Dari Tol ke Tanjakan Merbabu Lebih dari 92 Km/Liter: Bukti Teknologi DM Tak Cuma Andal di Jalan Datar
Selasa, 28 Juli 2026 - 16:13 WIB
loading...
Dari tol Semarang sampai kaki Merbabu, motor listrik BYD M6 DM tetap yang paling banyak kerja.
A
A
A
SEMARANG - Tol, tanjakan sedang, sampai kemacetan kota. Semua ada dalam satu rute uji BYD M6 DM di Jawa Tengah.
Setelah menjajal jalur datar Jakarta dan tanjakan curam Medan, kali ini BYD menempatkan M6 DM dalam skenario campuran: dari pusat Kota Semarang menuju kaki Gunung Merbabu. Hasil menunjukan konsumsi bahan bakar dapat mencapai lebih dari 92 kilometer per liter.
Rute Uji: Semarang-Salatiga-Bawen-Semarang
Rute ini menyusuri Semarang menuju Salatiga, memutar lewat Bawen, sebelum kembali ke Semarang. Melintasi kombinasi jalan tol dan tanjakan-turunan berkarakter sedang menuju kawasan kaki Gunung Merbabu.
Berbeda dari uji sebelumnya yang berfokus pada satu karakter jalan (Jakarta untuk perkotaan-tol datar, Medan untuk tanjakan pegunungan), rute Semarang dirancang merepresentasikan perjalanan antarkota di Jawa Tengah yang mencampur kepadatan lalu lintas kota, ruas tol, dan elevasi yang terus meningkat dalam satu perjalanan.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menyebut karakter geografis Semarang tepat untuk menguji kemampuan sistem DM dalam kondisi nyata.
"Melalui rute ini kami ingin menunjukkan bagaimana teknologi DM mampu beradaptasi secara cerdas terhadap berbagai kondisi perjalanan," ujarnya.
Di ruas perkotaan Semarang, karakter berkendara tercatat senyap dengan respons akselerasi instan layaknya mobil listrik.
Begitu memasuki jalur menuju Salatiga dan Merbabu dengan elevasi yang terus naik, sistem Dual Mode secara otomatis mengombinasikan kerja motor listrik dan mesin bensin agar tenaga tetap optimal, dengan perpindahan tenaga yang berlangsung tanpa hentakan.
Hasil Pengujian: Lebih dari 92 Km per Liter di Rute Campuran
Dari 11 unit yang diuji di rute Semarang, hasil mencatatkan konsumsi mencapai lebih dari 92 kilometer per liter untuk menempuh rute sekitar 150 km.
Rata-rata dari seluruh 11 unit menunjukkan penggunaan baterai di kisaran 13,7-14,5 kWh dengan rata-rata 14,1 kWh. Ini angka tertinggi di antara tiga kota yang sudah diuji.
Sementara rata-rata bahan bakar yang terpakai mencapai 0,72 liter, dengan rentang 0,12-1,59 liter.
Jakarta vs Medan vs Semarang: Bagaimana Kontur Mempengaruhi Hasil
Menyusun ketiga hasil uji secara berdampingan, terlihat pola yang mencerminkan karakter jalan masing-masing kota:
Konsumsi BBM (km/liter): Jakarta lebih dari 104 km/liter, Semarang lebih dari 92 km/liter, Medan lebih dari 79 km/liter.
Jakarta yang didominasi tol dan jalan kota relatif datar mencatat hasil paling irit, sementara Medan dengan tanjakan pegunungan berkelanjutan mencatat hasil paling rendah.
Rata-rata bahan bakar terpakai (11 unit): Jakarta 0,42 liter, Semarang 0,72 liter, Medan 1,23 liter.
Urutan ini konsisten dengan tingkat elevasi masing-masing rute — semakin banyak tanjakan berkelanjutan, semakin sering mesin bensin bekerja sebagai generator pengisi baterai.
Rata-rata penggunaan baterai (11 unit): Semarang 14,1 kWh, Jakarta 13,8 kWh, Medan 13,3 kWh.
