Jebakan Biaya Tersembunyi Mobil Listrik: Irit di Jalan, tapi Bisa Bikin Kantong Bolong di Bengkel

Selasa, 19 Agustus 2025 - 10:00 WIB
loading...
Jebakan Biaya Tersembunyi...
Jika terjadi kecelakaan, biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki mobil listrik lebih mahal karena komponen baterai. Foto: Reuters
A A A
JERMAN - Di tengah kampanye masif tentang masa depan yang lebih hijau, mobil listrik (EV) datang dengan janji manis: biaya operasional super irit dan bebas dari antrean SPBU. Namun, di balik narasi indah itu, tersembunyi sebuah 'jebakan' finansial yang baru terasa saat musibah terjadi di jalan raya.

Sebuah studi mengungkap ongkos perbaikan kecelakaan mobil listrik ternyata jauh lebih mahal daripada mobil bensin.
Kenyataan pahit ini datang dari sebuah riset mendalam oleh Asosiasi Asuransi Jerman (GDV), salah satu pasar EV paling matang di dunia.

Data mereka menunjukkan, biaya klaim asuransi untuk perbaikan bodi dan sasis mobil listrik secara konsisten 15-20% lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional dengan kelas yang sama. Ini adalah sebuah paradoks yang jarang dibicarakan.

'Bom Waktu' Bernama Baterai

Lalu, apa yang membuat biayanya membengkak? Jawabannya terletak pada komponen termahal sekaligus jantung dari setiap mobil listrik: baterai. Komponen ini bisa bernilai 40-60% dari total harga mobil.

Sebuah benturan yang tampaknya sepele di bagian bawah atau samping mobil berisiko merusak struktur baterai, yang seringkali berujung pada satu-satunya solusi yang direkomendasikan bengkel resmi: penggantian total.

Bayangkan skenario ini: Anda memiliki mobil listrik seharga Rp500 juta. Biaya penggantian baterainya saja bisa mencapai Rp200 juta hingga Rp300 juta.

Angka fantastis ini sontak menghapus semua penghematan biaya bensin yang telah Anda kumpulkan selama bertahun-tahun.

Selain itu, perbaikan yang melibatkan sistem tegangan tinggi juga memerlukan mekanik bersertifikasi khusus dan peralatan yang tidak dimiliki semua bengkel, yang tentu saja menambah ongkos jasa.

Jika Jerman Saja Mahal, Bagaimana dengan Indonesia?

Kritik paling tajam justru muncul saat kita menarik data ini ke konteks Indonesia. Studi di Jerman dilakukan di negara dengan populasi 1,65 juta mobil listrik di jalanannya.

Di sana, ekosistem sudah mulai matang. Lantas, jika di Jerman saja biayanya masih lebih tinggi, bagaimana dengan kondisi di Tanah Air?

Kesiapan bengkel lokal, ketersediaan suku cadang (terutama modul baterai), dan jumlah mekanik ahli EV yang masih terbatas berpotensi membuat selisih biaya perbaikan di Indonesia menjadi lebih lebar lagi. Risiko menunggu komponen berbulan-bulan dari luar negeri adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi pemilik EV di Indonesia saat ini.

Meski begitu, ada secercah harapan. Wakil Direktur Jenderal GDV, Anja Käfer-Rohrbach, menyatakan bahwa biaya perbaikan ini sejatinya sudah menurun dari sebelumnya yang mencapai 20-25% lebih mahal.

"Rangkaian model yang lebih luas, dan bengkel, perusahaan derek, pemadam kebakaran, serta penilai kini memiliki lebih banyak pengalaman menangani mobil listrik yang rusak," ujar Anja. Ia optimis biaya akan terus ditekan seiring mobil listrik menjadi "normal baru".

Pada akhirnya, ini bukanlah argumen untuk menolak mobil listrik, melainkan sebuah realitas yang harus diterima. Janji efisiensi itu nyata, namun datang dengan risiko finansial baru yang tak terlihat.

Calon pembeli harus sadar bahwa di balik penghematan biaya harian, ada potensi 'bom waktu' biaya perbaikan yang membuat kepemilikan mobil masa depan ini membutuhkan perhitungan yang jauhlebihcermat.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Volkswagen Group Akan...
Volkswagen Group Akan Hentikan Produksinya Setengah pada 2030
Hyundai Pamer Ioniq...
Hyundai Pamer Ioniq V Berdesain Cyberpunk dengan Jarak Tempuh 620 km
Bentley Siap Luncurkan...
Bentley Siap Luncurkan Mobil Listrik Pertamanya September Tahun Ini
Risiko Berkendara Jarak...
Risiko Berkendara Jarak Jauh dengan Mobil Listrik Selain Kehabisan Baterai
Ironi Polestar: Dirakit...
Ironi Polestar: Dirakit di Amerika, tapi Tetap Dilarang Karena Software China
Jelajahi Dataran Tinggi...
Jelajahi Dataran Tinggi dan Perkotaan, BYD M6 DM Media Challenge Buktikan Efisiensi Teknologi Dual Mode
China Ciptakan Baterai...
China Ciptakan Baterai Nuklir yang Bisa Bertahan Ribuan Tahun
Pemprov Jatim Dukung...
Pemprov Jatim Dukung BYD Tech-Culture Fest 2026
Gaikindo Minta Stimulus...
Gaikindo Minta Stimulus Semua Jenis Kendaraan, Tak Hanya Mobil Listrik
Rekomendasi
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
Iran Bombardir Pangkalan...
Iran Bombardir Pangkalan AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman
Komedian Temon Meninggal...
Komedian Temon Meninggal Dunia, Aldi Taher: Saya Bersaksi Abang Orang Baik
Berita Terkini
Volkswagen Group Akan...
Volkswagen Group Akan Hentikan Produksinya Setengah pada 2030
Yamaha Aerox E Murni...
Yamaha Aerox E Murni Bertenaga Listrik Resmi Diluncurkan
Hadir dan Sapa Masyarakat...
Hadir dan Sapa Masyarakat Batam, ACC Carnival Tebar Promo Menarik
Ngegas Naik Changan...
Ngegas Naik Changan Deepal S05 Jakarta- Ciletuh, Ternyata Begini Rasanya
Kenapa BAIC Taruh Setengah...
Kenapa BAIC Taruh Setengah Nasib 2026 di Tangan T1?
Berteknologi 3D Bespoke...
Berteknologi 3D Bespoke Scan, Otoproject Kenalkan Karpet Bisa Lakukan Pemetaan
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved