Kutukan CEO Nissan: Akankah Ivan Espinosa Jadi Tumbal Berikutnya di Tengah Badai Industri?
Jum'at, 06 Juni 2025 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Banyak yang tak sanggup bertahan. Data dari Challenger, Gray & Christmas melukiskan gambaran suram: jumlah CEO yang lengser di perusahaan-perusahaan AS melonjak 38% hanya pada bulan Desember saja. Sepanjang 2024, rekor mengerikan tercipta dengan 2.221 CEO mengundurkan diri—angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada tahun 2002.
Espinosa percaya, di era turbulensi ini, model CEO "tangan besi" yang keras kepala sudah tidak relevan lagi.
"Ini adalah lingkungan yang sangat bergejolak. Di masa lalu, beberapa CEO sangat keras kepala, sangat menolak perubahan. Saya pikir sekarang Anda harus tetap terbuka, dan tetap fleksibel," tegasnya.
Namun, di balik retorika "kolaborasi" dan "diskusi terbuka" yang ia usung, tersembunyi sebuah realitas yang jauh lebih keras. Sesaat setelah menjabat, salah satu langkah pertama Espinosa adalah mengumumkan rencana untuk memangkas 11.000 pekerjaan dan menutup tujuh pabrik sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Sebuah ironi tajam: untuk menjadi fleksibel, perusahaan harus terlebih dahulu memotong "beban"-nya.
Filosofi kepemimpinannya yang paling berisiko mungkin terungkap dalam pernyataannya tentang pengambilan keputusan.
"Kita harus bergerak cepat. Kita harus membuat keputusan di tempat. Dan Anda harus nyaman membuat keputusan bahkan ketika Anda tidak memiliki 100% informasi yang tersedia," kata Espinosa. "Lebih baik bergerak lalu mengoreksi arah daripada hanya duduk dan menunggu."
Bagi sebagian orang, ini adalah kepemimpinan yang berani dan adaptif. Bagi yang lain, ini terdengar seperti perjudian tingkat tinggi—sebuah resep untuk potensi bencana jika keputusan yang diambil salah arah.
Pemimpin Keras Kepala Sudah Mati?
Espinosa percaya, di era turbulensi ini, model CEO "tangan besi" yang keras kepala sudah tidak relevan lagi."Ini adalah lingkungan yang sangat bergejolak. Di masa lalu, beberapa CEO sangat keras kepala, sangat menolak perubahan. Saya pikir sekarang Anda harus tetap terbuka, dan tetap fleksibel," tegasnya.
Namun, di balik retorika "kolaborasi" dan "diskusi terbuka" yang ia usung, tersembunyi sebuah realitas yang jauh lebih keras. Sesaat setelah menjabat, salah satu langkah pertama Espinosa adalah mengumumkan rencana untuk memangkas 11.000 pekerjaan dan menutup tujuh pabrik sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Sebuah ironi tajam: untuk menjadi fleksibel, perusahaan harus terlebih dahulu memotong "beban"-nya.
Filosofi kepemimpinannya yang paling berisiko mungkin terungkap dalam pernyataannya tentang pengambilan keputusan.
"Kita harus bergerak cepat. Kita harus membuat keputusan di tempat. Dan Anda harus nyaman membuat keputusan bahkan ketika Anda tidak memiliki 100% informasi yang tersedia," kata Espinosa. "Lebih baik bergerak lalu mengoreksi arah daripada hanya duduk dan menunggu."
Bagi sebagian orang, ini adalah kepemimpinan yang berani dan adaptif. Bagi yang lain, ini terdengar seperti perjudian tingkat tinggi—sebuah resep untuk potensi bencana jika keputusan yang diambil salah arah.
Lihat Juga :