Setelah Dihalau di Barat, Raksasa Otomotif China Kini Menjadikan Afrika Medan Perang Baru
Sabtu, 28 Juni 2025 - 17:34 WIB
loading...
A
A
A
"Kami memperlakukan Afrika Selatan sebagai pasar yang sangat penting untuk ekspansi global kami," ujar Tony Liu, CEO Chery Afrika Selatan. Ia menyebut pasar mobil paling maju di Afrika itu sebagai "pintu gerbang menuju benua Afrika."
Keseriusan mereka terlihat dari data. Hampir setengah dari 14 merek otomotif China yang kini aktif di Afrika Selatan baru diluncurkan tahun lalu. Ini adalah sebuah invasi senyap yang kini mulai menunjukkan kekuatannya.
"Kendaraan listrik baterai belum benar-benar lepas landas di Afrika Selatan," aku Hans Greyling, General Manager Omoda & Jaecoo. "Kami mengambil rute untuk lebih fokus pada mobil hybrid tradisional atau plug-in hybrid."
Mobil hybrid dianggap sebagai jembatan yang sempurna. Ia memperkenalkan konsumen pada teknologi elektrifikasi tanpa menimbulkan "kecemasan akan pengisian daya". Begitu pasar mulai terbiasa dan infrastruktur membaik, barulah gelombang mobil listrik murni akan dilepaskan secara penuh.
Targetnya pun jelas: menawarkan teknologi canggih dengan harga yang tak bisa ditolak. Mereka fokus untuk meluncurkan mobil-mobil hybrid dan listrik dengan harga di bawah 400.000 rand (sekitar Rp340 jutaan).
Keseriusan mereka terlihat dari data. Hampir setengah dari 14 merek otomotif China yang kini aktif di Afrika Selatan baru diluncurkan tahun lalu. Ini adalah sebuah invasi senyap yang kini mulai menunjukkan kekuatannya.
Strategi Dua Langkah: Hybrid Dulu, Listrik Kemudian
Para eksekutif China ini tidak naif. Mereka sadar betul bahwa menjual mobil listrik murni di benua dengan pasokan listrik yang tidak stabil dan minim infrastruktur pengisian daya adalah sebuah pertaruhan besar. Oleh karena itu, mereka mengadopsi strategi dua langkah yang cerdik."Kendaraan listrik baterai belum benar-benar lepas landas di Afrika Selatan," aku Hans Greyling, General Manager Omoda & Jaecoo. "Kami mengambil rute untuk lebih fokus pada mobil hybrid tradisional atau plug-in hybrid."
Mobil hybrid dianggap sebagai jembatan yang sempurna. Ia memperkenalkan konsumen pada teknologi elektrifikasi tanpa menimbulkan "kecemasan akan pengisian daya". Begitu pasar mulai terbiasa dan infrastruktur membaik, barulah gelombang mobil listrik murni akan dilepaskan secara penuh.
Targetnya pun jelas: menawarkan teknologi canggih dengan harga yang tak bisa ditolak. Mereka fokus untuk meluncurkan mobil-mobil hybrid dan listrik dengan harga di bawah 400.000 rand (sekitar Rp340 jutaan).
Lihat Juga :