Pasar Mobil Listrik AS Tertinggal dari China & Eropa Akibat Perang Politik
Selasa, 07 Oktober 2025 - 09:48 WIB
loading...
A
A
A
Model termurah, Nissan Leaf, dibanderol sekitar Rp500 juta. Sebagai perbandingan, di Inggris, beberapa model bisa didapat dengan harga di bawah Rp400 juta.
Ironisnya, mobil-mobil listrik murah dari China seperti BYD, yang sukses besar di pasar lain, diblokir dari pasar AS oleh tarif impor yang tinggi—kebijakan yang anehnya didukung oleh Biden dan Trump.
"Ini adalah pukulan telak bagi industri EV, tidak ada cara untuk menutup-nutupinya," kata Katherine Yusko, analis riset di American Security Project. "Subsidi pada awalnya adalah cara untuk menyeimbangkan persaingan, dan sekarang setelah hilang, AS punya banyak pekerjaan rumah yang harus dikejar."
Stephanie Brinley dari S&P Global Mobility memperingatkan bahwa tahun depan akan menjadi tahun yang sulit.
Dengan hilangnya insentif dan adanya tarif baru, ada dua dampak negatif yang menghantam secara bersamaan. Namun, ia juga melontarkan pertanyaan kritis yang menggantung di benak banyak orang.
"Apakah [listrik] benar-benar jalan yang tepat?" tanyanya. "Mengatakan bahwa kita tertinggal berarti kita berasumsi bahwa ini adalah satu-satunya solusi terbaik, dan saya pikir masih terlalu dini untukmengatakannya."
Ironisnya, mobil-mobil listrik murah dari China seperti BYD, yang sukses besar di pasar lain, diblokir dari pasar AS oleh tarif impor yang tinggi—kebijakan yang anehnya didukung oleh Biden dan Trump.
Badai Sempurna di Depan Mata
Kini, industri otomotif AS menghadapi badai sempurna: subsidi telah hilang, sementara tarif impor yang tinggi tetap berlaku. Para produsen mobil sudah mulai mengurangi investasi mereka pada mobil listrik."Ini adalah pukulan telak bagi industri EV, tidak ada cara untuk menutup-nutupinya," kata Katherine Yusko, analis riset di American Security Project. "Subsidi pada awalnya adalah cara untuk menyeimbangkan persaingan, dan sekarang setelah hilang, AS punya banyak pekerjaan rumah yang harus dikejar."
Stephanie Brinley dari S&P Global Mobility memperingatkan bahwa tahun depan akan menjadi tahun yang sulit.
Dengan hilangnya insentif dan adanya tarif baru, ada dua dampak negatif yang menghantam secara bersamaan. Namun, ia juga melontarkan pertanyaan kritis yang menggantung di benak banyak orang.
"Apakah [listrik] benar-benar jalan yang tepat?" tanyanya. "Mengatakan bahwa kita tertinggal berarti kita berasumsi bahwa ini adalah satu-satunya solusi terbaik, dan saya pikir masih terlalu dini untukmengatakannya."
(dan)
Lihat Juga :