Laba Turun, Penjualan Anjlok! BYD Tetap Ngotot Jual 1,5 Juta Mobil di Luar China

Rabu, 01 April 2026 - 14:55 WIB
loading...
Laba Turun, Penjualan...
Meski laba turun dan pasar domestik melemah, BYD tetap agresif menargetkan penjualan global 1,5 juta unit pada 2026. Foto: BYD Indonesia
A A A
CHINA - Di tengah tekanan laba dan penurunan penjualan domestik, ambisi global BYD justru semakin agresif—menargetkan penjualan 1,5 juta mobil di luar China pada 2026.

Target ini naik sekitar 15 persen dari proyeksi awal 1,3 juta unit pada Januari, sekaligus menegaskan bahwa pasar internasional kini menjadi tumpuan baru. Bahkan, BYD meyakini lebih dari separuh bisnisnya di masa depan bisa berasal dari luar China.

Namun, optimisme ini datang di saat yang tidak ideal. Secara finansial, BYD mencatat penurunan laba bersih kuartal IV sebesar 38 persen—lebih buruk dari ekspektasi pasar. Secara tahunan, laba turun 19 persen menjadi 32,6 miliar yuan atau sekitar Rp554,2 triliun, penurunan pertama sejak 2021.

Di sisi pendapatan, perusahaan tetap mencatat rekor dengan total 804 miliar yuan atau setara Rp13.668 triliun, tumbuh 3,5 persen. Angka ini bahkan melampaui Tesla yang mencatat pendapatan 94,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.611,6 triliun.

Namun, pertumbuhan pendapatan tidak mampu menahan tekanan profitabilitas. Kompetisi sengit di pasar domestik China menjadi penyebab utama. BYD bahkan mengalami penurunan penjualan selama enam bulan berturut-turut.

Pada periode Januari–Februari 2026, total penjualan turun 36 persen secara tahunan menjadi 400.241 unit. Meski ekspor meningkat, hal itu belum cukup menutup lemahnya permintaan domestik.

Chairman BYD, Wang Chuan-fu, mengakui kondisi ini. “Kompetisi di industri kendaraan energi baru telah mencapai tahap ‘knockout’ yang brutal,” tulisnya.

Tekanan juga datang dari perang harga di China serta berkurangnya subsidi pemerintah untuk kendaraan listrik. Situasi ini memaksa produsen untuk mencari margin lebih tinggi di luar negeri.

Di sinilah strategi BYD berubah. Ekspor menjadi titik terang. Pada 2025, penjualan luar negeri melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi hampir 1,1 juta unit, menyumbang 22,7 persen bisnis. Bahkan pada dua bulan pertama 2026, kontribusi ekspor sudah mendekati 50 persen.

Namun ekspansi global bukan tanpa tantangan. BYD harus menghadapi regulasi ketat, tarif impor, kebutuhan jaringan dealer, logistik, hingga membangun kepercayaan konsumen di pasar baru.

Untuk itu, BYD menyiapkan investasi besar dengan membangun pabrik di Hungaria dan Turki, serta mempertimbangkan fasilitas ketiga.
Bahkan, perusahaan membuka peluang mengakuisisi produsen otomotif lama untuk mempercepat penetrasi pasar global.

Dari sisi teknologi, BYD juga mencoba bangkit. Mereka meluncurkan generasi terbaru baterai “Blade” yang mampu mengisi hampir penuh dalam waktu sekitar sembilan menit—sebuah terobosan yang dapat menjadi senjata utama dalam persaingan global.

Selain itu, model-model baru diperkenalkan dengan teknologi terkini guna mengembalikan daya saing di pasar domestik.

Secara global, posisi BYD tetap kuat. Pada 2025, mereka menjual 2,26 juta kendaraan listrik, naik 28 persen, melampaui Tesla yang mencatat 1,64 juta unit dan turun 9 persen.

Namun, analis seperti Chris Liu dari Omdia menilai BYD tidak bisa lagi bergantung pada pasar massal EV untuk mempertahankan volume. Artinya, ekspansi global bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan.

Di tengah naiknya harga minyak akibat konflik global, minat terhadap kendaraan listrik diprediksi kembali meningkat. Ini menjadi peluang bagi BYD untuk memanfaatkan momentum, baik di pasar domestik maupun internasional.

Pada akhirnya, BYD kini berada di persimpangan: antara tekanan besar di rumah sendiri dan peluang luas di panggung global. Jika strategi ekspansi ini berhasil, peta kekuatan industri otomotif dunia bisa benar-benar bergeser dari Barat ke Timur.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sistem Isi Daya Dua...
Sistem Isi Daya Dua Arah Memicu Persaingan antara BMW, VW, dan BYD
Kasus Mobil Listrik...
Kasus Mobil Listrik Meledak Tinggi, Ahli Otomotif Angkat Bicara
Perbandingan 5 Varian...
Perbandingan 5 Varian BYD M6 DM: Mana yang Pas untuk Kebutuhan Anda?
BYD M6 DM Diklaim Irit...
BYD M6 DM Diklaim Irit 65 Km/Liter, Sudah Diuji 150 Km Nyaris Tanpa Minum Bensin
Harga BYD M6 DM Dirilis:...
Harga BYD M6 DM Dirilis: Mulai Rp298 Juta, Klaim Irit 65 Km/Liter Setara Motor Matic
Wang Chuanfu Yakin 5...
Wang Chuanfu Yakin 5 Tahun Lagi BYD Akan Jadi Penguasa Pasar Otomotif
Putusan Mahkamah Agung...
Putusan Mahkamah Agung Tetapkan Worcas Group Menang atas Sengketa Merek DENZA
BYD Rilis Sedan Mewah...
BYD Rilis Sedan Mewah Yangwang U7 Bermesin Empat Motor Listrik dengan Jangkauan 1.006 Km
Usai Mobil Listrik,...
Usai Mobil Listrik, China Siap Bombardir Dunia dengan Robot
Rekomendasi
Purbaya Beberkan Penyebab...
Purbaya Beberkan Penyebab Neraca Perdagangan Mei 2026 Defisit
Traveloka Gandeng Marriott...
Traveloka Gandeng Marriott International Perluas Akses Hotel di Asia Tenggara
Pilot Pesawat AMA PK-RCY...
Pilot Pesawat AMA PK-RCY yang Dibakar di Bandara Ipdeheik Papua Tewas
Berita Terkini
Ternyata Ini Alasan...
Ternyata Ini Alasan Koenigsegg Tidak Mau Bikin Mobil Listrik
Sistem Isi Daya Dua...
Sistem Isi Daya Dua Arah Memicu Persaingan antara BMW, VW, dan BYD
Honda Terbitkan Obligasi...
Honda Terbitkan Obligasi Rp44 Triliun: Bukan Ekspansi, tapi Ganti Rugi
Kenapa CEO Honda Toshihiro...
Kenapa CEO Honda Toshihiro Mibe Minta Maaf ke Pemegang Saham?
Densu Jadi Wajah Baru...
Densu Jadi Wajah Baru Caroline.id, Strategi Kepercayaan di Tengah Pasar Mobil Bekas yang Makin Sengit
Benedetto Vigna: Jika...
Benedetto Vigna: Jika Mobil Otonom Bisa Mengemudi Sendiri, Mengapa Membeli Ferrari
Infografis
Penjualan Mobil Murah...
Penjualan Mobil Murah LCGC Anjlok, Daya Beli Kelas Menengah Terancam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved