Upah Minimum Cuma Rp3,4 Juta Inikah Penyebab Investor Otomotif Lebih Melirik Thailand Dibanding Indonesia?
Minggu, 15 November 2020 - 20:37 WIB
Pada tahun lalu, saat musim kampanye terjadi di Thailand, memang muncul wacana yang dihadirkan partai politik dengan rencana kenaikan UMP yang mencapai 425 Baht per hari atau setara Rp197.860 atau jika dikali dengan 22 hari mencapai Rp4,3 juta atau setara UMP DKI Jakarta, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Namun proposal itu gagal dan Thailand menetapkan kenaikan UMP yang hanya mencapai Rp3,4 juta. Uniknya dengan upah minimum sebesar itu, industri otomotif Thailand masih tetap produktif dibandingkan begara ASEAN lainnya termasuk Indonesia. Hal itu bahkan diakui Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang pada Agustus lalu.
"Dalam konteks pasar otomotif, Indonesia adalah pasar terbesar di Asia Tenggara. Di 2019, lebih dari 1 juta kendaraan dijual di dalam negeri. Dan 300 ribu telah diekspor ke seluruh dunia. Namun secara produksi kita harus akui, Indonesia masih kalah di bawah Thailand," kata Agus dalam Indonesia Otomotif Online Festival, Jumat (14/8).
Pada tahun 2019 lalu, Thailand mampu memproduksi mobil sebanyak 2.013.710 unit. Jauh lebih besar dibanding Indonesia yang hanya di angka 1.286.848 unit. Potensi ini bisa jeblok setelah industri otomotif dalam negeri kembali dihajar oleh pandemi Covid-19. Nyatanya di tengah pandemi Covid-19, buruh Thailand masih leading. Berdasarkan data ASEAN Automotive Federation, sepanjang semester pertama tahun ini, Indonesia masih kalah telak dengan Negeri Gajah Putih.
Januari sampai Juni 2020, produksi mobil di Indonesia hanya 369.545 unit. Jumlah tersebut turun 37,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 592.396 unit. Sedangkan Thailand, produksi mobil selama enam bulan tahun ini sebesar 606.132 unit. Angka ini turun sebesar 43,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 1.065.945 unit.
Menyitir keterangan awal Kukuh Kumara, kenaikan upah minimum yang ada di Indonesa memang akan menyisakan dilema persaingan biaya produksi dengan negara-negara tetangga. Pasalnya investor otomotif masih bisa melihat dengan nyata ada negara yang upah minimumnya kecil tapi produktivitas tinggi.
"Dalam konteks pasar otomotif, Indonesia adalah pasar terbesar di Asia Tenggara. Di 2019, lebih dari 1 juta kendaraan dijual di dalam negeri. Dan 300 ribu telah diekspor ke seluruh dunia. Namun secara produksi kita harus akui, Indonesia masih kalah di bawah Thailand," kata Agus dalam Indonesia Otomotif Online Festival, Jumat (14/8).
Pada tahun 2019 lalu, Thailand mampu memproduksi mobil sebanyak 2.013.710 unit. Jauh lebih besar dibanding Indonesia yang hanya di angka 1.286.848 unit. Potensi ini bisa jeblok setelah industri otomotif dalam negeri kembali dihajar oleh pandemi Covid-19. Nyatanya di tengah pandemi Covid-19, buruh Thailand masih leading. Berdasarkan data ASEAN Automotive Federation, sepanjang semester pertama tahun ini, Indonesia masih kalah telak dengan Negeri Gajah Putih.
Januari sampai Juni 2020, produksi mobil di Indonesia hanya 369.545 unit. Jumlah tersebut turun 37,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 592.396 unit. Sedangkan Thailand, produksi mobil selama enam bulan tahun ini sebesar 606.132 unit. Angka ini turun sebesar 43,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 1.065.945 unit.
Menyitir keterangan awal Kukuh Kumara, kenaikan upah minimum yang ada di Indonesa memang akan menyisakan dilema persaingan biaya produksi dengan negara-negara tetangga. Pasalnya investor otomotif masih bisa melihat dengan nyata ada negara yang upah minimumnya kecil tapi produktivitas tinggi.
(wsb)
Lihat Juga :