Mengejutkan, Data 800.000 Mobil Menunjukkan Plug-in Hybrid Ternyata Sama Kotornya dengan Bensin

Jum'at, 17 Oktober 2025 - 11:45 WIB
loading...
Mengejutkan, Data 800.000...
Data dari 800.000 mobil membuktikan polusi mobil hybrid (PHEV) ternyata 5 kali lipat dari klaim di brosur. Foto: Alamy
A A A
BRUSSELS - Laporan investigatif yang dirilis oleh kelompok advokasi nirlaba Transport and Environment mengejutkan industri otomotif global.

Laporan tersebut, yang menganalisis data riil dari 800.000 mobil di Eropa, menyimpulkan bahwa kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicles (PHEV) menghasilkan polusi karbon dioksida hampir lima kali lipat (4,9x) lebih tinggi dibandingkan angka yang tertera pada uji laboratorium resmi.

Temuan ini secara fundamental meruntuhkan narasi "hijau" yang selama ini dipromosikan oleh produsen mobil Eropa dan membuka risiko litigasi, denda regulasi, serta koreksi sentimen pasar yang signifikan terhadap teknologi yang diposisikan sebagai jembatan transisi ke era kendaraan listrik murni.

Dekonstruksi Klaim Efisiensi

Laporan ini membedah data dari meteran konsumsi bahan bakar internal mobil yang terdaftar antara 2021 dan 2023. Data mentah ini mengungkap diskrepansi masif antara klaim pemasaran dan kinerja di dunia nyata.

Klaim vs. Realita: Dalam uji laboratorium, PHEV diasumsikan 75% lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil bensin/diesel. Namun, data riil menunjukkan tingkat pengurangan emisi CO2 hanya 19%.

Kesenjangan Melebar: Kesenjangan antara emisi riil dan emisi uji resmi semakin memburuk. Pada 2021, emisi riil 3,5 kali lebih tinggi. Angka ini membengkak menjadi 4,9 kali lebih tinggi pada 2023.

Kegagalan "Utility Factor": Penyebab utama kesenjangan ini adalah asumsi keliru mengenai "utility factor" (rasio jarak tempuh mode listrik terhadap total jarak). Regulator mengasumsikan 84% perjalanan dilakukan dalam mode listrik, padahal data riil menunjukkan angka sebenarnya hanya 27%.

Ilusi Mode Listrik: Bahkan saat dioperasikan dalam mode "listrik", laporan menemukan bahwa mesin bensin tetap menyala untuk menopang motor listrik selama hampir sepertiga (1/3) dari jarak yang ditempuh.

Sofía Navas Gohlke, peneliti di Transport and Environment dan salah satu penulis laporan, menyatakan:

"Emisi di dunia nyata terus naik, sementara emisi resmi terus turun. Kesenjangan ini semakin parah dan ini adalah masalah nyata. Akibatnya, PHEV menghasilkan polusi yang hampir sama banyaknya dengan mobil bensin."

Implikasi Finansial dan Risiko Regulasi

Data ini memiliki konsekuensi finansial langsung yang sangat besar, baik bagi korporasi maupun konsumen.

Penghindaran Denda Korporasi: Laporan menghitung bahwa klaim emisi yang direkayasa rendah ini telah memungkinkan empat grup produsen mobil besar untuk menghindari potensi denda lebih dari 5 miliar Euro (Rp86 triliun) antara tahun 2021 dan 2023.

Angka ini merupakan subsidi tersembunyi yang didapat dari celah regulasi.

Beban Konsumen: Konsumen yang membeli PHEV dengan asumsi efisiensi bahan bakar yang tinggi ternyata harus membayar sekitar 500 Euro (Rp8,6 juta) lebih mahal per tahun untuk biaya operasional (bahan bakar) dibandingkan ekspektasi yang diciptakan oleh uji laboratorium.

Colin Walker, seorang analis transportasi di Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU), memberikan kritik tajam.
“Klaim berani yang suka dibuat oleh produsen tentang kendaraan plug-in hybrid mereka jelas-jelas meleset jauh.