Menariknya, meski rute Medan paling menanjak, rata-rata pemakaian baterainya justru sedikit lebih rendah dibanding dua kota lain — indikasi bahwa pada tanjakan panjang dan berkelanjutan, mesin bensin mengambil porsi kerja lebih besar dibanding hanya mengandalkan baterai.
Pola tiga kota ini memperkuat gambaran bahwa sistem DM 5.0 tetap mengutamakan motor listrik sebagai penggerak utama di segala kondisi, namun mesin bensin secara otomatis mengambil porsi kerja lebih besar ketika elevasi jalan meningkat — baik itu tanjakan berkelanjutan di Medan maupun tanjakan sedang yang diselingi tol di Semarang.
Filosofi Electric-First di Balik Konsistensi Hasil
Sepanjang rute Semarang, BYD M6 DM tetap mengandalkan pendekatan electric-first yang menempatkan motor listrik sebagai sumber tenaga utama.
Mesin bensin baru bekerja otomatis saat kendaraan menghadapi tanjakan atau butuh tenaga ekstra, tanpa mengurangi efisiensi sistem secara keseluruhan. Pendekatan yang berbeda dari hybrid konvensional yang menjadikan mesin bensin sebagai penggerak utama.
Secara umum, BYD mengklaim teknologi DM mampu mencatatkan konsumsi bahan bakar hingga 65 km per liter sembari mempertahankan karakter berkendara yang responsif, senyap, dan nyaman.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao menjelaskan, teknologi DM relevan untuk pasar Indonesia yang memiliki pola penggunaan kendaraan sangat beragam, mulai dari mobilitas harian di perkotaan hingga perjalanan antarkota, di tengah infrastruktur charging station yang belum merata.
Keberagaman kebutuhan itulah yang membuat BYD memosisikan EV murni dan teknologi DM sebagai dua pendekatan yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan, dalam mempercepat transisi ke kendaraan rendah emisi di Indonesia.
Harga BYD M6 DM (OTR Jakarta)
M6 DM Classic Standard: Rp298.000.000
M6 DM Classic Dynamic: Rp318.000.000
M6 DM Cross Advanced: Rp360.000.000
M6 DM Cross Superior: Rp380.000.000
M6 DM Cross Superior Captain: Rp390.000.000
Setelah menjajal jalur datar Jakarta dan tanjakan curam Medan, kali ini BYD menempatkan M6 DM dalam skenario campuran: dari pusat Kota Semarang menuju kaki Gunung Merbabu. Hasil menunjukan konsumsi bahan bakar dapat mencapai lebih dari 92 kilometer per liter.
Rute Uji: Semarang-Salatiga-Bawen-Semarang
Rute ini menyusuri Semarang menuju Salatiga, memutar lewat Bawen, sebelum kembali ke Semarang. Melintasi kombinasi jalan tol dan tanjakan-turunan berkarakter sedang menuju kawasan kaki Gunung Merbabu.
Berbeda dari uji sebelumnya yang berfokus pada satu karakter jalan (Jakarta untuk perkotaan-tol datar, Medan untuk tanjakan pegunungan), rute Semarang dirancang merepresentasikan perjalanan antarkota di Jawa Tengah yang mencampur kepadatan lalu lintas kota, ruas tol, dan elevasi yang terus meningkat dalam satu perjalanan.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menyebut karakter geografis Semarang tepat untuk menguji kemampuan sistem DM dalam kondisi nyata.
"Melalui rute ini kami ingin menunjukkan bagaimana teknologi DM mampu beradaptasi secara cerdas terhadap berbagai kondisi perjalanan," ujarnya.
Di ruas perkotaan Semarang, karakter berkendara tercatat senyap dengan respons akselerasi instan layaknya mobil listrik.
Begitu memasuki jalur menuju Salatiga dan Merbabu dengan elevasi yang terus naik, sistem Dual Mode secara otomatis mengombinasikan kerja motor listrik dan mesin bensin agar tenaga tetap optimal, dengan perpindahan tenaga yang berlangsung tanpa hentakan.
