Pemerintah China Panik, Bos Mobil Listrik Disidang di Beijing untuk Hentikan Perang Harga
Sabtu, 07 Juni 2025 - 16:00 WIB
Media pemerintah, mulai People's Daily hingga CCTV, serempak menyerukan agar perang harga ini dihentikan. Mereka khawatir kompetisi tak sehat ini akan menghasilkan produk berkualitas rendah yang merusak citra "Made-in-China" di panggung dunia.
Namun, gertakan Beijing ini tampaknya tak bertaji. Menurut sumber internal, pertemuan tersebut tidak menghasilkan arahan yang mengikat secara hukum. Tidak jelas apa konsekuensi yang akan dihadapi para produsen jika mereka mengabaikan "peringatan lisan" ini.
Saham para produsen mobil pun kompak anjlok pada hari Jumat, menandakan keraguan pasar terhadap efektivitas intervensi pemerintah.
Yang lebih parah, skandal utang tersembunyi pun ikut terkuak. Para produsen mobil, terutama BYD, dituduh menekan pemasok dengan menunda pembayaran hingga berbulan-bulan. Praktik ini, menurut laporan dari firma riset GMT Research, digunakan BYD untuk menutupi utang riilnya.
Laporan tersebut mengklaim utang bersih BYD yang sebenarnya mendekati 323 miliar yuan (sekitar Rp727 triliun), jauh dari angka resmi 27,7 miliar yuan (sekitar Rp 62,3 triliun) yang dilaporkan. Sebuah skandal keuangan yang menunjukkan betapa putus asanya para pemain untuk bertahan dalam perang harga ini.
Namun, gertakan Beijing ini tampaknya tak bertaji. Menurut sumber internal, pertemuan tersebut tidak menghasilkan arahan yang mengikat secara hukum. Tidak jelas apa konsekuensi yang akan dihadapi para produsen jika mereka mengabaikan "peringatan lisan" ini.
Saham para produsen mobil pun kompak anjlok pada hari Jumat, menandakan keraguan pasar terhadap efektivitas intervensi pemerintah.
Borok Industri Terbongkar: Mobil 'Nol Kilometer' dan Hutang Tersembunyi
Pertemuan darurat itu juga membongkar borok lain yang lebih dalam. Pejabat pemerintah menyoroti praktik kotor "mobil nol kilometer"—sebuah taktik di mana mobil baru yang gagal terjual dilempar ke perusahaan pembiayaan atau diler mobil bekas untuk dicatat sebagai "penjualan". Ini adalah cara licik untuk menggelembungkan data dan menipu pasar.Yang lebih parah, skandal utang tersembunyi pun ikut terkuak. Para produsen mobil, terutama BYD, dituduh menekan pemasok dengan menunda pembayaran hingga berbulan-bulan. Praktik ini, menurut laporan dari firma riset GMT Research, digunakan BYD untuk menutupi utang riilnya.
Laporan tersebut mengklaim utang bersih BYD yang sebenarnya mendekati 323 miliar yuan (sekitar Rp727 triliun), jauh dari angka resmi 27,7 miliar yuan (sekitar Rp 62,3 triliun) yang dilaporkan. Sebuah skandal keuangan yang menunjukkan betapa putus asanya para pemain untuk bertahan dalam perang harga ini.
Lihat Juga :