Perang Saudara Mobil Listrik vs Plug-in Hybrid di China, Siapa Pemenangnya?
Rabu, 17 September 2025 - 20:18 WIB
loading...
Mobil listrik dan plug-in hybrid di China terus bersaing dalam hal penjualan. Foto: Reuters
A
A
A
CHINA - Selama ini, publik meyakini bahwa masa depan mobil listrik adalah mobil yang sepenuhnya ditenagai baterai (BEV). BEV adalah sang "anak emas", simbol dari revolusi hijau yang bersih dan tanpa kompromi.
Namun, di China, pasar mobil listrik terbesar di dunia, ada sebuah "pemberontakan".
Sang pemberontak adalah kerabat tirinya: mobil Plug-in Hybrid (PHEV), si blasteran yang masih memiliki mesin bensin di samping motor listriknya.
Secara mengejutkan, antara 2022 hingga 2024, pangsa pasar PHEV di China meroket dari 23% menjadi 42% dari total pasar kendaraan listrik.
Mereka nyaris merebut separuh kerajaan yang seharusnya menjadi milik saudaranya yang full listrik.
Menariknya, kisah kebangkitan yang dramatis ini kini menghadapi sebuah plot twist baru. Pemerintah China, yang kebijakannya telah membesarkan sang "pemberontak", kini bersiap untuk "mengkhianatinya".
Ini adalah hasil dari serangkaian "doping" regulasi yang membuat PHEV terlihat jauh lebih menarik daripada yang sebenarnya.
'Rumus Ajaib' yang Terlalu Optimistis: Pemerintah China menggunakan "rumus ajaib" (utility factor) untuk memperkirakan seberapa sering PHEV berjalan menggunakan mode listriknya.
Rumus lama ini sangat longgar. Sebagai contoh, sebuah PHEV dengan jangkauan listrik 100 km secara ajaib dianggap berjalan 80% menggunakan listrik di dunia nyata.
Akibatnya, emisi dan konsumsi bahan bakarnya di atas kertas menjadi sangat rendah, menjadikannya "senjata" murah dan mudah bagi para produsen mobil untuk memenuhi target emisi yang ketat.
'Jalan Tol' Menuju Kredit Karbon: Kebijakan kredit karbon di China juga sangat memanjakan PHEV. Sebuah PHEV dengan jangkauan listrik hanya 43 km bisa mendapatkan satu kredit EV.
Sementara itu, sebuah mobil full listrik (BEV) harus memiliki jangkauan minimal 137 km dan serangkaian teknologi canggih lainnya untuk mendapatkan kredit yang sama.
Insentif Konsumen yang Sama Rata: Konsumen yang membeli PHEV menikmati pembebasan pajak pembelian yang sama (sekitar 10% dari harga mobil) dan insentif tukar tambah (hingga USD2.000) seperti pembeli BEV.
Di bawah aturan baru ini, PHEV dengan jangkauan listrik 100 km yang sama kini hanya akan dianggap berjalan 65% menggunakan listrik, bukan lagi 80%. Perubahan ini secara drastis akan mengurangi "nilai" PHEV sebagai alat pemenuhan regulasi bagi para produsen.
Langkah ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah China mulai menyadari bahwa "doping" regulasi ini telah menciptakan distorsi di pasar. Mereka kini mulai menarik kembali hak-hak istimewa sang "anak manja".
"Perang saudara" di dunia mobil listrik kini memasuki babak baru yang lebih adil. Era di mana PHEV dianakemaskan oleh regulasi akan segera berakhir.
Masa depan pasar mobil listrik, baik di China maupun di seluruh dunia, kini akan ditentukan di atas medan pertempuran yang lebih setara—di mana inovasi sejati dan preferensi konsumen, bukan lagi sekadar celah regulasi, yang akan menjadi penentukemenangan.
Namun, di China, pasar mobil listrik terbesar di dunia, ada sebuah "pemberontakan".
Sang pemberontak adalah kerabat tirinya: mobil Plug-in Hybrid (PHEV), si blasteran yang masih memiliki mesin bensin di samping motor listriknya.
