Bom Waktu di Lautan Lepas: Kapal Kargo Terbakar, Karena Angkut Mobil Listrik dan Hybrid?
Jum'at, 06 Juni 2025 - 13:50 WIB
loading...
Kapal kargo ini mengangkut 3.000an mobil. Sekitar 800 diantaranya adalah mobil listrik dan hybrid. Foto: ist
A
A
A
CHINA - Mimpi buruk industri pelayaran global kembali terjadi. Sebuah kapal kargo raksasa, Morning Midas, yang mengangkut lebih dari 3.000 mobil dari China, kini menjadi hantu baja yang membara tanpa kendali di tengah Samudra Pasifik.
Yang lebih mengerikan, di antara ribuan mobil itu, terdapat 800 unit kendaraan listrik (EV) dan hybrid—kargo yang kini dicurigai sebagai pemicu neraka di lautan.
Insiden ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah pengulangan dari bencana Felicity Ace pada tahun 2022, sebuah deja vu tragis yang secara brutal mempertanyakan: apakah ada bom waktu yang berdetak di setiap kapal pengangkut mobil listrik?
![Bom Waktu di Lautan Lepas: Kapal Kargo Terbakar, Karena Angkut Mobil Listrik dan Hybrid?]()
Kapal berbendera Inggris sepanjang 600 kaki itu sedang dalam perjalanan menuju Meksiko saat malapetaka terjadi pada 3 Juni lalu. Di lokasi terpencil, sekitar 300 mil di selatan Pulau Adak, Alaska, awak kapal mendeteksi kemunculan asap dari dek yang menyimpan kendaraan listrik. Sebuah detail krusial yang langsung memicu alarm di seluruh industri.
Meskipun sistem pencegah kebakaran CO2 kapal telah diaktifkan—sebuah prosedur standar—upaya itu sia-sia. Api sempat padam, namun kembali menyala dengan ganas setelah pasokan CO2 habis.
Menghadapi api yang tak terkendali, kapten kapal tak punya pilihan selain mengeluarkan sinyal darurat. Seluruh 22 awak kapal berhasil menyelamatkan diri ke rakit penyelamat sebelum ditolong oleh kapal kargo Cosco Hellas yang kebetulan melintas. Mereka selamat tanpa cedera, namun meninggalkan kapal senilai triliunan rupiah beserta isinya untuk ditelan api.
Zodiac Maritime, perusahaan yang mengelola kapal tersebut, mengonfirmasi bahwa kapal itu membawa 3.048 kendaraan, termasuk 70 mobil listrik murni dan 681 mobil hybrid. Selain itu, kapal ini juga membawa "bahan bakar" tambahan untuk api: sekitar 350 metrik ton gas cair dan 1.530 ton bahan bakar minyak.
Pihak berwenang memang belum mengonfirmasi merek atau model kendaraan yang menjadi sumber api. Namun, fakta bahwa api berasal dari dek EV sudah cukup untuk membuat industri asuransi dan logistik menahan napas. Insiden Felicity Ace, yang menenggelamkan ribuan mobil mewah termasuk Porsche dan Bentley, telah membuktikan betapa sulitnya memadamkan api yang berasal dari baterai lithium-ion.
Kebakaran Morning Midas ini menjadi tamparan keras. Ini bukan lagi soal "jika" kebakaran serupa terjadi, tapi "kapan" yang berikutnya akan terjadi. Apakah protokol keamanan di kapal kargo modern sudah cukup mumpuni untuk menangani risiko dari ribuan baterai bertegangan tinggi yang dijejalkan dalam satu ruang tertutup?
Dunia kini hanya bisa menunggu dan menyaksikan dari kejauhan, sementara sebuah kapal hantu terus membara, mengancam akan menumpahkan racun dan rongsokan ribuan mobil ke dasar samudra. Sebuah monumen mahal dari kegagalan industri untuk belajar dari bencanasebelumnya.
Yang lebih mengerikan, di antara ribuan mobil itu, terdapat 800 unit kendaraan listrik (EV) dan hybrid—kargo yang kini dicurigai sebagai pemicu neraka di lautan.
Insiden ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah pengulangan dari bencana Felicity Ace pada tahun 2022, sebuah deja vu tragis yang secara brutal mempertanyakan: apakah ada bom waktu yang berdetak di setiap kapal pengangkut mobil listrik?

Kapal berbendera Inggris sepanjang 600 kaki itu sedang dalam perjalanan menuju Meksiko saat malapetaka terjadi pada 3 Juni lalu. Di lokasi terpencil, sekitar 300 mil di selatan Pulau Adak, Alaska, awak kapal mendeteksi kemunculan asap dari dek yang menyimpan kendaraan listrik. Sebuah detail krusial yang langsung memicu alarm di seluruh industri.
Meskipun sistem pencegah kebakaran CO2 kapal telah diaktifkan—sebuah prosedur standar—upaya itu sia-sia. Api sempat padam, namun kembali menyala dengan ganas setelah pasokan CO2 habis.
Menghadapi api yang tak terkendali, kapten kapal tak punya pilihan selain mengeluarkan sinyal darurat. Seluruh 22 awak kapal berhasil menyelamatkan diri ke rakit penyelamat sebelum ditolong oleh kapal kargo Cosco Hellas yang kebetulan melintas. Mereka selamat tanpa cedera, namun meninggalkan kapal senilai triliunan rupiah beserta isinya untuk ditelan api.
Zodiac Maritime, perusahaan yang mengelola kapal tersebut, mengonfirmasi bahwa kapal itu membawa 3.048 kendaraan, termasuk 70 mobil listrik murni dan 681 mobil hybrid. Selain itu, kapal ini juga membawa "bahan bakar" tambahan untuk api: sekitar 350 metrik ton gas cair dan 1.530 ton bahan bakar minyak.
Pihak berwenang memang belum mengonfirmasi merek atau model kendaraan yang menjadi sumber api. Namun, fakta bahwa api berasal dari dek EV sudah cukup untuk membuat industri asuransi dan logistik menahan napas. Insiden Felicity Ace, yang menenggelamkan ribuan mobil mewah termasuk Porsche dan Bentley, telah membuktikan betapa sulitnya memadamkan api yang berasal dari baterai lithium-ion.
Kebakaran Morning Midas ini menjadi tamparan keras. Ini bukan lagi soal "jika" kebakaran serupa terjadi, tapi "kapan" yang berikutnya akan terjadi. Apakah protokol keamanan di kapal kargo modern sudah cukup mumpuni untuk menangani risiko dari ribuan baterai bertegangan tinggi yang dijejalkan dalam satu ruang tertutup?
Dunia kini hanya bisa menunggu dan menyaksikan dari kejauhan, sementara sebuah kapal hantu terus membara, mengancam akan menumpahkan racun dan rongsokan ribuan mobil ke dasar samudra. Sebuah monumen mahal dari kegagalan industri untuk belajar dari bencanasebelumnya.
(dan)
Lihat Juga :