Pertaruhan Berani Mati Jetour: Jual T2 Termurah Sejagat di Indonesia, Strategi Bakar Uang atau Jenius?
Sabtu, 29 November 2025 - 10:54 WIB
loading...
A
A
A
Di Timur Tengah saja, Jetour sukses masuk jajaran merek China terlaris dengan lebih dari 300.000 unit terjual di pasar utama seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab pada periode Januari-April 2025.
Di Indonesia, Caroline Ling, Vice President PT Jetour Sales Indonesia, memainkan kartu truf-nya. "Pada peluncuran JETOUR T2, kami memberikan harga istimewa. Bahkan secara global, ini adalah harga paling kompetitif yang pernah kami tawarkan," klaimnya.
Pernyataan ini bermata dua. Di satu sisi, harga murah adalah magnet instan. Di sisi lain, hal ini bisa dipersepsikan sebagai dumping price atau upaya "bakar uang" demi penetrasi pasar—strategi yang berisiko terhadap nilai jual kembali (resale value) di masa depan.
Lebih kritikal lagi adalah masalah waktu. Meski sudah dipastikan akan diproduksi secara lokal (CKD) melalui kerja sama dengan PT Handal Indonesia Motor, pengiriman unit pertama ke konsumen baru dijadwalkan pada Januari 2026.
Dalam industri otomotif yang bergerak cepat, jeda waktu beberapa bulan adalah "keabadian". Konsumen Indonesia dikenal tidak sabaran; meminta mereka menunggu hingga tahun depan untuk sebuah mobil China—di saat pesaing memiliki stok melimpah—adalah pertaruhan yang sangat berisiko.
Manufaktur Lokal: Komitmen atau Keterpaksaan?
Langkah CKD untuk Jetour T2, menyusul Dashing dan X70 Plus yang sudah lebih dulu diproduksi lokal, memang patut diapresiasi sebagai bentuk komitmen investasi.
Michael Budihardja, Sales Director PT Jetour Sales Indonesia, menyebut langkah ini untuk "memastikan ketersediaan produk yang lebih stabil".
Namun, perlu dicermati apakah perakitan lokal ini murni untuk efisiensi biaya demi menekan harga, ataukah ada target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang agresif?
Jika hanya sekadar merakit tanpa pendalaman industri (misalnya baterai atau komponen inti lainnya), dampak ekonominya bagi Indonesia tidak akan maksimal. Selain itu, ketergantungan pada fasilitas PT Handal Indonesia Motor—yang juga merakit beberapa merek lain—bisa menjadi hambatan kapasitas produksi jika permintaan tiba-tiba melonjak.
Euforia yang Harus Membumi
Satu tahun Jetour di Indonesia memang penuh warna. Lini produk lengkap mulai dari mesin konvensional (ICE), Plug-in Hybrid (PHEV), hingga EV telah disiapkan.
Ekspor global mereka yang mencakup 50 negara juga menjadi bukti bahwa secara kualitas produk, Jetour tidak main-main.
Akan tetapi, pasar Indonesia adalah kuburan bagi merek-merek yang hanya bermodal spesifikasi tinggi namun lemah di "napas" layanan purna jual. Penjualan global 2 juta unit tidak akan menolong pemilik Jetour di Kalimantan yang kesulitan mencari suku cadang fast moving.
Di Indonesia, Caroline Ling, Vice President PT Jetour Sales Indonesia, memainkan kartu truf-nya. "Pada peluncuran JETOUR T2, kami memberikan harga istimewa. Bahkan secara global, ini adalah harga paling kompetitif yang pernah kami tawarkan," klaimnya.
Pernyataan ini bermata dua. Di satu sisi, harga murah adalah magnet instan. Di sisi lain, hal ini bisa dipersepsikan sebagai dumping price atau upaya "bakar uang" demi penetrasi pasar—strategi yang berisiko terhadap nilai jual kembali (resale value) di masa depan.
Lebih kritikal lagi adalah masalah waktu. Meski sudah dipastikan akan diproduksi secara lokal (CKD) melalui kerja sama dengan PT Handal Indonesia Motor, pengiriman unit pertama ke konsumen baru dijadwalkan pada Januari 2026.
Dalam industri otomotif yang bergerak cepat, jeda waktu beberapa bulan adalah "keabadian". Konsumen Indonesia dikenal tidak sabaran; meminta mereka menunggu hingga tahun depan untuk sebuah mobil China—di saat pesaing memiliki stok melimpah—adalah pertaruhan yang sangat berisiko.
Manufaktur Lokal: Komitmen atau Keterpaksaan?
![Pertaruhan Berani Mati Jetour: Jual T2 Termurah Sejagat di Indonesia, Strategi Bakar Uang atau Jenius?]()
Langkah CKD untuk Jetour T2, menyusul Dashing dan X70 Plus yang sudah lebih dulu diproduksi lokal, memang patut diapresiasi sebagai bentuk komitmen investasi..jpg)
Michael Budihardja, Sales Director PT Jetour Sales Indonesia, menyebut langkah ini untuk "memastikan ketersediaan produk yang lebih stabil".
Namun, perlu dicermati apakah perakitan lokal ini murni untuk efisiensi biaya demi menekan harga, ataukah ada target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang agresif?
Jika hanya sekadar merakit tanpa pendalaman industri (misalnya baterai atau komponen inti lainnya), dampak ekonominya bagi Indonesia tidak akan maksimal. Selain itu, ketergantungan pada fasilitas PT Handal Indonesia Motor—yang juga merakit beberapa merek lain—bisa menjadi hambatan kapasitas produksi jika permintaan tiba-tiba melonjak.
Euforia yang Harus Membumi
![Pertaruhan Berani Mati Jetour: Jual T2 Termurah Sejagat di Indonesia, Strategi Bakar Uang atau Jenius?]()
Satu tahun Jetour di Indonesia memang penuh warna. Lini produk lengkap mulai dari mesin konvensional (ICE), Plug-in Hybrid (PHEV), hingga EV telah disiapkan.
Ekspor global mereka yang mencakup 50 negara juga menjadi bukti bahwa secara kualitas produk, Jetour tidak main-main.
Akan tetapi, pasar Indonesia adalah kuburan bagi merek-merek yang hanya bermodal spesifikasi tinggi namun lemah di "napas" layanan purna jual. Penjualan global 2 juta unit tidak akan menolong pemilik Jetour di Kalimantan yang kesulitan mencari suku cadang fast moving.
Lihat Juga :