Akibat Gempa, Toyota dan Nissan Hentikan Produksi di Jepang
Senin, 18 April 2016 - 12:17 WIB
Akibat Gempa, Toyota dan Nissan Hentikan Produksi di Jepang
A
A
A
TOKYO - Gempa bumi berkekuatan 6,2 sr yang mengguncang Jepang berimbas pada berbagai sektor industri. Salah satunya adalah industri automotif yang menjadi kekuatan utama Negeri Sakura itu.
Dilansir dari Autoevolution, Senin (18/4/2016), dua produsen besar mobil Jepang, Toyota dan Nissan terpaksa menghentikan produksi pabrik mereka akibat mengalami kerusakan pascagempa.
Setidaknya pabrik casting dan pusat pembuatan bodi mobil yang dimiliki kedua perusahaan itu mengalami kerusakan cukup parah. Untungnya dalam gempa itu tidak terdapat korban jiwa karyawan di kedua perusahaan.
Toyota memutuskan menangguhkan shift pada Jumat dan Sabtu untuk perusahaan Lexus yang berbasis di Miyata. Di kota tersebut Toyota memproduksi Lexus model HS, ES, CT, NX, dan RX.
Sementara Nissan, menghentikan produksi model Rogue yang dikenal sebagai X-Trail di luar Amerika Utara, kemudian Murano, Teanna, dan Serena.
Sampai saat ini, kedua perusahaan masih belum dapat mengatakan kapan mereka akan mulai kembali beroperasi.
Kejadian tersebut sebenarnya bukan hal pertama menimpa industri automotif Jepang. Pada 2011, hal serupa juga pernah terjadi akibat bencana Fukushima. Bahkan, bencana itu melumpuhkan sebagian besar industri automotif Jepang.
Dilansir dari Autoevolution, Senin (18/4/2016), dua produsen besar mobil Jepang, Toyota dan Nissan terpaksa menghentikan produksi pabrik mereka akibat mengalami kerusakan pascagempa.
Setidaknya pabrik casting dan pusat pembuatan bodi mobil yang dimiliki kedua perusahaan itu mengalami kerusakan cukup parah. Untungnya dalam gempa itu tidak terdapat korban jiwa karyawan di kedua perusahaan.
Toyota memutuskan menangguhkan shift pada Jumat dan Sabtu untuk perusahaan Lexus yang berbasis di Miyata. Di kota tersebut Toyota memproduksi Lexus model HS, ES, CT, NX, dan RX.
Sementara Nissan, menghentikan produksi model Rogue yang dikenal sebagai X-Trail di luar Amerika Utara, kemudian Murano, Teanna, dan Serena.
Sampai saat ini, kedua perusahaan masih belum dapat mengatakan kapan mereka akan mulai kembali beroperasi.
Kejadian tersebut sebenarnya bukan hal pertama menimpa industri automotif Jepang. Pada 2011, hal serupa juga pernah terjadi akibat bencana Fukushima. Bahkan, bencana itu melumpuhkan sebagian besar industri automotif Jepang.
(dmd)