Fakta Pahit VinFast: Raja Kandang di Vietnam, Keok di Amerika, Terselamatkan Taksi di Indonesia
Senin, 13 April 2026 - 11:04 WIB
loading...
A
A
A
Interiornya dijanjikan berbalut kulit halus dengan dekorasi emas alami, mengganti tombol fisik dengan layar digital, serta opsi partisi baris kursi untuk varian sedan. Kendaraan ini dijadwalkan meluncur di Vietnam pada 2027, namun kehadirannya di pasar luar negeri masih menjadi tanda tanya besar.
Pasar Indonesia: Mengandalkan Armada Taksi Sendiri
Di tengah gempuran pabrikan China dan Jepang, VinFast tiba-tiba muncul di daftar 10 besar merek mobil terlaris di Indonesia sepanjang 2025.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat total pengiriman dari pabrik ke dealer (wholesales) VinFast mencapai 10.886 unit, sedangkan penjualan dari dealer ke konsumen (retail) menyentuh 10.630 unit. Secara total, kawasan Asia Tenggara didorong oleh pengiriman 11.000 unit di Indonesia dan lebih dari 1.000 unit di India sepanjang tahun lalu.
Angka belasan ribu di Indonesia ini dicapai meski pabrik baru mereka di Subang, Jawa Barat, baru beroperasi pada 15 Desember 2025. Sepanjang 2024 dan mayoritas 2025, VinFast mengandalkan unit impor utuh (CBU) dari Vietnam dengan memanfaatkan insentif pembebasan bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dari pemerintah Indonesia.
Untuk menekan harga agar terlihat kompetitif, mereka berfokus pada strategi sewa baterai, meskipun opsi pembelian mobil secara utuh dengan harga lebih tinggi tetap disediakan.
Akan tetapi, membedah angka 10.630 unit tersebut mengungkapkan kelemahan fundamental dari sisi penerimaan konsumen. Pertumbuhan penjualan di Indonesia—dan juga di Vietnam—didominasi oleh serapan operator armada komersial, khususnya taksi daring Green SM (GSM), yang masih berada di bawah payung ekosistem bisnis yang sama.
Artinya, VinFast sangat kesulitan memikat konsumen individu di Tanah Air. Sentimen pasar menunjukkan bahwa pembeli EV pertama di Indonesia jauh lebih percaya pada pabrikan China yang menawarkan inovasi matang, atau pabrikan Jepang yang memiliki jaminan purnajual kuat.
Ironinya, model ringkas seperti VF 3 yang secara spesifikasi dan harga dirancang untuk memikat pembeli EV individu kelas menengah, justru ikut lesu di luar lingkungan armada komersial.
Pasar Indonesia: Mengandalkan Armada Taksi Sendiri
![Fakta Pahit VinFast: Raja Kandang di Vietnam, Keok di Amerika, Terselamatkan Taksi di Indonesia]()
Di tengah gempuran pabrikan China dan Jepang, VinFast tiba-tiba muncul di daftar 10 besar merek mobil terlaris di Indonesia sepanjang 2025.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat total pengiriman dari pabrik ke dealer (wholesales) VinFast mencapai 10.886 unit, sedangkan penjualan dari dealer ke konsumen (retail) menyentuh 10.630 unit. Secara total, kawasan Asia Tenggara didorong oleh pengiriman 11.000 unit di Indonesia dan lebih dari 1.000 unit di India sepanjang tahun lalu.
Angka belasan ribu di Indonesia ini dicapai meski pabrik baru mereka di Subang, Jawa Barat, baru beroperasi pada 15 Desember 2025. Sepanjang 2024 dan mayoritas 2025, VinFast mengandalkan unit impor utuh (CBU) dari Vietnam dengan memanfaatkan insentif pembebasan bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dari pemerintah Indonesia.
Untuk menekan harga agar terlihat kompetitif, mereka berfokus pada strategi sewa baterai, meskipun opsi pembelian mobil secara utuh dengan harga lebih tinggi tetap disediakan.
Akan tetapi, membedah angka 10.630 unit tersebut mengungkapkan kelemahan fundamental dari sisi penerimaan konsumen. Pertumbuhan penjualan di Indonesia—dan juga di Vietnam—didominasi oleh serapan operator armada komersial, khususnya taksi daring Green SM (GSM), yang masih berada di bawah payung ekosistem bisnis yang sama.
Artinya, VinFast sangat kesulitan memikat konsumen individu di Tanah Air. Sentimen pasar menunjukkan bahwa pembeli EV pertama di Indonesia jauh lebih percaya pada pabrikan China yang menawarkan inovasi matang, atau pabrikan Jepang yang memiliki jaminan purnajual kuat.
Ironinya, model ringkas seperti VF 3 yang secara spesifikasi dan harga dirancang untuk memikat pembeli EV individu kelas menengah, justru ikut lesu di luar lingkungan armada komersial.
(dan)
Lihat Juga :