FIF Cetak Rekor Laba Rp4,63 Triliun, Salurkan Pembiayaan Hampir Rp50 Triliun
Rabu, 04 Maret 2026 - 13:42 WIB
loading...
A
A
A
Pencapaian ini didukung penuh oleh kontribusi lima layanan utama perusahaan. Valentina Chai, Direktur FIF, mengungkap bahwa perolehan NSA yang tumbuh 14,38 persen didukung oleh lima lini layanan utama: FIFASTRA untuk motor Honda, SPEKTRA untuk elektronik dan perabot, DANASTRA untuk kebutuhan multiguna, FINATRA untuk modal UMKM, dan AMITRA untuk syariah Haji-Umrah.
Peningkatan pembiayaan mikro produktif melalui FINATRA untuk UMKM dan pembiayaan multiguna DANASTRA menunjukkan adanya pergeseran kebutuhan masyarakat dari sekadar konsumtif menjadi lebih produktif.
Hal ini bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan industri pembiayaan pada 2026, di mana UMKM diprediksi akan semakin go digital dan membutuhkan akses permodalan yang cepat dan mudah.
Di tengah ekspansi bisnis, FIF juga membuktikan diri sebagai lembaga keuangan yang sangat sehat. Rasio Non-Performing Financing (NPF) Nett, atau secara sederhana tingkat kredit macet, dijaga sangat rendah di level 0,20 persen.
Angka ini jauh lebih baik jika dibanding dengan rata-rata industri pembiayaan yang berada di angka 0,77 persen yoy menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sinyal Positif untuk Tren Pasar 2026
Pertumbuhan kinerja di 2025 ini memberi sinyal positif untuk tren pasar di tahun 2026. Logikanya, dengan basis Net Service Asset (NSA) atau aset bersih layanan yang melonjak 14,38 persen menjadi Rp53,44 triliun pada akhir 2025, FIF memiliki fondasi modal yang sangat kuat untuk melakukan ekspansi layanan pada tahun berikutnya.Peningkatan pembiayaan mikro produktif melalui FINATRA untuk UMKM dan pembiayaan multiguna DANASTRA menunjukkan adanya pergeseran kebutuhan masyarakat dari sekadar konsumtif menjadi lebih produktif.
Hal ini bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan industri pembiayaan pada 2026, di mana UMKM diprediksi akan semakin go digital dan membutuhkan akses permodalan yang cepat dan mudah.
Di tengah ekspansi bisnis, FIF juga membuktikan diri sebagai lembaga keuangan yang sangat sehat. Rasio Non-Performing Financing (NPF) Nett, atau secara sederhana tingkat kredit macet, dijaga sangat rendah di level 0,20 persen.
Angka ini jauh lebih baik jika dibanding dengan rata-rata industri pembiayaan yang berada di angka 0,77 persen yoy menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Lihat Juga :