Ironi Industri Otomotif RI: Produksi Komponen Dihajar Impor dan Kalah dari Thailand, tapi Jadi Raja Ekspor

Senin, 29 September 2025 - 20:43 WIB

Kritik Tajam untuk Kebijakan Mobil Listrik

Rachmat menyoroti kebijakan pemerintah terkait mobil listrik impor yang dinilai menjadi pedang bermata dua.

Di satu sisi, pemerintah ingin mempercepat adopsi kendaraan listrik. Di sisi lain, kemudahan impor CBU secara langsung memukul industri komponen dalam negeri.

Ia juga melontarkan kritik tajam terhadap aturan kandungan lokal (TKDN) sebesar 40% yang akan berlaku tahun depan untuk mobil listrik.

"Kontribusinya secara emosi ada, tapi secara ekonomi belum ada. Aturannya, tahun depan mobil listrik impor harus diproduksi dengan kandungan lokal 40 persen. Tapi kalau kita lihat, assembling (perakitan) saja sudah 30 persen, jadi local content-nya apa? Ini yang harus ditelisik lebih jauh," ujarnya.

Kritik ini menyiratkan kekhawatiran bahwa aturan TKDN 40% mungkin tidak seefektif yang dibayangkan untuk melindungi dan menumbuhkan industri komponen lokal, karena sebagian besar nilainya bisa jadi hanya berasal dari ongkos perakitan.

Kini, industri komponen Indonesia berada di persimpangan jalan yang sulit. Mereka dipaksa menjadi pahlawan ekspor untuk menutupi kelemahan di pasar domestik—sebuah kelemahan yang ironisnya turut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintahsendiri.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!