Napas Buatan untuk Mobil Rakyat: Insentif LCGC Diperpanjang di Tengah Penjualan yang Sekarat
Rabu, 16 Juli 2025 - 10:27 WIB
loading...
A
A
A
Secara total sepanjang semester pertama 2025, penjualan hanya mencapai 64.063 unit, turun drastis 28,5% dari semester pertama 2024.
Angka-angka ini adalah sebuah alarm yang berbunyi sangat nyaring. "Mobil rakyat" yang dulu menjadi primadona kini semakin jarang dilirik.
Harga yang Tak Lagi "Murah": Sejak dikenakan PPnBM sebesar 3% pada 2021, harga mobil LCGC terus merangkak naik. Statusnya sebagai mobil terjangkau mulai terkikis. Varian tertinggi beberapa model bahkan sudah menembus angka psikologis Rp200 juta.
Daya Beli Melemah: Anjloknya penjualan di segmen paling dasar ini seringkali menjadi cerminan langsung dari melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Persaingan dari Segmen Lain: Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan. Dengan menabung sedikit lebih lama, mereka bisa mendapatkan mobil non-LCGC atau SUV kompak yang menawarkan fitur dan gengsi lebih tinggi.
Angka-angka ini adalah sebuah alarm yang berbunyi sangat nyaring. "Mobil rakyat" yang dulu menjadi primadona kini semakin jarang dilirik.
Mengapa "Mobil Murah" Tak Lagi Laku?
Penurunan drastis ini bukan terjadi tanpa sebab. Beberapa faktor menjadi biang keladi mengapa segmen LCGC kehilangan pesonanya:Harga yang Tak Lagi "Murah": Sejak dikenakan PPnBM sebesar 3% pada 2021, harga mobil LCGC terus merangkak naik. Statusnya sebagai mobil terjangkau mulai terkikis. Varian tertinggi beberapa model bahkan sudah menembus angka psikologis Rp200 juta.
Daya Beli Melemah: Anjloknya penjualan di segmen paling dasar ini seringkali menjadi cerminan langsung dari melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Persaingan dari Segmen Lain: Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan. Dengan menabung sedikit lebih lama, mereka bisa mendapatkan mobil non-LCGC atau SUV kompak yang menawarkan fitur dan gengsi lebih tinggi.
Lihat Juga :