Pintu Tertutup untuk Mobil Hybrid: Pemerintah Tegas, Insentif Tak Akan Bertambah, Ini Alasannya
Selasa, 01 Juli 2025 - 20:39 WIB
"Kalau hybrid kan sama rantai pasoknya (melibatkan bensin). Ditambah (komponen) ada baterai. Emisi dari mobil listrik secara general lebih rendah dibandingkan kendaraan ICE (Internal Combustion Engine) sepanjang siklus penggunaannya," ujar Rachmat di Jakarta beberapa waktu lalu.
Data dari Kemenko Marves pun menunjukkan fakta yang tak terbantahkan: konsumsi bensin mobil hybrid masih tinggi, sementara pada BEV angkanya nol.
"Jadi kalau mobil hybrid mau insentif lebih besar, harus buat regulasi yang berbeda, tidak bisa pakai Perpres (yang ada sekarang)," tegas Rachmat.
Ini adalah sebuah pertaruhan besar dari pemerintah. Dengan memberikan insentif yang jomplang—potongan PPN 10 persen untuk BEV versus PPnBM DTP 3 persen untuk hybrid—pemerintah secara aktif "memaksa" pasar untuk bergerak lebih cepat menuju elektrifikasi penuh.
Data dari Kemenko Marves pun menunjukkan fakta yang tak terbantahkan: konsumsi bensin mobil hybrid masih tinggi, sementara pada BEV angkanya nol.
"Jadi kalau mobil hybrid mau insentif lebih besar, harus buat regulasi yang berbeda, tidak bisa pakai Perpres (yang ada sekarang)," tegas Rachmat.
Hukuman bagi 'Anak Tiri' Teknologi?
Meskipun insentif PPnBM 3 persen yang ada saat ini terbukti telah berhasil menurunkan harga mobil hybrid dan membuatnya semakin terjangkau, keputusan untuk tidak menambahnya bisa dilihat sebagai sebuah "hukuman" bagi teknologi yang dianggap "setengah hati" ini.Ini adalah sebuah pertaruhan besar dari pemerintah. Dengan memberikan insentif yang jomplang—potongan PPN 10 persen untuk BEV versus PPnBM DTP 3 persen untuk hybrid—pemerintah secara aktif "memaksa" pasar untuk bergerak lebih cepat menuju elektrifikasi penuh.
Lihat Juga :