Secara mengejutkan, antara 2022 hingga 2024, pangsa pasar PHEV di China meroket dari 23% menjadi 42% dari total pasar kendaraan listrik.
Mereka nyaris merebut separuh kerajaan yang seharusnya menjadi milik saudaranya yang full listrik.
Menariknya, kisah kebangkitan yang dramatis ini kini menghadapi sebuah plot twist baru. Pemerintah China, yang kebijakannya telah membesarkan sang "pemberontak", kini bersiap untuk "mengkhianatinya".
'Doping' Regulasi di Balik Ledakan PHEV
Anomali meroketnya PHEV di China, yang sangat kontras dengan pasar Eropa di mana pangsa pasarnya justru turun dari 41% menjadi 33% pada periode yang sama, bukanlah sebuah kebetulan.Ini adalah hasil dari serangkaian "doping" regulasi yang membuat PHEV terlihat jauh lebih menarik daripada yang sebenarnya.
'Rumus Ajaib' yang Terlalu Optimistis: Pemerintah China menggunakan "rumus ajaib" (utility factor) untuk memperkirakan seberapa sering PHEV berjalan menggunakan mode listriknya.
Rumus lama ini sangat longgar. Sebagai contoh, sebuah PHEV dengan jangkauan listrik 100 km secara ajaib dianggap berjalan 80% menggunakan listrik di dunia nyata.
Akibatnya, emisi dan konsumsi bahan bakarnya di atas kertas menjadi sangat rendah, menjadikannya "senjata" murah dan mudah bagi para produsen mobil untuk memenuhi target emisi yang ketat.
'Jalan Tol' Menuju Kredit Karbon: Kebijakan kredit karbon di China juga sangat memanjakan PHEV. Sebuah PHEV dengan jangkauan listrik hanya 43 km bisa mendapatkan satu kredit EV.
Sementara itu, sebuah mobil full listrik (BEV) harus memiliki jangkauan minimal 137 km dan serangkaian teknologi canggih lainnya untuk mendapatkan kredit yang sama.
Insentif Konsumen yang Sama Rata: Konsumen yang membeli PHEV menikmati pembebasan pajak pembelian yang sama (sekitar 10% dari harga mobil) dan insentif tukar tambah (hingga USD2.000) seperti pembeli BEV.
Angin Perubahan Telah Tiba
Kini, "pesta" bagi para PHEV akan segera berakhir. Pada April 2025, pemerintah China mengusulkan revisi aturan yang akan mengubah segalanya. "Rumus ajaib" yang lama akan diganti dengan yang baru dan jauh lebih realistis, sejalan dengan apa yang sudah diterapkan di Eropa dan Amerika Serikat.Di bawah aturan baru ini, PHEV dengan jangkauan listrik 100 km yang sama kini hanya akan dianggap berjalan 65% menggunakan listrik, bukan lagi 80%. Perubahan ini secara drastis akan mengurangi "nilai" PHEV sebagai alat pemenuhan regulasi bagi para produsen.
Langkah ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah China mulai menyadari bahwa "doping" regulasi ini telah menciptakan distorsi di pasar. Mereka kini mulai menarik kembali hak-hak istimewa sang "anak manja".
Akhir dari Era Anak Emas?
Tanda-tanda pergeseran sudah mulai terlihat. Pada paruh pertama tahun 2025, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, pangsa pasar PHEV di pasar kendaraan listrik China justru turun dari 41% menjadi 38%."Perang saudara" di dunia mobil listrik kini memasuki babak baru yang lebih adil. Era di mana PHEV dianakemaskan oleh regulasi akan segera berakhir.
Masa depan pasar mobil listrik, baik di China maupun di seluruh dunia, kini akan ditentukan di atas medan pertempuran yang lebih setara—di mana inovasi sejati dan preferensi konsumen, bukan lagi sekadar celah regulasi, yang akan menjadi penentukemenangan.
(dan)
Lihat Juga :