Konsumen ditipu untuk percaya bahwa dengan membeli PHEV, mereka membantu lingkungan dan menghemat uang.

Kenyataannya, PHEV hanya sedikit lebih baik daripada mobil bensin dan diesel biasa dalam hal bahan bakar yang mereka konsumsi, CO2 yang mereka hasilkan, dan biaya operasionalnya.”

Temuan ini divalidasi oleh pakar independen. Patrick Plötz, Kepala Ekonomi Energi di Fraunhofer Institute, yang tidak terlibat dalam studi ini, menyebut laporan ini sebagai "kontribusi yang sangat berguna."

"Hasil ini menunjukkan, tanpa keraguan, bahwa kesenjangan antara konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 PHEV yang resmi dan yang sebenarnya jauh, jauh lebih besar daripada mobil bensin atau diesel," tegas Plötz.

Laporan ini muncul di tengah lobi politik yang intens dari industri otomotif untuk melemahkan target emisi Uni Eropa, termasuk rencana pelarangan mobil bermesin pembakaran pada tahun 2035. Politisi senior, seperti Kanselir Jerman, telah menyuarakan dukungan untuk memberikan "fleksibilitas" pada aturan tersebut, dengan PHEV sering disebut sebagaicontohnya.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BYD Kenalkan ATTO 3...
BYD Kenalkan ATTO 3 di Pameran Beberapa Waktu Lalu, Perkuat Posisi SUV Listrik di Segmen Urban
BYD Ajak Lebih Dekat...
BYD Ajak Lebih Dekat dengan Teknologi Terkini di Beberapa Pameran Waktu Lalu, Ada Fitur Isi Daya Cepat
EREV: Jalan Tengah yang...
EREV: Jalan Tengah yang Diam-Diam Jadi Jawaban Industri Otomotif
Geliat EV Menguat, BYD...
Geliat EV Menguat, BYD Bidik Peran Strategis di Pasar Indonesia
VinFast Tak Mau Kompetisi...
VinFast Tak Mau Kompetisi Harga Tapi Beri Solusi Cerdas untuk Pelanggan
Ambisi Besar VinFast...
Ambisi Besar VinFast Jadi Pemain Utama Pasar EV di Indonesia
Harga BBM Tak Menentu,...
Harga BBM Tak Menentu, Mobil Listrik Jadi Solusi Penyelamat Dompet Masyarakat?
Dorong Keberlanjutan...
Dorong Keberlanjutan Cadangan Nikel, Apniper Susun Peta Jalan Mineral ke Metal
Singgung Emisi CO2,...
Singgung Emisi CO2, Menkeu Jelaskan Usulan Perubahan Pajak Kendaraan Listrik
Rekomendasi
Geledah Rumah di Sentul...
Geledah Rumah di Sentul Terkait 3 Kasus Korupsi, Polisi Sita Emas dan Uang Hampir Setengah Triliun
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Turun ke 5.865, Mayoritas Saham Berada di Zona Merah
Nurul Arifin Sebut Riset...
Nurul Arifin Sebut Riset SSI Bukti Bahlil Berhasil Terjemahkan Visi Prabowo ke Publik
Berita Terkini
Hyundai Pamer Ioniq...
Hyundai Pamer Ioniq V Berdesain Cyberpunk dengan Jarak Tempuh 620 km
Bentley Siap Luncurkan...
Bentley Siap Luncurkan Mobil Listrik Pertamanya September Tahun Ini
Risiko Berkendara Jarak...
Risiko Berkendara Jarak Jauh dengan Mobil Listrik Selain Kehabisan Baterai
Dituduh Meniru Porsche...
Dituduh Meniru Porsche Taycan, Bos MG Kehilangan Muka
Baojun Yep Plus: SUV...
Baojun Yep Plus: SUV Kotak Listrik Mirip Suzuki Jimny Harga Rp200 Jutaan
Baojun Huajing S: Wuling...
Baojun Huajing S: Wuling Bikin Kejutan dengan SUV yang Mendekati Kelas Range Rover
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved