Data GAIKINDO 2026: Sinyal Bahaya bagi Produsen yang Lambat Beradaptasi dengan Listrik

Selasa, 14 April 2026 - 18:17 WIB
Ini menunjukkan bahwa transisi energi di Indonesia saat ini masih didorong oleh kaum elite, sementara akses mobilitas terjangkau bagi kelompok ekonomi di bawahnya kian menyempit.

Ambruknya Pasar Konvensional

Penurunan pasar secara total juga patut menjadi catatan. Jika pada 2019 total pasar otomotif mencapai 1.032.907 unit, pada 2025 angkanya merosot jauh ke 803.687 unit.

Artinya, meskipun varian kendaraan listrik (New Energi Vehicle) bertambah banyak, volume penjualan mobil secara nasional sebenarnya sedang mengalami kontraksi.

Berikut adalah rincian data perjalanan transisi tersebut:

HEV (Hybrid): Sempat memimpin transisi pada 2023 dengan 54.179 unit (5,4 persen), dan memuncak di 2025 dengan 65.943 unit (8,2 persen).

Namun per Maret 2026, pertumbuhannya mulai stagnan di angka 8,1 persen (16.940 unit).

PHEV: Teknologi ini tetap menjadi "anak tiri" di Indonesia. Dari hanya 25 unit di 2019, sempat melonjak ke 5.270 unit di 2025 (0,7 persen), namun per Maret 2026 hanya terdistribusi 1.510 unit.

ICE Non-KBH2 (Mobil Bensin Umum): Ini adalah segmen yang paling terdampak. Dari 814.641 unit di 2019, terus tergerus hingga menyisakan 128.590 unit per Maret 2026 (pangsa 61,5 persen).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!