Penjualan Motor 2025 Tembus 6,41 Juta Unit, 65 Persen Beli Secara Kredit
Sabtu, 10 Januari 2026 - 15:01 WIB
loading...
A
A
A
Dari sisi bisnis, ini menguntungkan karena skala produksi besar. Tetapi dari sisi kebijakan publik, ini berbahaya:
Indonesia makin terkunci pada pola kendaraan pribadi yang menyerap jalan, bahan bakar, dan ruang kota.
Lebih menyentil lagi: di saat pemerintah berbicara transisi energi, kontribusi motor listrik masih “tak terlihat” dalam data penjualan.
Sigit menyebut pembiayaan yang relatif kuat dan sehat membuat masyarakat memperoleh kemudahan membeli motor. Ia juga menegaskan realitas ekonomi 2025: daya beli menurun terutama di kelas menengah, dan motor dipilih untuk menopang kegiatan ekonomi produktif.
“Tahun lalu diwarnai penurunan daya beli terutama di masyarakat ekonomi menengah dan mereka memilih membeli sepeda motor untuk menopang kegiatan ekonomi produktif mereka. Ini juga membuat market tahun lalu tetap tumbuh meski tidak besar,” kata Sigit.
Nah, di sinilah kritik kerasnya: pasar motor Indonesia “stabil” karena didoping kredit. Ini bukan pertumbuhan organik berbasis peningkatan pendapatan, melainkan karena masyarakat membutuhkan kendaraan untuk bertahan (kerja, berdagang, mengantar barang) dan pembiayaan menyediakan akses cepat.
Jika suku bunga naik, atau lembaga pembiayaan memperketat scoring, pasar bisa langsung tersendat. Pasar yang terlalu bergantung pada kredit adalah pasar yang rapuh.
Ini mengulang pola klasik ekonomi Indonesia: konsumsi di Jawa sangat sensitif terhadap sektor manufaktur, sedangkan luar Jawa sangat dipengaruhi harga komoditas. Bagi industri, ini seperti “nafas cadangan”. Tetapi bagi negara, ini peringatan bahwa pemulihan ekonomi belum merata.
Indonesia makin terkunci pada pola kendaraan pribadi yang menyerap jalan, bahan bakar, dan ruang kota.
Lebih menyentil lagi: di saat pemerintah berbicara transisi energi, kontribusi motor listrik masih “tak terlihat” dalam data penjualan.
Kredit 65%: Pasar Tumbuh karena Cicilan, Bukan karena Daya Beli Naik
AISI mengakui salah satu penopang stabilitas pasar motor 2025 adalah pembiayaan. Porsi pembelian kredit mencapai sekitar 65%. Artinya, hampir dua dari tiga motor baru dibeli bukan dengan uang tunai, melainkan cicilan.Sigit menyebut pembiayaan yang relatif kuat dan sehat membuat masyarakat memperoleh kemudahan membeli motor. Ia juga menegaskan realitas ekonomi 2025: daya beli menurun terutama di kelas menengah, dan motor dipilih untuk menopang kegiatan ekonomi produktif.
“Tahun lalu diwarnai penurunan daya beli terutama di masyarakat ekonomi menengah dan mereka memilih membeli sepeda motor untuk menopang kegiatan ekonomi produktif mereka. Ini juga membuat market tahun lalu tetap tumbuh meski tidak besar,” kata Sigit.
Nah, di sinilah kritik kerasnya: pasar motor Indonesia “stabil” karena didoping kredit. Ini bukan pertumbuhan organik berbasis peningkatan pendapatan, melainkan karena masyarakat membutuhkan kendaraan untuk bertahan (kerja, berdagang, mengantar barang) dan pembiayaan menyediakan akses cepat.
Jika suku bunga naik, atau lembaga pembiayaan memperketat scoring, pasar bisa langsung tersendat. Pasar yang terlalu bergantung pada kredit adalah pasar yang rapuh.
Luar Jawa Menyelamatkan Pasar, Jawa Mulai “Masuk Angin”
Secara geografis, AISI mencatat pertumbuhan permintaan di luar Pulau Jawa cukup signifikan dan menjadi kompensasi penurunan penjualan di Jawa. Hasil komoditas luar pulau yang positif menjadi penyeimbang pelemahan daya beli di Jawa—yang diperparah kondisi industri yang sampai harus merumahkan karyawan.Ini mengulang pola klasik ekonomi Indonesia: konsumsi di Jawa sangat sensitif terhadap sektor manufaktur, sedangkan luar Jawa sangat dipengaruhi harga komoditas. Bagi industri, ini seperti “nafas cadangan”. Tetapi bagi negara, ini peringatan bahwa pemulihan ekonomi belum merata.
IMOS 2025: Pameran Ramai, Transaksi Naik, tapi Bukan Bukti Semua Baik-Baik Saja
Untuk menjaga pasar tetap bergairah, industri meluncurkan produk baru dan menggelar pameran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) di ICE BSD pada 24–28 September 2025.Lihat Juga :