Teknologi dan Inovasi Kunci Hadapi Persaingan di Masa Sulit
Kamis, 22 Oktober 2020 - 23:44 WIB
loading...
A
A
A
Semangat inovasi untuk terus berkarya kemudian mendorong para founders melakukan observasi, mencari ilmu dan turut berpartisipasi dalam kegiatan industri besi baja dunia. Di tahun 1971, nama PT Gunung Garuda dan Indonesia perlahan mulai diperhitungkan perannya karena ikut berpartisipasi dalam pembentukan IISIA (The Indonesian Iron and Steel Industry Association) dan SEAISI (The South East Asian Iron and Steel Institute).
Dengan tekad dan ketekunan tinggi, para founders terus meningkatkan kapasitas produksi dan berinovasi membuat produk yang lebih beragam. Ini demi memenuhi berbagai kebutuhan baja yang semakin tinggi di era pembangunan dan perbaikan infrastruktur Indonesia.
Pada 1997, mereka kemudian membangun EAF berkapasitas 190 ton untuk memenuhi kebutuhan Steel Plate dan Hot Rolled Coil. Di 2014, keberlanjutan inovasi dan semangat membangun negeri ditunjukkan dengan tersedianya fasilitas Steel Melting Shop 2 (SMS2) yang didirikan untuk memproduksi Slab- yang merupakan bahan pembuatan Steel Plate dengan inovasi Blast Furnace yang masih dikembangkan sampai saat ini.
Baru di tahun 1990 lahirlah PT Gunung Naga Mas yang memproduksi lembaran baja yang terdiri dari pelat dan gulungan baja hingga akhirnya di 1991 berganti nama menjadi PT Gunung Raja Paksi (GGRP).
Sejak saat itu nama GGRP berkibar di industri pipa besi baja. Dengan keunggulan fasilitas normalizing dan ultrasonic test yang diresmikan di 2011, produk GGRP semakin diakui dunia. Pada September 2019, koorporasi melakukan langkah penting yakni dengan membuka public offering (IPO) kepada masyarakat luas.
“Setelah sebelumnya generasi pertama membangun dan membesarkan GGRP, kini tiba saatnya mempercayakan kemudi pada generasi berikutnya. Generasi yang telah ditempa dengan pengalaman dari keterlibatan sejak dini, generasi yang memegang harapan besar para pendiri untuk berinovasi dan memenuhi tuntutan zaman dengan tetap memperhatikan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat Indonesia," kata Abednedju Giovano Warani Sangkaeng.
Dengan tekad dan ketekunan tinggi, para founders terus meningkatkan kapasitas produksi dan berinovasi membuat produk yang lebih beragam. Ini demi memenuhi berbagai kebutuhan baja yang semakin tinggi di era pembangunan dan perbaikan infrastruktur Indonesia.
Pada 1997, mereka kemudian membangun EAF berkapasitas 190 ton untuk memenuhi kebutuhan Steel Plate dan Hot Rolled Coil. Di 2014, keberlanjutan inovasi dan semangat membangun negeri ditunjukkan dengan tersedianya fasilitas Steel Melting Shop 2 (SMS2) yang didirikan untuk memproduksi Slab- yang merupakan bahan pembuatan Steel Plate dengan inovasi Blast Furnace yang masih dikembangkan sampai saat ini.
Baru di tahun 1990 lahirlah PT Gunung Naga Mas yang memproduksi lembaran baja yang terdiri dari pelat dan gulungan baja hingga akhirnya di 1991 berganti nama menjadi PT Gunung Raja Paksi (GGRP).
Sejak saat itu nama GGRP berkibar di industri pipa besi baja. Dengan keunggulan fasilitas normalizing dan ultrasonic test yang diresmikan di 2011, produk GGRP semakin diakui dunia. Pada September 2019, koorporasi melakukan langkah penting yakni dengan membuka public offering (IPO) kepada masyarakat luas.
“Setelah sebelumnya generasi pertama membangun dan membesarkan GGRP, kini tiba saatnya mempercayakan kemudi pada generasi berikutnya. Generasi yang telah ditempa dengan pengalaman dari keterlibatan sejak dini, generasi yang memegang harapan besar para pendiri untuk berinovasi dan memenuhi tuntutan zaman dengan tetap memperhatikan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat Indonesia," kata Abednedju Giovano Warani Sangkaeng.
Lihat Juga :