Babak Baru Industri EV Indonesia: Terapi Kejut Impor Berakhir 2025, Fokus Penuh Kini Beralih ke Produksi Lokal
Senin, 25 Agustus 2025 - 23:27 WIB
loading...
A
A
A
“Pangsa pasar kendaraan berbasis internal combustion engine (ICE) mengalami penurunan. Hal ini mencerminkan adanya pergeseran preferensi konsumen menuju kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kebijakan dan insentif pemerintah mulai membuahkan hasil,” ujar Tunggul dalam diskusi "Polemik BEV Impor" di Jakarta, Senin (25/8).
Lebih dari itu, "umpan" ini sukses besar. Tercatat, enam perusahaan otomotif global, termasuk raksasa seperti BYD dan VinFast, telah meneken komitmen investasi senilai total Rp15 Triliun dengan rencana penambahan kapasitas produksi hingga 305 ribu unit di Indonesia.
“Banyak perusahaan komponen juga mengeluh, karena suplai ke pabrikan kurang. Untung mereka masih ada ekspor. Tetapi ada sebagian yang sudah melakukan PHK,” tegas Kukuh.
Pandangan ini didukung oleh Riyanto, peneliti dari LPEM UI, yang mencatat bahwa mobil listrik impor kini merajai pasar domestik dengan porsi 64%. Namun, ia menegaskan bahwa inilah saatnya untuk beralih.
“Seharusnya insentif BEV CBU tidak diperpanjang, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi pusat produksi BEV,” kata Riyanto, menyuarakan sentimen bahwa fase "tes pasar" telah berhasil dan kini saatnya fokus pada industri dalam negeri.
Lebih dari itu, "umpan" ini sukses besar. Tercatat, enam perusahaan otomotif global, termasuk raksasa seperti BYD dan VinFast, telah meneken komitmen investasi senilai total Rp15 Triliun dengan rencana penambahan kapasitas produksi hingga 305 ribu unit di Indonesia.
Suara dari Medan Perang Industri
Tentu, setiap perubahan besar pasti menimbulkan guncangan. Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyoroti dampak jangka pendek dari serbuan mobil impor ini, termasuk turunnya utilisasi pabrik mobil konvensional menjadi 55% dan adanya PHK di beberapa perusahaan komponen.“Banyak perusahaan komponen juga mengeluh, karena suplai ke pabrikan kurang. Untung mereka masih ada ekspor. Tetapi ada sebagian yang sudah melakukan PHK,” tegas Kukuh.
Pandangan ini didukung oleh Riyanto, peneliti dari LPEM UI, yang mencatat bahwa mobil listrik impor kini merajai pasar domestik dengan porsi 64%. Namun, ia menegaskan bahwa inilah saatnya untuk beralih.
“Seharusnya insentif BEV CBU tidak diperpanjang, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi pusat produksi BEV,” kata Riyanto, menyuarakan sentimen bahwa fase "tes pasar" telah berhasil dan kini saatnya fokus pada industri dalam negeri.
Lihat Juga :