Tantangan Produsen Mobil Listrik China di Asia Tenggara: Realitas vs. Ambisi

Selasa, 01 April 2025 - 10:20 WIB

Keengganan terhadap Produk China

Meskipun mobil Jepang populer di Asia Tenggara, masih ada keengganan dari sebagian konsumen untuk membeli produk China, terutama di negara-negara yang memiliki sejarah ketegangan politik dengan China. "Orang-orang sedikit khawatir karena ini adalah merek China," kata Dong Hai, seorang salesman di showroom Chery Automobile Co. di Hanoi.

Strategi Produsen Mobil Listrik China

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, produsen mobil listrik China tidak tinggal diam. Mereka melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan penjualan dan mendobrak pasar Asia Tenggara, di antaranya:

1. Gencar beriklan: GAC Aion dan BYD aktif beriklan di berbagai media dan platform untuk meningkatkan kesadaran merek dan produk mereka.

2. Membangun fasilitas produksi lokal: BYD dan Chery Automobile berinvestasi dalam pembangunan pabrik di Indonesia dan Thailand untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing.

3. Menawarkan harga kompetitif: BYD meluncurkan beberapa model di Vietnam dengan harga mulai dari 659 juta dong (USD25.800) untuk menarik konsumen.

4. Produk yang Disesuaikan Pasar Lokal: BYD merilis M6, MPV listrik 7 seater untuk pasar Indonesia dengan harga Rp350 jutaan, yang terbukti disambut sangat positif.

Ron Zheng, mitra di konsultan global Roland Berger GmbH, menyatakan bahwa Asia Tenggara adalah pasar yang jauh lebih kompleks dibandingkan China. Produsen mobil China perlu menavigasi berbagai budaya, bahasa, dan sistem regulasi yang berbeda.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!