Hasil Pengujian: Lebih dari 92 Km per Liter di Rute Campuran
Dari 11 unit yang diuji di rute Semarang, hasil mencatatkan konsumsi mencapai lebih dari 92 kilometer per liter untuk menempuh rute sekitar 150 km.
Rata-rata dari seluruh 11 unit menunjukkan penggunaan baterai di kisaran 13,7-14,5 kWh dengan rata-rata 14,1 kWh. Ini angka tertinggi di antara tiga kota yang sudah diuji.
Sementara rata-rata bahan bakar yang terpakai mencapai 0,72 liter, dengan rentang 0,12-1,59 liter.
Jakarta vs Medan vs Semarang: Bagaimana Kontur Mempengaruhi Hasil
Menyusun ketiga hasil uji secara berdampingan, terlihat pola yang mencerminkan karakter jalan masing-masing kota:
Konsumsi BBM (km/liter): Jakarta lebih dari 104 km/liter, Semarang lebih dari 92 km/liter, Medan lebih dari 79 km/liter.
Jakarta yang didominasi tol dan jalan kota relatif datar mencatat hasil paling irit, sementara Medan dengan tanjakan pegunungan berkelanjutan mencatat hasil paling rendah.
Rata-rata bahan bakar terpakai (11 unit): Jakarta 0,42 liter, Semarang 0,72 liter, Medan 1,23 liter.
Urutan ini konsisten dengan tingkat elevasi masing-masing rute — semakin banyak tanjakan berkelanjutan, semakin sering mesin bensin bekerja sebagai generator pengisi baterai.
Rata-rata penggunaan baterai (11 unit): Semarang 14,1 kWh, Jakarta 13,8 kWh, Medan 13,3 kWh.
Menariknya, meski rute Medan paling menanjak, rata-rata pemakaian baterainya justru sedikit lebih rendah dibanding dua kota lain — indikasi bahwa pada tanjakan panjang dan berkelanjutan, mesin bensin mengambil porsi kerja lebih besar dibanding hanya mengandalkan baterai.
Pola tiga kota ini memperkuat gambaran bahwa sistem DM 5.0 tetap mengutamakan motor listrik sebagai penggerak utama di segala kondisi, namun mesin bensin secara otomatis mengambil porsi kerja lebih besar ketika elevasi jalan meningkat — baik itu tanjakan berkelanjutan di Medan maupun tanjakan sedang yang diselingi tol di Semarang.
Filosofi Electric-First di Balik Konsistensi Hasil
Sepanjang rute Semarang, BYD M6 DM tetap mengandalkan pendekatan electric-first yang menempatkan motor listrik sebagai sumber tenaga utama.
Mesin bensin baru bekerja otomatis saat kendaraan menghadapi tanjakan atau butuh tenaga ekstra, tanpa mengurangi efisiensi sistem secara keseluruhan. Pendekatan yang berbeda dari hybrid konvensional yang menjadikan mesin bensin sebagai penggerak utama.
Secara umum, BYD mengklaim teknologi DM mampu mencatatkan konsumsi bahan bakar hingga 65 km per liter sembari mempertahankan karakter berkendara yang responsif, senyap, dan nyaman.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao menjelaskan, teknologi DM relevan untuk pasar Indonesia yang memiliki pola penggunaan kendaraan sangat beragam, mulai dari mobilitas harian di perkotaan hingga perjalanan antarkota, di tengah infrastruktur charging station yang belum merata.
Keberagaman kebutuhan itulah yang membuat BYD memosisikan EV murni dan teknologi DM sebagai dua pendekatan yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan, dalam mempercepat transisi ke kendaraan rendah emisi di Indonesia.
Harga BYD M6 DM (OTR Jakarta)
M6 DM Classic Standard: Rp298.000.000
M6 DM Classic Dynamic: Rp318.000.000
M6 DM Cross Advanced: Rp360.000.000
M6 DM Cross Superior: Rp380.000.000
M6 DM Cross Superior Captain: Rp390.000.000
(unt)
Lihat Juga :