Honda Kaget, Volkswagen Belajar: China Kini Jadi Guru Industri Mobil Dunia
Rabu, 03 Juni 2026 - 13:30 WIB
Tujuannya bukan membeli pabrik. Bukan membeli saham. Tapi membeli akses teknologi software dan sistem mengemudi otomatis.
Karena mereka merasa terlalu lambat mengembangkannya sendiri.
Stellantis juga berubah. Mereka menandatangani kerja sama senilai 1 miliar euro. Setara sekitar Rp20,6 triliun. Dengan Dongfeng. Mobil China bahkan akan diproduksi di Eropa.
Situasi yang sulit dibayangkan sepuluh tahun lalu. Namun bukan berarti China tanpa masalah. Pasar domestik mereka mulai melambat. Perang harga membuat margin keuntungan menipis.
Kapasitas produksi terlalu besar. Mobil terlalu banyak. Persaingan terlalu keras. Karena itu mereka keluar. Menyerbu pasar dunia. BYD. Chery. SAIC. XPeng. Geely. Satu per satu.
Masuk Eropa.
Masuk Timur Tengah.
Masuk Amerika Selatan.
Masuk Asia Tenggara. Termasuk Indonesia.
Jaecoo 7 hanya dalam 14 bulan sudah menjadi salah satu mobil baru terlaris di Inggris. Jaecoo J5 juga memimpin penjualan mobil listrik di Indonesia lebih dari 4 bulan berturut-turut.
Padahal mereknya nyaris tidak dikenal sebelumnya.
Sepanjang 2025 penjualan mobil di Indonesia turun. Tapi, pangsa pasar mobil China di Indonesia naik lebih dari 2x. Sudah tembus 15% (113.258 unit) di 2025 dari hanya 6,2% di 2024.
Amerika memang masih menutup pintu. Tarif impor mobil China di sana bisa lebih dari 100 persen. Tapi dunia lebih luas daripada Amerika. Dan China tahu itu.
Analis otomotif Bill Russo punya kesimpulan menarik. Kesalahan terbesar dunia Barat adalah mengira transisi ini hanya soal mobil listrik. Padahal bukan. Ini soal siapa yang akan memimpin teknologi mobilitas generasi berikutnya. Dan saat ini. Pusat gravitasinya sudah bergeser. Ke China.
Karena mereka merasa terlalu lambat mengembangkannya sendiri.
Stellantis juga berubah. Mereka menandatangani kerja sama senilai 1 miliar euro. Setara sekitar Rp20,6 triliun. Dengan Dongfeng. Mobil China bahkan akan diproduksi di Eropa.
Situasi yang sulit dibayangkan sepuluh tahun lalu. Namun bukan berarti China tanpa masalah. Pasar domestik mereka mulai melambat. Perang harga membuat margin keuntungan menipis.
Kapasitas produksi terlalu besar. Mobil terlalu banyak. Persaingan terlalu keras. Karena itu mereka keluar. Menyerbu pasar dunia. BYD. Chery. SAIC. XPeng. Geely. Satu per satu.
Masuk Eropa.
Masuk Timur Tengah.
Masuk Amerika Selatan.
Masuk Asia Tenggara. Termasuk Indonesia.
Jaecoo 7 hanya dalam 14 bulan sudah menjadi salah satu mobil baru terlaris di Inggris. Jaecoo J5 juga memimpin penjualan mobil listrik di Indonesia lebih dari 4 bulan berturut-turut.
Padahal mereknya nyaris tidak dikenal sebelumnya.
Sepanjang 2025 penjualan mobil di Indonesia turun. Tapi, pangsa pasar mobil China di Indonesia naik lebih dari 2x. Sudah tembus 15% (113.258 unit) di 2025 dari hanya 6,2% di 2024.
Amerika memang masih menutup pintu. Tarif impor mobil China di sana bisa lebih dari 100 persen. Tapi dunia lebih luas daripada Amerika. Dan China tahu itu.
Analis otomotif Bill Russo punya kesimpulan menarik. Kesalahan terbesar dunia Barat adalah mengira transisi ini hanya soal mobil listrik. Padahal bukan. Ini soal siapa yang akan memimpin teknologi mobilitas generasi berikutnya. Dan saat ini. Pusat gravitasinya sudah bergeser. Ke China.
(dan)
Lihat Juga :