Kisah Tragis Kuburan Mobil di China: Ribuan Mobil Baru Dibiarkan Berkarat Akibat Perang Harga
Rabu, 17 September 2025 - 20:15 WIB
“Ketika ada arahan dari Beijing bahwa ini adalah industri strategis, setiap gubernur provinsi menginginkan pabrik mobil," kata Rupert Mitchell, analis yang pernah bekerja di sebuah startup EV China.
Hasilnya? Sebuah bencana kelebihan kapasitas. Menurut data, kapasitas pabrik mobil di China kini mampu memproduksi dua kali lipat dari 27,5 juta mobil yang mereka buat tahun lalu. Akibatnya, perang harga yang brutal dan merusak kini telah memasuki tahun ketiganya.
"Mereka saling memangsa, dan itu bisa menjebak pasar dalam lingkaran setan," ujar Yuhan Zhang, ekonom dari The Conference Board's China Center.
"Ini seperti mengendarai sepeda: Selama Anda terus mengayuh, Anda mungkin merasa lelah, tetapi sepedanya tetap tegak," ujar Liang Linhe, pimpinan salah satu produsen truk terbesar di China, Sany Heavy Truck.
Tekanan ini paling terasa di level diler. Sebuah survei menunjukkan hanya 30% diler di China yang mampu mencetak keuntungan. Mereka dipaksa oleh pabrikan untuk menerima stok mobil yang jauh melebihi permintaan.
"Jika saluran penjualan runtuh, pasar akan mati!" teriak asosiasi diler di Henan dalam surat terbuka.
Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa melakukan praktik-praktik ganjil, seperti secara sengaja menjual rugi mobil baru atau bahkan "memalsukan" data penjualan dengan mendaftarkan dan mengasuransikan mobil-mobil yang belum laku hanya demi mendapatkan bonus dari pabrikan.
Hasilnya? Sebuah bencana kelebihan kapasitas. Menurut data, kapasitas pabrik mobil di China kini mampu memproduksi dua kali lipat dari 27,5 juta mobil yang mereka buat tahun lalu. Akibatnya, perang harga yang brutal dan merusak kini telah memasuki tahun ketiganya.
"Mereka saling memangsa, dan itu bisa menjebak pasar dalam lingkaran setan," ujar Yuhan Zhang, ekonom dari The Conference Board's China Center.
'Mengayuh Sepeda' Menuju Kebangkrutan
Di tengah surplus mobil yang masif ini, pabrikan dan diler terjebak dalam sebuah dilema mematikan. Mereka harus terus memproduksi dan menjual, bahkan dengan kerugian besar, hanya untuk menjaga arus kas tetap mengalir."Ini seperti mengendarai sepeda: Selama Anda terus mengayuh, Anda mungkin merasa lelah, tetapi sepedanya tetap tegak," ujar Liang Linhe, pimpinan salah satu produsen truk terbesar di China, Sany Heavy Truck.
Tekanan ini paling terasa di level diler. Sebuah survei menunjukkan hanya 30% diler di China yang mampu mencetak keuntungan. Mereka dipaksa oleh pabrikan untuk menerima stok mobil yang jauh melebihi permintaan.
"Jika saluran penjualan runtuh, pasar akan mati!" teriak asosiasi diler di Henan dalam surat terbuka.
Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa melakukan praktik-praktik ganjil, seperti secara sengaja menjual rugi mobil baru atau bahkan "memalsukan" data penjualan dengan mendaftarkan dan mengasuransikan mobil-mobil yang belum laku hanya demi mendapatkan bonus dari pabrikan.
Kuburan Mobil dan Obral di Pasar Gelap
Lalu, ke mana perginya mobil-mobil baru yang tak diinginkan ini? Sebagian berakhir di tangan para pedagang "pasar gelap" seperti Zcar, yang menjualnya sebagai mobil "bekas tapi baru" dengan kilometer nol.Lihat Juga :