Pasar Mobil Bensin Berdarah, tapi Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Meledak 49% Kalahkan Amerika!
Sabtu, 03 Januari 2026 - 13:45 WIB
Angka ini menjadi indikator kuat bahwa skeptisisme awal mengenai keandalan mobil listrik mulai runtuh, digantikan oleh adopsi massal yang antusias.
Namun PwC Indonesia menyebut bahwa untuk mempertahankan momentum ini dan menjadikan Indonesia pemimpin regional dalam dua tahun ke depan, ekspansi infrastruktur pengisian daya dan integrasi dengan energi terbarukan adalah kunci mati.
Tantangan infrastruktur memang masih menjadi "duri dalam daging". Skor kesiapan infrastruktur pengisian daya Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya 1,4 dari 5, tertinggal jauh dari Singapura yang mencatat skor 4,3.
Akibatnya, 70 persen pemilik EV di Indonesia masih bergantung pada pengisian daya di rumah karena jaringan fast-charging publik yang belum memadai, memicu kekhawatiran jarak tempuh (range anxiety) yang belum sepenuhnya hilang.
Data penjualan menunjukkan dominasi mutlak BYD yang berhasil mendistribusikan total 40.151 unit kendaraan, atau hampir separuh dari total pasar mobil listrik nasional. Jika digabungkan dengan sub-merek premiumnya, Denza, dan kompatriotnya Chery, ketiga merek ini menjadi tulang punggung utama pertumbuhan EV nasional.
Menariknya, peta persaingan model terlaris menunjukkan pergeseran selera yang unik. BYD Atto 1 muncul sebagai fenomena baru.
Meski baru mulai didistribusikan pada Oktober 2025, mobil listrik berukuran kecil (city car) dengan harga paling terjangkau di jajaran BYD ini langsung melesat menjadi mobil listrik terlaris sepanjang 11 bulan 2025 dengan total 17.729 unit.
Namun PwC Indonesia menyebut bahwa untuk mempertahankan momentum ini dan menjadikan Indonesia pemimpin regional dalam dua tahun ke depan, ekspansi infrastruktur pengisian daya dan integrasi dengan energi terbarukan adalah kunci mati.
Tantangan infrastruktur memang masih menjadi "duri dalam daging". Skor kesiapan infrastruktur pengisian daya Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya 1,4 dari 5, tertinggal jauh dari Singapura yang mencatat skor 4,3.
Akibatnya, 70 persen pemilik EV di Indonesia masih bergantung pada pengisian daya di rumah karena jaringan fast-charging publik yang belum memadai, memicu kekhawatiran jarak tempuh (range anxiety) yang belum sepenuhnya hilang.
Peta Persaingan: Runtuhnya Hegemoni Lama, Terbitnya Matahari BYD
Siapa yang paling diuntungkan dari gelombang elektrifikasi ini? Jawabannya adalah raksasa teknologi China, BYD.Data penjualan menunjukkan dominasi mutlak BYD yang berhasil mendistribusikan total 40.151 unit kendaraan, atau hampir separuh dari total pasar mobil listrik nasional. Jika digabungkan dengan sub-merek premiumnya, Denza, dan kompatriotnya Chery, ketiga merek ini menjadi tulang punggung utama pertumbuhan EV nasional.
Menariknya, peta persaingan model terlaris menunjukkan pergeseran selera yang unik. BYD Atto 1 muncul sebagai fenomena baru.
Meski baru mulai didistribusikan pada Oktober 2025, mobil listrik berukuran kecil (city car) dengan harga paling terjangkau di jajaran BYD ini langsung melesat menjadi mobil listrik terlaris sepanjang 11 bulan 2025 dengan total 17.729 unit.
Lihat Juga :