EREV: Jalan Tengah yang Diam-Diam Jadi Jawaban Industri Otomotif

Jum'at, 01 Mei 2026 - 14:24 WIB
Data tahun 2026 mulai menunjukkan arah yang jelas. Di China, EREV kini sudah menguasai lebih dari 12 persen pasar kendaraan listrik. Bahkan pada kuartal ketiga 2025, penjualannya sempat menembus lebih dari 100.000 unit per bulan.

Di sisi lain, pertumbuhan mobil listrik murni mulai melambat. Tidak lagi melonjak seperti beberapa tahun sebelumnya.

Industri mulai realistis. Tidak semua negara siap langsung beralih ke mobil listrik penuh.

Terutama negara berkembang seperti Indonesia. Infrastruktur charging belum merata. Perjalanan jarak jauh masih menjadi kekhawatiran utama konsumen.

EREV hadir sebagai solusi praktis. Tidak lagi sekadar soal efisiensi bahan bakar. Kini ia juga bicara soal performa dan fleksibilitas penggunaan. Pabrikan Eropa pun mulai mengubah strategi. Volkswagen dan Audi, yang sebelumnya sangat fokus pada BEV, kini mulai memasukkan EREV dalam rencana produk mereka.

Mereka menyiapkan lebih dari 20 model elektrifikasi baru pada 2026. Sebagian di antaranya adalah EREV. Ini sinyal penting bagi industri global.

Pasar tidak lagi hanya mengikuti idealisme teknologi. Pasar mulai mengikuti kebutuhan nyata konsumen.

Indonesia sendiri mulai menunjukkan sinyal awal. Changan sudah memberikan teaser Deepal S05. Model ini bukan hybrid biasa. Ia menggunakan sistem EREV.

Artinya arah perkembangan sudah mulai terlihat. Mengapa EREV mulai unggul? Jawabannya sederhana, tapi sebagian akan setuju.

Pertama, pengalaman berkendara yang sepenuhnya elektrik.

Tidak ada perpindahan gigi.

Tidak ada hentakan tenaga.

Semuanya halus seperti mobil listrik murni.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!