menggelar BYD M6 DM Media Challenge Surabaya bersama rekan-rekan media Jawa Timur pada rute yang sama, sekitar 150 kilometer dari Surabaya ke Prigen dan kembali ke dalam kota.
Head of Marketing, PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menyebut hasil terbaik dari kegiatan ini bahkan mencapai Rp184 per kilometer, dengan konsumsi bahan bakar sepanjang perjalanan berada pada kisaran 0,2-2,5 liter. "Hasil uji coba menunjukkan capaian yang sangat luar biasa," ujar Luther.
Perbandingan Empat Kota: Jakarta, Medan, Semarang, Surabaya
Menyusun hasil resmi keempat kota secara berdampingan, terlihat gambaran yang konsisten dengan karakter jalan masing-masing rute:
Konsumsi BBM (km/liter): Jakarta lebih dari 104 km/liter, Semarang lebih dari 92 km/liter, Surabaya lebih dari 82 km/liter, Medan lebih dari79 km/liter. Jakarta dengan rute datar tol-perkotaan tetap paling irit, sementara dua kota dengan tujuan dataran tinggi — Medan dan Surabaya — mencatat hasil lebih rendah karena elevasi jalan yang lebih menantang.
Rata-rata bahan bakar terpakai (11 unit): Jakarta 0,42 liter, Semarang 0,72 liter, Surabaya 1,20 liter, Medan 1,23 liter. Surabaya dan Medan berada pada level konsumsi yang hampir sama, mencerminkan karakter rute yang sama-sama menuju kawasan pegunungan atau dataran tinggi wisata.
Rata-rata penggunaan baterai (11 unit): Medan 13,3 kWh, Jakarta 13,8 kWh, Semarang 14,1 kWh, Surabaya 14,6 kWh — tertinggi di antara empat kota. Kombinasi tol panjang dan tanjakan menuju Tretes-Prigen membuat motor listrik tetap bekerja intensif meski mesin bensin juga lebih sering aktif dibanding rute Jakarta.
Meski konsumsi BBM Surabaya masih lebih baik dibanding Medan dari sisi km/liter, total biaya per kilometernya justru paling mahal, kemungkinan dipengaruhi kombinasi tarif tol yang lebih panjang dan porsi jalur elevasi tinggi menuju kawasan resort Tretes-Prigen.
Pola empat kota ini memperkuat kesimpulan bahwa rute dengan tujuan dataran tinggi atau pegunungan, baik Medan maupun Surabaya, secara konsisten mencatatkan konsumsi BBM dan biaya per kilometer lebih tinggi dibanding rute perkotaan-tol yang relatif datar seperti Jakarta dan Semarang, meski sistem DM 5.0 tetap mempertahankan motor listrik sebagai penggerak dominan hampir di semua kondisi.
Selain pengujian resmi tersebut, BYD juga menggelar BYD M6 DM Media Challenge Surabaya bersama rekan-rekan media Jawa Timur pada rute yang sama, sekitar 150 kilometer dari Surabaya ke Prigen dan kembali ke dalam kota.
Head of Marketing, PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menyebut hasil terbaik dari kegiatan ini bahkan mencapai Rp184 per kilometer, dengan konsumsi bahan bakar sepanjang perjalanan berada pada kisaran 0,2-2,5 liter. "Hasil uji coba menunjukkan capaian yang sangat luar biasa," ujar Luther.
Perbandingan Empat Kota: Jakarta, Medan, Semarang, Surabaya
Menyusun hasil resmi keempat kota secara berdampingan, terlihat gambaran yang konsisten dengan karakter jalan masing-masing rute:
Konsumsi BBM (km/liter): Jakarta lebih dari 104 km/liter, Semarang lebih dari 92 km/liter, Surabaya lebih dari 82 km/liter, Medan lebih dari79 km/liter. Jakarta dengan rute datar tol-perkotaan tetap paling irit, sementara dua kota dengan tujuan dataran tinggi — Medan dan Surabaya — mencatat hasil lebih rendah karena elevasi jalan yang lebih menantang.
Rata-rata bahan bakar terpakai (11 unit): Jakarta 0,42 liter, Semarang 0,72 liter, Surabaya 1,20 liter, Medan 1,23 liter. Surabaya dan Medan berada pada level konsumsi yang hampir sama, mencerminkan karakter rute yang sama-sama menuju kawasan pegunungan atau dataran tinggi wisata.
Rata-rata penggunaan baterai (11 unit): Medan 13,3 kWh, Jakarta 13,8 kWh, Semarang 14,1 kWh, Surabaya 14,6 kWh — tertinggi di antara empat kota. Kombinasi tol panjang dan tanjakan menuju Tretes-Prigen membuat motor listrik tetap bekerja intensif meski mesin bensin juga lebih sering aktif dibanding rute Jakarta.
Meski konsumsi BBM Surabaya masih lebih baik dibanding Medan dari sisi km/liter, total biaya per kilometernya justru paling mahal, kemungkinan dipengaruhi kombinasi tarif tol yang lebih panjang dan porsi jalur elevasi tinggi menuju kawasan resort Tretes-Prigen.
Pola empat kota ini memperkuat kesimpulan bahwa rute dengan tujuan dataran tinggi atau pegunungan, baik Medan maupun Surabaya, secara konsisten mencatatkan konsumsi BBM dan biaya per kilometer lebih tinggi dibanding rute perkotaan-tol yang relatif datar seperti Jakarta dan Semarang, meski sistem DM 5.0 tetap mempertahankan motor listrik sebagai penggerak dominan hampir di semua kondisi.
Lihat Juga :