Lampu Kuning Mobil Listrik: Tanpa Subsidi 2026, Mimpi Hijau Indonesia Terancam Layu Sebelum Berkembang
Jum'at, 12 Desember 2025 - 11:16 WIB
loading...
A
A
A
Namun, momentum operasional pabrik ini justru berbenturan dengan wacana pencabutan insentif.
Ini menciptakan ironi: di saat suplai lokal siap membanjiri pasar dari Subang, keran permintaan justru terancam tertutup karena lonjakan harga akibat hilangnya subsidi.
Eagle mengakui bahwa memproduksi EV butuh waktu dan proses adaptasi rantai pasok yang tidak instan ("tidak bisa cepat"), sehingga stabilitas regulasi menjadi krusial.
Eagle mengakui bahwa pesta pora mobil listrik masih menjadi privilese kaum urban di kota besar seperti Jakarta.
Wilayah penyangga dan daerah lain masih dalam tahap wait and see, meski minat terhadap efisiensi perawatan EV mulai tumbuh.
Untuk itu, Eagle secara terbuka melayangkan permohonan—atau lebih tepatnya desakan—agar pemerintah tidak menarik rem tangan terlalu cepat. Tahun 2026 dinilai sebagai fase kritis transisi, bukan waktu yang tepat untuk melepas tangan.
"Pada 2026, tentunya kami membutuhkan dukungan lebih lanjut dari pemerintah terkait perpanjangan insentif untuk EV," tuturnya menutup pembicaraan.
Kini bola panas ada di tangan pemerintah. Apakah akan melanjutkan subsidi demi menjaga momentum pertumbuhan 12 persen dan mengamankan investasi pabrik Subang, atau memilih penghematan anggaran jangka pendek dengan risiko mematikan bibit industri masa depan yang barusajabertunas?
Ini menciptakan ironi: di saat suplai lokal siap membanjiri pasar dari Subang, keran permintaan justru terancam tertutup karena lonjakan harga akibat hilangnya subsidi.
Eagle mengakui bahwa memproduksi EV butuh waktu dan proses adaptasi rantai pasok yang tidak instan ("tidak bisa cepat"), sehingga stabilitas regulasi menjadi krusial.
Eagle mengakui bahwa pesta pora mobil listrik masih menjadi privilese kaum urban di kota besar seperti Jakarta.
Wilayah penyangga dan daerah lain masih dalam tahap wait and see, meski minat terhadap efisiensi perawatan EV mulai tumbuh.
Untuk itu, Eagle secara terbuka melayangkan permohonan—atau lebih tepatnya desakan—agar pemerintah tidak menarik rem tangan terlalu cepat. Tahun 2026 dinilai sebagai fase kritis transisi, bukan waktu yang tepat untuk melepas tangan.
"Pada 2026, tentunya kami membutuhkan dukungan lebih lanjut dari pemerintah terkait perpanjangan insentif untuk EV," tuturnya menutup pembicaraan.
Kini bola panas ada di tangan pemerintah. Apakah akan melanjutkan subsidi demi menjaga momentum pertumbuhan 12 persen dan mengamankan investasi pabrik Subang, atau memilih penghematan anggaran jangka pendek dengan risiko mematikan bibit industri masa depan yang barusajabertunas?
(dan)
Lihat Juga :