Huawei Klaim Bikin Baterai Mobil Listrik dengan Jarak Tempuh 3.000 Km, Realita atau Fatamorgana?

Jum'at, 27 Juni 2025 - 12:06 WIB
loading...
Huawei Klaim Bikin Baterai...
Banyak yang menganggap jarak 3.000 km dalam sekali pengisian daya itu tidak realistis. Foto: ist
A A A
BEIJING - Huawei, raksasa teknologi yang lebih kita kenal lewat ponsel pintar dan jaringannya, tiba-tiba mengklaim telah memegang kunci menuju revolusi mobil listrik: sebuah paten baterai solid-state generasi baru.

Janjinya tidak main-main dan terdengar seperti fiksi ilmiah: jarak tempuh hingga 3.000 kilometer dalam sekali pengisian daya, yang konon hanya memakan waktu lima menit.

Jika klaim ini terbukti, ini bukan lagi sekadar inovasi. Ini adalah sebuah "kiamat" bagi teknologi baterai yang ada saat ini dan akhir dari momok "kecemasan akan jarak tempuh" (range anxiety) yang selama ini menghantui para pemilik mobil listrik.

Namun, di balik angka-angka fantastis yang memabukkan itu, para ilmuwan dan analis mengajak kita untuk menarik napas dalam-dalam dan melihat lebih dekat. Apakah ini benar-benar sebuah lompatan kuantum, atau sekadar spekulasi laboratorium yang dibesar-besarkan?

Membongkar 'Resep Rahasia' Huawei

Di jantung klaim Huawei, terdapat teknologi baterai Lithium-Sulfur (Li-S) berbasis solid-state. Para ilmuwan di laboratorium Huawei telah melakukan sebuah trik cerdas: mereka "mencampurkan" (atau istilah teknisnya, doping) senyawa nitrogen ke dalam kimia baterai.

Bayangkan baterai Anda seperti pembuluh darah. Seiring waktu, muncul "plak" yang menyumbat aliran dan akhirnya menyebabkan kegagalan. Dalam baterai, plak ini disebut dendrit. Nitrogen yang ditambahkan Huawei berfungsi seperti "pembersih plak", memastikan reaksi kimia utama terus berjalan lancar, menjaga suhu tetap dingin, dan memperpanjang umur baterai secara dramatis.

"Trik kimia ini membersihkan kontak, memungkinkan bahan kimia utama terus bereaksi, membantu siklus pengisian daya, dan menjaga suhu lebih rendah dari baterai konvensional," demikian inti dari penjelasan teknis tersebut.

Hasilnya, para ilmuwan menargetkan kepadatan energi yang luar biasa, mencapai 400Wh/kg, dengan potensi menembus angka 600Wh/kg. Sebagai perbandingan, baterai canggih di Porsche Taycan saat ini hanya memiliki kepadatan energi sekitar 169Wh/kg.

Saat Angka Bicara dan Realita Menampar

Di sinilah angka-angka di atas kertas mulai berbenturan dengan hukum fisika di dunia nyata. Angka magis 3.000 km itu, menurut para analis, adalah hasil ekstrapolasi liar dari target kepadatan energi tersebut. Banyak yang menganggap jarak 3.000 km dalam sekali pengisian daya itu tidak realistis.

Untuk menempuh jarak sejauh itu dengan tingkat konsumsi energi mobil listrik saat ini, Anda akan membutuhkan baterai raksasa berkapasitas 500kWh. Jika para ilmuwan Huawei berhasil mencapai kepadatan energi 500Wh/kg, maka baterai tersebut akan memiliki bobot satu ton penuh.

Sebagai gambaran, bobot itu 1,5 kali lebih berat dari seluruh unit baterai 93kWh pada Porsche Taycan, yang hanya mampu menempuh jarak sekitar 480 km. Anda bisa bayangkan sebuah mobil harus menggotong beban seberat itu.
Lalu bagaimana dengan klaim pengisian daya lima menit? Itu adalah topik lain yang lebih rumit, menyangkut infrastruktur pengisian daya super cepat yang bahkan belum ada di angan-angan saat ini.

Jadi, apakah paten Huawei ini omong kosong? Tidak juga. Ini adalah sebuah kemajuan ilmiah yang menjanjikan di tingkat laboratorium.

Namun, mengubahnya menjadi produk komersial yang aman, ringan, dan terjangkau untuk mobil produksi massal adalah sebuah tantangan raksasa yang mungkin masih membutuhkan waktu bertahun-tahun, jika bukanpuluhantahun.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fakta Baru Pasar Mobil...
Fakta Baru Pasar Mobil Eropa: Mobil Bensin Turun, EV dan Merek China Melesat
Huawei Luncurkan MPV...
Huawei Luncurkan MPV Supermewah ala Rolls-Royce
Ford Fiesta Akan Kembali...
Ford Fiesta Akan Kembali di Tahun 2028 dengan Platform Renault 5 EV
Spesifikasi VW ID. Polo...
Spesifikasi VW ID. Polo GTI: Harga Rp750 Juta, Jarak 417 KM, bisa Kejar ID. Buzz?
Siapa Mobil Listrik...
Siapa Mobil Listrik Terlaris di Indonesia April 2026?
Harga Bensin Selangit,...
Harga Bensin Selangit, Amerika Justru Ogah Pindah ke Mobil Listrik
Huawei, Oppo, vivo,...
Huawei, Oppo, vivo, Xiaomi, dan Honor Dituduh Contek Teknologi iPhone
HUAWEI WATCH FIT 5 Series...
HUAWEI WATCH FIT 5 Series Bawa Diabetes Risk Study dan Ultra Sports Tracking
1 dari 9 Orang Indonesia...
1 dari 9 Orang Indonesia Kena Diabetes, Huawei Bawa Solusi di Pergelangan Tangan
Rekomendasi
Rayakan 70 Juta Streaming...
Rayakan 70 Juta Streaming ‘Masa Ini, Nanti, dan Masa Indah Lainnya’, Nuca Adakan '[LAGI] Sama Nuca’
Inggris vs DR Kongo:...
Inggris vs DR Kongo: Gol Kilat Brian Cipenga Kejutkan The Three Lions
PN Jaktim Izinkan Siaran...
PN Jaktim Izinkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa kecuali Tahap Pembuktian
Berita Terkini
Benedetto Vigna: Jika...
Benedetto Vigna: Jika Mobil Otonom Bisa Mengemudi Sendiri, Mengapa Membeli Ferrari
XPENG V1SION Night 2026,...
XPENG V1SION Night 2026, Tandai Babak Baru XPENG di Indonesia
Volkswagen Group Disinyalir...
Volkswagen Group Disinyalir Akan Menjual Ducati?
Ber-DNA Lancer, Mitsubishi...
Ber-DNA Lancer, Mitsubishi Attrage 2026 Dipastikan Siap Diluncurkan
Mau Beli Mobil Baru...
Mau Beli Mobil Baru atau Bekas? OLX Kini Sediakan Keduanya dalam Satu Platform
Bawa SIMC ke PRJ 2026...
Bawa SIMC ke PRJ 2026 Bisa Dapat Subsidi Harga Kendaraan Listrik
Infografis
Ditolak AS dan Eropa,...
Ditolak AS dan Eropa, Mobil Listrik China Incar Asia Tenggara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved