Pakar Offroad Sebut Torsi Liar Trail Listrik MBG Jadi Bumerang Bagi Petugas Awam
Jum'at, 10 April 2026 - 16:01 WIB
“Petani di lereng gunung, perambah hutan di ujung negeri, hingga masyarakat pedalaman di pegunungan Jawa Barat atau Kalimantan Utara, amat jarang mempertaruhkan nyawa dan aktivitas ekonomi mereka di atas jok motor trail,” ungkapnya.
Realitas pasar di pedalaman membuktikan bahwa warga lokal jauh lebih tangguh dan percaya diri bermanuver di jalur off-road menggunakan sepeda motor komuter biasa. Mereka lebih memilih motor sport manual (kopling) sejuta umat seperti Suzuki Thunder dan Honda Verza, atau bahkan mengandalkan kepraktisan skuter matik biasa.
Alasannya sangat rasional dan berpusat pada utilitas mutlak. Motor komuter seperti Honda Verza dan Suzuki Thunder dirancang dengan ground clearance yang bersahabat, sehingga memungkinkan kedua telapak kaki pengendara awam menapak sempurna ke tanah. Hal ini adalah faktor krusial untuk menjaga keseimbangan dan rasa aman.
“Di samping itu, motor-motor common (umum) ini sudah dirancang untuk memikul beban. Masyarakat pedalaman biasa menggunakannya untuk membawa puluhan kilogram beban kayu, hasil bumi, dan logistik berat—sesuatu yang sangat menekan kelincahan jika dipaksakan pada desain motor trail yang peruntukan murninya hanya membawa beban tubuh sang rider,” beber Wisnu Guntoro.
Dari kacamata fungsionalitas, memaksakan armada motor trail listrik untuk memuat rantang atau boks logistik gizi adalah sebuah ironi.
Selain ketersediaan komponen dan fasilitas perawatannya di daerah terpencil yang belum jelas, fungsionalitasnya untuk tugas membawa beban nyaris nol. Sudah saatnya pengambil kebijakan turun dari menara gading spesifikasi brosur, meninjau kembali aspek keselamatan, dan mulai memilih kendaraan operasional yang benar-benar membumi, fungsional, dan menjamin para pahlawan gizi ini bisa pulang dengan selamat.
(dan)
Lihat Juga :