Satu Grup Empat Merek, Chery Pastikan Lepas, Jaecoo, dan iCAR Tidak Saling Makan Teman di Indonesia
Selasa, 20 Januari 2026 - 22:00 WIB
loading...
Suasana kemewahan showroom global pertama Lepas di Kelapa Gading yang memajang model L8, manifestasi strategi Chery Group untuk memisahkan segmen premium sporty dari lini produk lainnya. Foto: Lepas Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, tidak hanya menjadi saksi sejarah pembukaan ruang pamer (showroom) global pertama merek LEPAS pada Selasa (20/1/2026), tetapi juga menjadi panggung pembuktian strategi segmentasi agresif Chery Group.
Di tengah pertanyaan publik mengenai membanjirnya submerek di bawah payung raksasa otomotif asal China tersebut, manajemen memastikan bahwa Lepas, Chery, Jaecoo, dan calon pendatang baru iCAR, memiliki DNA yang terkotak tegas dan tidak akan saling memangsa pangsa pasar satu sama lain (cannibalization).
Langkah Chery Group membawa empat merek sekaligus ke Tanah Air adalah strategi berani. Alih-alih menyatukan semua model dalam satu atap merek, mereka memilih memecah pasar berdasarkan psikografis konsumen.
Peresmian diler Lepas yang dikelola PT Mitra Auto Sinergi (MAS) di atas lahan 1.600 meter persegi ini menjadi etalase nyata bagaimana diferensiasi tersebut dieksekusi di lapangan.
Pertama, Chery diposisikan sebagai merek fondasi (mainstream) yang mengutamakan kepraktisan operasional dan fungsionalitas keluarga. Termasuk Chery Tiggo, SUV 7-seater untuk keluarga.
Kedua, Jaecoo hadir dengan karakter distingtif sebagai SUV berdesain klasik, menyasar konsumen yang menyukai estetika maskulin dan ketangguhan semi-offroad.
Ketiga, Lepas—yang baru saja meresmikan "markas" globalnya—mengisi ceruk New Energy Vehicle (NEV) segmen premium.
DNA utamanya adalah performa tinggi yang dibalut desain sporty dan elemen gaya hidup (lifestyle).
Model andalan seperti Lepas L8 yang sempat diperkenalkan di GIIAS 2025 dan Lepas L4 yang akan rilis semester pertama 2026, ditujukan bagi eksekutif muda atau kaum mapan yang menjadikan mobil sebagai ekstensi status sosial.
Terakhir, merek keempat yang akan segera masuk, iCAR, diproyeksikan untuk segmen yang lebih spesifik lagi, kemungkinan besar menyasar demografi yang lebih muda dengan desain kotak ikonik dan pendekatan teknologi yang playful.
“Setiap merek di Chery Group akan punya produk yang mengisi segmen-segmen konsumen yang ada di pasar. Tidak akan terjadi tumpang tindih segmen satu sama lain, tidak bisa juga disebut kalau ada merek tertentu yang tingkatannya lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan yang lain. Semuanya memiliki karakter utama masing-masing,” papar Lalu Indra.
Selama satu dekade terakhir, Kelapa Gading dikenal sebagai basis konsumen konservatif di mana mobil kedua (second car) biasanya adalah kendaraan bermesin diesel yang tangguh. Namun, tren tersebut kini bergeser drastis menuju kendaraan listrik atau hibrida.
“Kalau dulu, di wilayah ini pemilik mobil yang punya mobil kedua biasanya bermesin diesel, tapi saat ini sudah berubah ke memiliki mobil listrik maupun hybrid. Efisiensinya tetap dapat, kemudahan operasionalnya juga dapat, soal servis juga tidak sulit,” ungkap Djunaedi.
Fasilitas diler LEPAS Kelapa Gading sendiri dirancang untuk mengakomodasi pergeseran ini. Dengan kapasitas pajang lima unit mobil dan kemampuan servis hingga 20 unit per hari, diler ini menawarkan standar layanan 3S (Sales, Service, Spareparts) yang premium.
Tidak berhenti di Kelapa Gading, ambisi LEPAS untuk mencengkeram pasar premium terlihat dari rencana ekspansi jangka pendeknya. Djunaedi mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mempersiapkan dua lokasi strategis lainnya, yakni di Sunter, Jakarta Utara, dan di Semarang, Jawa Tengah.
President Director Chery Group Indonesia, Zeng Shuo, menegaskan bahwa jaringan fisik ini krusial untuk membangun kepercayaan. "Kehadiran showroom MAS Kelapa Gading menegaskan komitmen Lepas untuk membangun merek secara berkelanjutan melalui jaringan, layanan, dan pengalaman merek yang konsisten," ujarnya.
Dengan pemetaan yang jelas ini, Chery Group seolah ingin menegaskan bahwa pasar otomotif Indonesia bukan lagi sekadar soal harga, melainkan soal identitas. Konsumen tidak lagi sekadar membeli mobil, tetapi membeli karakter: apakah mereka si praktis (Chery), si petualang (Jaecoo), atau si elegan yang sporty (Lepas).
