Kisah Mobil Lincoln, Saksi Bisu Pemicu Hari Pahlawan
Selasa, 10 November 2020 - 04:57 WIB
Diketahui sejak tentara Inggris yang diboncengi NICA datang ke Indonesia, terjadi ketegangan di kedua belah pihak. Pejuang Indonesia tidak senang dengan sikap tentara Inggris yang melucuti senjata yang dimiliki pejuang. Kemarahan makin menjadi karena tentara Inggris membebaskan tawanan tentara Belanda dan memprovokasi pejuang agar menyerah dan meletakkan senjata lewat pamflet yang disebarkan lewat pesawat terbang. (Baca juga : Desa di Inggris ini Siap Produksi Mobil Penantang Ferrari dan Lamborghini )
Surabaya merupakan kota yang eskalasi perlawanannya sangat tinggi. Pejuang di Surabaya kemudian menyerang dan mengepung beberapa lokasi yang memang dijadikan pos-pos tentara Inggris. Saat itulah pertemuan antara Presiden Soekarno dan Jenderal Hawthorn terjadi guna meredam peristiwa yang lebih besar.
Kesepakatan itu kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan antara Polit Biro yang diwakili oleh Residen Sudirman dan beberapa orang lainnya dengan Jenderal AWS Mallaby di Surabaya. Dari pertemuan itu mereka bersepakat akan mengunjungi tiga lokasi dimana tentara Inggris telah dikepung oleh pejuang. Agar suasana menjadi cair, mereka kemudian melakukan pawai dengan menaiki mobil dalam kunjungan itu.
Christopher Bayly dalam bukunya The Forgotten Wars menuliskan keputusan Mallaby ikut dalam pawai itu sebenarnya ditentang karena jenderal Inggris itu menggunakan mobil umum yang tidak ada perlindungan. Resikonya terlalu besar karena pejuang Indonesia sudah sangat marah dengan Inggris. Hanya saja Mallaby saat itu percaya pendekatan diplomasi bisa jadi jalan keluar ketegangan Indonesia dan Inggris. "Jika terjadi apa-apa pada saya maka kabarkan ke seluruh dunia," ucap Mallaby seperti ditulis Christopher Bayly.
Akhirnya Mallaby memang datang ke pertemuan dan ikut pawai. Sudirman dan Mallaby bahkan sempat berpose bersama di sebuah mobil. Dimana saat itu Mallaby memegang bendera putih tanda menyerah guna meredam kemarahan pejuang. "Mallaby menaiki mobil yang sudah disiapkan Pak Dirman bersama tiga tentaranya," tulis Ruslan Abdulgani.
Setelah itu mereka kemudian menaiki mobil menuju tiga lokasi. Di lokasi pertama yang dikunjungi berjalan dengan aman karena memang sudah tidak ada kontak senjata. Semuanya berubah ketika rombongan sampai di Gedung Internatio, tempat pasukan Inggris berada. Saat itu pihak Indonesia meminta agar pasukan Inggris segera meninggalkan Gedung Internatio dan pergi dengan naik kapal laut. Hanya saja keinginan itu berjalan dengan alot. Pejuang makin kesal karena tentara Inggris yang dibantu oleh tentara Gurkha malah menyiapkan senapan mesin yang diarahkan ke pejuang Indonesia. Saat itu akhirnya wakil Indonesia dan wakil Inggris yang ada di dalam pawai masuk ke dalam gedung untuk negosiasi. "Pejuang meminta agar orang Inggris yang tua (Mallaby) tidak ikut ke dalam tapi yang muda-muda saja," tulis Ruslan Abdulgani.
Surabaya merupakan kota yang eskalasi perlawanannya sangat tinggi. Pejuang di Surabaya kemudian menyerang dan mengepung beberapa lokasi yang memang dijadikan pos-pos tentara Inggris. Saat itulah pertemuan antara Presiden Soekarno dan Jenderal Hawthorn terjadi guna meredam peristiwa yang lebih besar.
Kesepakatan itu kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan antara Polit Biro yang diwakili oleh Residen Sudirman dan beberapa orang lainnya dengan Jenderal AWS Mallaby di Surabaya. Dari pertemuan itu mereka bersepakat akan mengunjungi tiga lokasi dimana tentara Inggris telah dikepung oleh pejuang. Agar suasana menjadi cair, mereka kemudian melakukan pawai dengan menaiki mobil dalam kunjungan itu.
Christopher Bayly dalam bukunya The Forgotten Wars menuliskan keputusan Mallaby ikut dalam pawai itu sebenarnya ditentang karena jenderal Inggris itu menggunakan mobil umum yang tidak ada perlindungan. Resikonya terlalu besar karena pejuang Indonesia sudah sangat marah dengan Inggris. Hanya saja Mallaby saat itu percaya pendekatan diplomasi bisa jadi jalan keluar ketegangan Indonesia dan Inggris. "Jika terjadi apa-apa pada saya maka kabarkan ke seluruh dunia," ucap Mallaby seperti ditulis Christopher Bayly.
Akhirnya Mallaby memang datang ke pertemuan dan ikut pawai. Sudirman dan Mallaby bahkan sempat berpose bersama di sebuah mobil. Dimana saat itu Mallaby memegang bendera putih tanda menyerah guna meredam kemarahan pejuang. "Mallaby menaiki mobil yang sudah disiapkan Pak Dirman bersama tiga tentaranya," tulis Ruslan Abdulgani.
Setelah itu mereka kemudian menaiki mobil menuju tiga lokasi. Di lokasi pertama yang dikunjungi berjalan dengan aman karena memang sudah tidak ada kontak senjata. Semuanya berubah ketika rombongan sampai di Gedung Internatio, tempat pasukan Inggris berada. Saat itu pihak Indonesia meminta agar pasukan Inggris segera meninggalkan Gedung Internatio dan pergi dengan naik kapal laut. Hanya saja keinginan itu berjalan dengan alot. Pejuang makin kesal karena tentara Inggris yang dibantu oleh tentara Gurkha malah menyiapkan senapan mesin yang diarahkan ke pejuang Indonesia. Saat itu akhirnya wakil Indonesia dan wakil Inggris yang ada di dalam pawai masuk ke dalam gedung untuk negosiasi. "Pejuang meminta agar orang Inggris yang tua (Mallaby) tidak ikut ke dalam tapi yang muda-muda saja," tulis Ruslan Abdulgani.
Lihat Juga :