Perang Harga Mobil Listrik China Akan Terasa di Seluruh Dunia
Senin, 24 November 2025 - 07:15 WIB
loading...
Mobil listrik Xiaomi SU7. FOTO/ DOK SindoNews
A
A
A
BEIJING - Seiring memanasnya perang harga EV di China, sebuah perkembangan baru mulai menarik perhatian dunia otomotif, munculnya model-model listrik dan plug-in hybrid.
Perubahan ini terlihat jelas di Pameran Otomotif Internasional Guangzhou, ketika produsen-produsen besar dan startup EV mulai menghadirkan model-model terjangkau dengan fitur-fitur modern yang tidak lagi eksklusif untuk segmen premium.
Sebagai permulaan, Leapmotor meluncurkan model A10, sebuah SUV listrik kompak yang diperkirakan akan dijual dengan harga sekitar 100.000 yuan.
Meskipun murah, perusahaan menjelaskan bahwa fokus utama A10 adalah kemampuan pengisian daya cepatnya, sesuatu yang sebelumnya hanya tersedia pada EV yang lebih mahal.
Yang lebih menarik, Leapmotor juga memperkenalkan Lafa 5, sebuah hatchback EV di kisaran harga yang sama. Melalui kemitraan strategis dengan Stellantis, kedua model ini diperkirakan akan dipasarkan secara agresif di luar Tiongkok.
Sementara itu, produsen mobil milik negara GAC, dengan merek Aion-nya, memamerkan i60, yang ditawarkan sebagai EV penuh atau EV dengan jangkauan lebih luas (plug-in hybrid).
Yang mengejutkan banyak orang adalah kedua versi ini dibanderol mulai dari 109.800 yuan, menunjukkan strategi penetapan harga agresif yang jarang terjadi.
Hasil ini juga mencerminkan tren terkini di Tiongkok, di mana pembeli kini lebih cenderung memilih kendaraan dalam kategori 100.001 hingga 150.000 yuan, menggantikan segmen 150.000 yuan yang sebelumnya dominan.
Perang harga semakin nyata karena statistik menunjukkan harga rata-rata EV telah turun menjadi 142.000 yuan, turun 13% dari tahun lalu, yang lebih besar daripada penurunan harga mobil berbahan bakar bensin.
Misalnya, di dealer Geely Galaxy, hampir separuh pelanggan kini memilih Xingyuan, mobil listrik kompak dengan harga antara 70.000 hingga 100.000 yuan. Perlambatan sektor properti dan minat terhadap mobil bekas untuk keperluan komuter juga berkontribusi pada keinginan pembeli untuk memilih mobil listrik murah.
Namun, pemotongan harga ini memiliki risiko tersendiri. CAAM (Asosiasi Produsen Mobil Tiongkok) memperingatkan bahwa persaingan yang berlebihan dapat merugikan profitabilitas industri dalam jangka panjang.
Perubahan ini terlihat jelas di Pameran Otomotif Internasional Guangzhou, ketika produsen-produsen besar dan startup EV mulai menghadirkan model-model terjangkau dengan fitur-fitur modern yang tidak lagi eksklusif untuk segmen premium.
Sebagai permulaan, Leapmotor meluncurkan model A10, sebuah SUV listrik kompak yang diperkirakan akan dijual dengan harga sekitar 100.000 yuan.
Meskipun murah, perusahaan menjelaskan bahwa fokus utama A10 adalah kemampuan pengisian daya cepatnya, sesuatu yang sebelumnya hanya tersedia pada EV yang lebih mahal.
Yang lebih menarik, Leapmotor juga memperkenalkan Lafa 5, sebuah hatchback EV di kisaran harga yang sama. Melalui kemitraan strategis dengan Stellantis, kedua model ini diperkirakan akan dipasarkan secara agresif di luar Tiongkok.
Sementara itu, produsen mobil milik negara GAC, dengan merek Aion-nya, memamerkan i60, yang ditawarkan sebagai EV penuh atau EV dengan jangkauan lebih luas (plug-in hybrid).
Yang mengejutkan banyak orang adalah kedua versi ini dibanderol mulai dari 109.800 yuan, menunjukkan strategi penetapan harga agresif yang jarang terjadi.
Hasil ini juga mencerminkan tren terkini di Tiongkok, di mana pembeli kini lebih cenderung memilih kendaraan dalam kategori 100.001 hingga 150.000 yuan, menggantikan segmen 150.000 yuan yang sebelumnya dominan.
Perang harga semakin nyata karena statistik menunjukkan harga rata-rata EV telah turun menjadi 142.000 yuan, turun 13% dari tahun lalu, yang lebih besar daripada penurunan harga mobil berbahan bakar bensin.
Misalnya, di dealer Geely Galaxy, hampir separuh pelanggan kini memilih Xingyuan, mobil listrik kompak dengan harga antara 70.000 hingga 100.000 yuan. Perlambatan sektor properti dan minat terhadap mobil bekas untuk keperluan komuter juga berkontribusi pada keinginan pembeli untuk memilih mobil listrik murah.
Namun, pemotongan harga ini memiliki risiko tersendiri. CAAM (Asosiasi Produsen Mobil Tiongkok) memperingatkan bahwa persaingan yang berlebihan dapat merugikan profitabilitas industri dalam jangka panjang.
(wbs)
Lihat Juga :