Volvo Terdesak! Kini Bergantung pada Geely untuk Bertahan di Tengah Gempuran Mobil China
Rabu, 01 April 2026 - 10:45 WIB
Tak hanya itu, Volvo juga memperpanjang fasilitas kredit Polestar sebesar USD661 juta atau sekitar Rp11,237 triliun hingga 2031—menunjukkan tingkat ketergantungan finansial yang semakin dalam.
Restrukturisasi juga terjadi pada produksi. Polestar 3 kini hanya diproduksi di pabrik Volvo di South Carolina, Amerika Serikat, menghentikan produksi di China. Model ini berbagi desain, teknologi, dan harga dengan EX90, memperlihatkan strategi efisiensi melalui platform bersama.
Di level grup, ambisi Geely jauh lebih besar. Mereka menargetkan penjualan global lebih dari 6,5 juta unit pada 2030, dengan sepertiga berasal dari luar China. Untuk itu, pusat teknologi di Eropa bahkan akan menggandakan jumlah proyek kendaraan mulai tahun depan.
Samuelsson menegaskan bahwa sinergi adalah satu-satunya jalan bertahan. “Bagaimana kami memanfaatkan sinergi tanpa mengorbankan identitas Volvo,” ujarnya.
Produsen China kini unggul dalam kecepatan inovasi, efisiensi biaya, dan penetrasi pasar global. Tanpa kolaborasi, merek tradisional seperti Volvo berisiko tertinggal.
Di tengah disrupsi elektrifikasi dan tekanan margin, industri otomotif global memasuki fase baru—di mana kolaborasi lintas merek bukan lagi strategi tambahan, melainkan fondasi untuk bertahan hidup.
Restrukturisasi juga terjadi pada produksi. Polestar 3 kini hanya diproduksi di pabrik Volvo di South Carolina, Amerika Serikat, menghentikan produksi di China. Model ini berbagi desain, teknologi, dan harga dengan EX90, memperlihatkan strategi efisiensi melalui platform bersama.
Di level grup, ambisi Geely jauh lebih besar. Mereka menargetkan penjualan global lebih dari 6,5 juta unit pada 2030, dengan sepertiga berasal dari luar China. Untuk itu, pusat teknologi di Eropa bahkan akan menggandakan jumlah proyek kendaraan mulai tahun depan.
Samuelsson menegaskan bahwa sinergi adalah satu-satunya jalan bertahan. “Bagaimana kami memanfaatkan sinergi tanpa mengorbankan identitas Volvo,” ujarnya.
Produsen China kini unggul dalam kecepatan inovasi, efisiensi biaya, dan penetrasi pasar global. Tanpa kolaborasi, merek tradisional seperti Volvo berisiko tertinggal.
Di tengah disrupsi elektrifikasi dan tekanan margin, industri otomotif global memasuki fase baru—di mana kolaborasi lintas merek bukan lagi strategi tambahan, melainkan fondasi untuk bertahan hidup.
(dan)
Lihat Juga :