Raksasa Jepang Tumbang? Toyota dan Honda Terjepit Biaya Global dan Dominasi China
Sabtu, 02 Mei 2026 - 11:07 WIB
loading...
Mundurnya proyek EV di Amerika Serikat memicu penghapusan nilai aset besar-besaran bagi pabrikan Jepang. Foto: Toyota Motor
A
A
A
JAKARTA - Industri otomotif Jepang sedang berada di titik kritis. Mengapa? Karena, dua raksasa terbesarnya, Toyota dan Honda, melaporkan penurunan kinerja keuangan yang mengkhawatirkan. Ini akibat dari geopolitik dan persaingan teknologi. Salah satunya, agresifnya pabrikan China.
Untuk periode Januari hingga Maret 2026, laba operasional diproyeksikan merosot 27% menjadi 813 miliar yen atau Rp87,8 Triliun. Secara keseluruhan, laba tahunan Toyota diprediksi jatuh ke level terendah dalam tiga tahun terakhir di angka 4 triliun yen (Rp432 Triliun).
Kondisi ini tercermin pada pergerakan saham grup Toyota yang merah: Toyota Motor Corp turun 0,76%, Toyota Industries Corp turun 0,02%, Aisin Corp anjlok 4,46%, dan Toyoda Gosei merosot 1,92%.
Apa penyebabnya? Beragam. Mulai kenaikan biaya material dan upah tenaga kerja yang dipicu risiko konflik di Timur Tengah, serta dampak tarif impor tinggi di bawah administrasi Amerika Serikat yang memangkas margin keuntungan dari permintaan kendaraan hybrid yang sebenarnya masih kuat.
Honda dan Kerugian Bersejarah
Nasib lebih tragis dialami Honda Motor. Perusahaan merevisi proyeksi keuangan tahun fiskal 2026 menjadi potensi kerugian bersih sebesar 420 hingga 690 miliar yen (Rp45,3 Triliun hingga Rp74,5 Triliun).
Jika ini terjadi, ini akan menjadi kerugian tahunan pertama Honda sejak melantai di bursa saham pada 1948.
Penyebab utamanya adalah penghapusan nilai aset atau charge sebesar 15,7 miliar USD atau setara Rp266,9 Triliun setelah Honda mengevaluasi ulang strategi elektrifikasinya.
Honda terpaksa membatalkan pengembangan tiga model EV utama untuk pasar Amerika Utara, termasuk Honda 0 SUV, Honda 0 Sedan, dan Acura RSX, karena melambatnya pasar EV di wilayah tersebut dan ketidakmampuan bersaing harga dengan produk China.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, CEO Honda Toshihiro Mibe dan para Wakil Presiden akan mengembalikan 30% gaji bulanan mereka selama tiga bulan, sementara jajaran eksekutif lainnya dipotong 20%.
Sebagai contoh, Nissan terpaksa bekerja sama dengan mitra lokal di China untuk memproduksi mobil listrik dengan harga hanya 14.000 USD hingga 17.000 USD (Rp238 Juta - Rp289 Juta) agar tetap relevan.
Untuk menghadapi kondisi ini, pabrikan Jepang kini mulai mengubah haluan. Toyota dan Nissan semakin memperkuat kemitraan lokal di China untuk mengembangkan EV yang lebih murah.
Sementara itu, di pasar global lainnya, mereka kembali fokus memperkuat lini hybrid sebagai benteng pertahanan terakhir sembari melakukan efisiensi besar-besaran untuk menutupi kerugian transisi teknologi yang sangat mahal.
Toyota Terjepit Biaya dan Tarif Global
Toyota Motor Corporation diperkirakan akan melaporkan penurunan laba operasional triwulanan keempat berturut-turut pada awal Mei 2026.Untuk periode Januari hingga Maret 2026, laba operasional diproyeksikan merosot 27% menjadi 813 miliar yen atau Rp87,8 Triliun. Secara keseluruhan, laba tahunan Toyota diprediksi jatuh ke level terendah dalam tiga tahun terakhir di angka 4 triliun yen (Rp432 Triliun).
Kondisi ini tercermin pada pergerakan saham grup Toyota yang merah: Toyota Motor Corp turun 0,76%, Toyota Industries Corp turun 0,02%, Aisin Corp anjlok 4,46%, dan Toyoda Gosei merosot 1,92%.
Apa penyebabnya? Beragam. Mulai kenaikan biaya material dan upah tenaga kerja yang dipicu risiko konflik di Timur Tengah, serta dampak tarif impor tinggi di bawah administrasi Amerika Serikat yang memangkas margin keuntungan dari permintaan kendaraan hybrid yang sebenarnya masih kuat.
Honda dan Kerugian Bersejarah
![Raksasa Jepang Tumbang? Toyota dan Honda Terjepit Biaya Global dan Dominasi China]()
Nasib lebih tragis dialami Honda Motor. Perusahaan merevisi proyeksi keuangan tahun fiskal 2026 menjadi potensi kerugian bersih sebesar 420 hingga 690 miliar yen (Rp45,3 Triliun hingga Rp74,5 Triliun).
Jika ini terjadi, ini akan menjadi kerugian tahunan pertama Honda sejak melantai di bursa saham pada 1948.
Penyebab utamanya adalah penghapusan nilai aset atau charge sebesar 15,7 miliar USD atau setara Rp266,9 Triliun setelah Honda mengevaluasi ulang strategi elektrifikasinya.
Honda terpaksa membatalkan pengembangan tiga model EV utama untuk pasar Amerika Utara, termasuk Honda 0 SUV, Honda 0 Sedan, dan Acura RSX, karena melambatnya pasar EV di wilayah tersebut dan ketidakmampuan bersaing harga dengan produk China.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, CEO Honda Toshihiro Mibe dan para Wakil Presiden akan mengembalikan 30% gaji bulanan mereka selama tiga bulan, sementara jajaran eksekutif lainnya dipotong 20%.
Gempuran China dan Strategi Bertahan
Di sisi lain, China telah menjadi pusat gravitasi otomotif baru. Beijing Auto Show 2026 menampilkan 1.451 kendaraan dengan 181 debut global, di mana penetrasi kendaraan listrik (EV) di China kini telah melampaui 50%. Pabrikan China menang telak dalam hal skala produksi, integrasi rantai pasok baterai, dan harga yang sangat kompetitif.Sebagai contoh, Nissan terpaksa bekerja sama dengan mitra lokal di China untuk memproduksi mobil listrik dengan harga hanya 14.000 USD hingga 17.000 USD (Rp238 Juta - Rp289 Juta) agar tetap relevan.
Untuk menghadapi kondisi ini, pabrikan Jepang kini mulai mengubah haluan. Toyota dan Nissan semakin memperkuat kemitraan lokal di China untuk mengembangkan EV yang lebih murah.
Sementara itu, di pasar global lainnya, mereka kembali fokus memperkuat lini hybrid sebagai benteng pertahanan terakhir sembari melakukan efisiensi besar-besaran untuk menutupi kerugian transisi teknologi yang sangat mahal.
(dan)
Lihat Juga :