Di tengah pertanyaan publik mengenai membanjirnya submerek di bawah payung raksasa otomotif asal China tersebut, manajemen memastikan bahwa Lepas, Chery, Jaecoo, dan calon pendatang baru iCAR, memiliki DNA yang terkotak tegas dan tidak akan saling memangsa pangsa pasar satu sama lain (cannibalization).
Langkah Chery Group membawa empat merek sekaligus ke Tanah Air adalah strategi berani. Alih-alih menyatukan semua model dalam satu atap merek, mereka memilih memecah pasar berdasarkan psikografis konsumen.
Peresmian diler Lepas yang dikelola PT Mitra Auto Sinergi (MAS) di atas lahan 1.600 meter persegi ini menjadi etalase nyata bagaimana diferensiasi tersebut dieksekusi di lapangan.
Anatomi Empat Merek: Siapa Menyasar Siapa?
Product Development Manager Lepas, Lalu Indra, mengatakan, portofolio Chery Group didesain layaknya orkestra di mana setiap instrumen memiliki peran spesifik.Pertama, Chery diposisikan sebagai merek fondasi (mainstream) yang mengutamakan kepraktisan operasional dan fungsionalitas keluarga. Termasuk Chery Tiggo, SUV 7-seater untuk keluarga.
Kedua, Jaecoo hadir dengan karakter distingtif sebagai SUV berdesain klasik, menyasar konsumen yang menyukai estetika maskulin dan ketangguhan semi-offroad.
Ketiga, Lepas—yang baru saja meresmikan "markas" globalnya—mengisi ceruk New Energy Vehicle (NEV) segmen premium.
DNA utamanya adalah performa tinggi yang dibalut desain sporty dan elemen gaya hidup (lifestyle).
Model andalan seperti Lepas L8 yang sempat diperkenalkan di GIIAS 2025 dan Lepas L4 yang akan rilis semester pertama 2026, ditujukan bagi eksekutif muda atau kaum mapan yang menjadikan mobil sebagai ekstensi status sosial.
Terakhir, merek keempat yang akan segera masuk, iCAR, diproyeksikan untuk segmen yang lebih spesifik lagi, kemungkinan besar menyasar demografi yang lebih muda dengan desain kotak ikonik dan pendekatan teknologi yang playful.
“Setiap merek di Chery Group akan punya produk yang mengisi segmen-segmen konsumen yang ada di pasar. Tidak akan terjadi tumpang tindih segmen satu sama lain, tidak bisa juga disebut kalau ada merek tertentu yang tingkatannya lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan yang lain. Semuanya memiliki karakter utama masing-masing,” papar Lalu Indra.
Runtuhnya Mitos Kelapa Gading
Pemilihan Kelapa Gading sebagai lokasi diler pertama Lepas bukan tanpa perhitungan data. Djunaedi Hadiwidjaja, Direktur PT Mitra Auto Sinergi (MAS), menjelaskan adanya pergeseran perilaku konsumen yang signifikan di kawasan elit Jakarta Utara ini.Selama satu dekade terakhir, Kelapa Gading dikenal sebagai basis konsumen konservatif di mana mobil kedua (second car) biasanya adalah kendaraan bermesin diesel yang tangguh. Namun, tren tersebut kini bergeser drastis menuju kendaraan listrik atau hibrida.
“Kalau dulu, di wilayah ini pemilik mobil yang punya mobil kedua biasanya bermesin diesel, tapi saat ini sudah berubah ke memiliki mobil listrik maupun hybrid. Efisiensinya tetap dapat, kemudahan operasionalnya juga dapat, soal servis juga tidak sulit,” ungkap Djunaedi.
Fasilitas diler LEPAS Kelapa Gading sendiri dirancang untuk mengakomodasi pergeseran ini. Dengan kapasitas pajang lima unit mobil dan kemampuan servis hingga 20 unit per hari, diler ini menawarkan standar layanan 3S (Sales, Service, Spareparts) yang premium.
Tidak berhenti di Kelapa Gading, ambisi LEPAS untuk mencengkeram pasar premium terlihat dari rencana ekspansi jangka pendeknya. Djunaedi mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mempersiapkan dua lokasi strategis lainnya, yakni di Sunter, Jakarta Utara, dan di Semarang, Jawa Tengah.
President Director Chery Group Indonesia, Zeng Shuo, menegaskan bahwa jaringan fisik ini krusial untuk membangun kepercayaan. "Kehadiran showroom MAS Kelapa Gading menegaskan komitmen Lepas untuk membangun merek secara berkelanjutan melalui jaringan, layanan, dan pengalaman merek yang konsisten," ujarnya.
Dengan pemetaan yang jelas ini, Chery Group seolah ingin menegaskan bahwa pasar otomotif Indonesia bukan lagi sekadar soal harga, melainkan soal identitas. Konsumen tidak lagi sekadar membeli mobil, tetapi membeli karakter: apakah mereka si praktis (Chery), si petualang (Jaecoo), atau si elegan yang sporty (Lepas).
(dan)
Lihat Juga :